Catatan Harian

Let The Karma Do The Work.

Written by Saomi Rizqiyanto

Tenggorokanku tercekat sakit, bukan karena kopi yang dingin atau martabak yang panas, tapi karena kenyataan pahit, bahwa tidak selamanya perbuatan baik kepada seseorang akan berbalas kebaikan dari seseorang itu. Bukannya perhitungan, tapi dari banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, atas dasar “teman baik”, tiba-tiba dibalas dengan perkataan menyakitkan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temenmu tuh, taik”. Omongan ini kayak mengiris hati yang sudah terluka, dan cukup untuk membuatku kemudian berkata “biarin ajalah, let the karma do the work”

Dia orang pertama-tama yang mengajak berkenalan, bertanya-tanya tentang saya, dan kemudian mengajak makan siang. Lalu kemudian menjadi akrab, dan menjadi satu sirkel pertemanan dengan kawan-kawan dari Angkatan CPNS 21. Kita sering jalan bareng dengan sirkel pertemanan yang lain, sering makan bareng, sering masak-masak bareng, upacara bareng, sering singgah di kontrakan legend Lingkungan Tulu. Saya termasuk yang paling sering “feeding his ego” karena sebenarnya omongan dia sangat “kering” akan “wisdom”, yang ada hanyalah ajang pamer keilmuan, tapi saya tetap beri ruang dia untuk berpendapat dan berceramah tentang ilmu peternakannya.

Kemudian dia terkena musibah, kami sebagai temannya pada waktu itu cukup kaget, karena baru saja nongkrong dan ngobrol sampai jam 12 malam. Ayahnya berpulang. Saya memang tidak dimintai tolong oleh yang bersangkutan untuk turut menghantarkannya sampai rumahnya yang beda provinsi, tapi teman-teman yang lain meminta pendapat sama saya “bagaimana pak, apakah kita temani dia”, saya bisa saja bilang “besok saya ada kuliah” atau saya sedang tidak enak badan. Tapi karena saya anggap dia “teman”, saya bilang saja, “ya boleh deh kita temani dia”. Akhirnya kami berempat “membelah” Sulawesi dari jam satu malam, hingga jam 12 siang dengan jalanan Sulawesi yang berliuk dan menguras isi perut  saya karena mabok darat. Menemani dia yang tengah berduka, menghantarkan mendiang ayahandanya ke liang lahat, menginap beberapa hari di rumahnya dan meninggalkan dia setelah dia pulih. Apakah Ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik” dia tidak mengingat ini.

Kami masih berkawan, masih sering bercanda, masih sering jalan bareng dengan sirkel yang lain. Sampai suatu ketika, dirayakanlah ulang tahunnya di rumah saya dengan acara tiup lilin dan kejutan ala-ala anak muda yang lain. Saya senang rumah saya dijadikan tempat untuk membina pertemanan dan kisah cinta anggota sirkel pertemanan. Walaupun dia pernah update status “rumah hasil sumbangan dari mertua dan suami tipikal mokondo karena gaji istri lebih besar” tidak apa-apa sampai kemudian dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik” apakah dia tidak mengingat acara ulang tahun bertiup lilin dan sorak sorai sirkel ini.

Kami masih berteman, masih sering kirim DM lelucon seksual di Instagram, masih sering ngongkrong bareng. Suatu ketika, dia pernah minta tolong untuk menghapus foto-foto nongkrong kami di Instagram, katanya takut mantannya kepo dan mencari-cari tahu tentang dirinya di akun Instagram saya. Hal yang remeh untuk saya kabulkan permintaannya dengan mengarsipkan foto-foto kenangan perjalanan kami. Kemudian dia minta tolong lagi untuk saya bantu dia perbaiki tablet adiknya yang rusak. Karena kebetulan saya di Jakarta, saya rela-rela bawa mobil macet-macetan dari Cakung hingga Cempaka Putih untuk membawa tablet itu ke authorized service centre, untuk diperbaiki. Saya rela-rela juga datang lagi seminggu kemudian untuk mengambil dan mengirimkannya ke Sulawesi. Saya lakukan ini karena merasa kami teman. Apakah dia mengingat ini ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik”.

Kami masih berteman, masih sering melempar jokes di group whatsapp. Saya menjadi saksi bagaimana dua insan saling mencintai ini saling mencari tahu pasangannya melalui saya, tempat bertanya tentang masing-masing karakter dsb. Hingga dalam perjalanannya mereka kemudian menikah dan mengundang kami semua dalam sirkelnya untuk datang ke pernikahannya. Saya rela-rela membelah Sulawesi, untuk hadir di pernikahannya. Pernikahan yang tidak ada satupun teman fakultasnya hadir, hanya kami, teman satu sirkelnya yang hadir. Saya juga rela-rela, untuk kemudian diminta untuk jadi rombongan keluarga dari mempelai laki-laki. Memang kami tidak diminta oleh mempelai laki-laki, tapi mempelai Perempuan meminta kami jadi rombongan karena rombongan laki-laki sangat sedikit. Kami melakukan itu nyata-nyata karena kami sebagai teman. Apakah dia mengingat ini ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik”.

Layaknya kehidupan pasti ada yang berubah. Perubahan itu bermula ketika pasangan ini memiliki putri cantik. Kami satu sirkel sangat senang dengan berita ini. Mereka secara nyata memperlihatkan dongeng kehidupan yang nyata. Hingga suatu masa mobil hitam dengan palet merah di sisi mobil itu sering sekali datang  untuk menitipkan bayinya di rumah teman, mobil itu wara wiri di samping rumah yang menjadi saksi bisu ulang tahun potong kue penuh kejutan. Sebagai pemilik rumah sering sekali menyaksikan mobil itu lewat sambil menyiram tanaman tapi sedikitpun tidak pernah terdengar klakson mobil atau sapaan jendela terbuka dari mobil itu. Mungkin sibuk dan tidak ngeh saya ada di kebun. Ujarku dalam hati. Dua tiga kali juga ketemu di Alfamidi, tapi mereka terkesan menjauh dan menghindar. Ya gak papa, orang boleh kok berganti teman, saya tetap menyapa.

Saya mulai mengambil sikap untuk tidak terlalu dekat. Tidak lagi mengajak ke pertemuan-pertemuan sirkel kami. Mungkin mereka merasa, saya menjauh, si pria mulai tuh mencoba berbasa basi, itupun dilakukan di ruang, dimana itu tempat saya kerja. Gak mungkin dia tidak berbasa basi. Tapi saya sudah berjanji untuk menjaga jarak, saya diamkan. Ego dia sebagai golden boy tersayat. Emosinya meledak, hingga suatu ketika, mereka berkata dalam suatu acara idul adha di rumah teman “kami sudah tidak berteman lagi dengan Pak Saomi”. Suatu ucapan yang membuat saya semakin membekukan hati, menutup rapat pintu social media dan oke, inikah yang mereka inginkan.

Silent treatment yang saya lakukan ternyata memanaskan ego sang golden boy ke level mendidih. Puncaknya dalam suatu acara yang saya memang tidak diundang, karena ada upaya teman-teman untuk mencairkan suasana, dia dengan terang-terangan mengatakan “emang dia siapa, prestasinya apa, posisinya apa, bilangin tuh sama temanmu, taik”. Suatu ucapan yang kemudian membuat saya ingin menjawab dengan kebenaran pahit. Emang dia siapa? Saya temanmu, yang ikut menghantarkan bapakmu hingga ke peristirahatan terakhir, saya temanmu yang menghantarkan dirimu ke pelaminan, saya temanmu yang rela perbaiki tablet adikmu ke tempat servis, saya juga yang rela membuang kotoran kucing punya adikmu. Emang prestasinya apa? Saya orang biasa, yang masih berproses menjadi lebih baik dari sisi karir dan pekerjaan. Emang posisinya apa? Saya pemilik rumah yang menjadi saksi bisu ulang tahun potong kue penuh kejutan, saya pemilik honda beat karbu yang menjemputmu sepulangmu dari rumah istrimu. Jawaban itu tidak saya ungkap secara publik, cukup saya bilang “biarkan sajalah, let the karma do the work”.

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment