[singlepic id=107 w=320 h=240 float=left] “THE sun it self cant see the heaven before its getting clear” ujar Paige Morgan dalam salah satu scene film Prince and Me besutan sutradara Martha Coolidge. Film yang saya pikir sebagai dongeng di dunia modern ini selalu menjadi referensi saya ketika saya sedang merasa galau akan makna love, terutama bagi diri ini. Bagaimana Paige Morgan (Julia Stiles), seorang mahasiswi cantik, cerdas dan mandiri tiba-tiba merasa gagap ketika seorang pangeran Denmark ganteng bernama Eddie yang muncul sebagai mahasiswa biasa di John Hopkins University. Begitupun sebaliknya, bagi Eddie (Luke Mably), seorang putra mahkota yang nakal, selalu berfoya-foya mendadak menjadi pangeran yang matang dan bertanggungjawab ketika kecantikan Paige meluruhkan hatinya. Artinya apa? Ada cairan kimia yang menggelegak dalam hati dua insan ini.
Dalam bahasa tubuh, chemistry itu mulai bereaksi melalui tatapan penuh arti Paige maupun senyum Eddie! Butterfly Effect, istilah jatuh cinta selain rekasi kimia itu juga terjadi tatkala mereka berdua saling bertatapan, berpegangan tangan bahkan berciuman mesra!
Rasa-rasanya, reaksi kimia itu pernah saya rasakan baik ketika di high school maupun di universitas. Dan sampai sekarangpun rasa itu masih ada walau tidak pernah tersampaikan! Dan saya menjadi mengerti bagaimana rasa itu, bagaimana saya menjadi tidak berdaya ketika dia datang dan memberi saya senyuman! Yang menjadi pertanyaan sampai kapan rasa ini terpendam, hidup tanpa mengetahui jawaban seperti tidak ada harapan. Pernah terlintas untuk menyatakan perasaan ini karena saya merasa ada beban apabila tidak dinyatakan, lebih baik ditolak kan daripada tidak mengetahui sama sekali.
Hanya saja masalah besarnya adalah cinta itu tidak akan mungkin terjadi! Saya tidak mungkin menceritakan bagaimana alasannya disini. Yang pasti, akan terjadi masalah dimana-mana! Dan saya tidak mau itu terjadi. Lebih jelasnya diibaratkan kondisi saya mirip si Paige Morgan dalam artian studi saya dalam masa suksesi, prestasi saya bisa dibilang tidak biasa-biasa aja, karir saya punya prospek dan punya bisnis yang menjanjikan serta ada banyak impian dan ambisi untuk dikejar. Saya tidak ingin ada gangguan, no destruction saat ini, tapi kenyataan berbicara lain ada gelombang besar bernama LOVE yang menggoyahkan segala keyakinan saya. Saya tidak ingin goyah tapi juga tidak ingin mengebiri rasa ini.
Pasalnya saya pernah berada dalam kondisi ini dan kemudian berusaha menyatakannya walau secara implicit, namun jadinya apa… masalah besar menghadang! Hearth break is the cruel! Apalagi jika kemudian orang-orang disekitar sudah mulai angkat bicara, rasanya life is unhandled! Yang kemudian malah tambah complicated karena dignity saya kemudian luruh. Rasanya saya ingin escape dari semua itu, dan its being reality dengan saya pergi dari Jogjakarta menuju Jakarta. I feel so hurt ketika itu and I choose to escape my self from love reality.
Jadi saya benar-benar bingung jikalau suatu saat saya ditodong pertanyaan “udah punya pacar belum” karena ya itu tadi saya tidak punya bravery untuk mengungkapkan love to someone special! Jadinya saya hanya bisa mengungkapkan I don’t know! I Have No Idea! Mungkin yang terbaik bagi saya sekarang dan seterusnya adalah try to quiet, diam dan menyimpannya rapat-rapat! Karena saya tidak ingin suksesi itu hancur berantakan. Lebih baik saya terus mengejar impian itu, menyimpan hormon bergejolak itu dan menyalurkannya ke energi positif walau dalam hati rasa itu terus bergemuruh mencoba menjawab tantangan waktu, sampai kapan saya mampu bertahan!
“I guess it means Love blinds you and if you’re in love you can’t think reasonably” lanjut Paige, artinya kalau berbicara masalah cinta memang gila, akal sehat dan nurani menjadi buta! Jadi lebih baik jka saya menjawab Relationship? I Have No Idea!

