Catatan Harian

FRIENDSHIP, IS NOT LONGER EXIST

[singlepic id=109 w=420 h=340 float=center]

Banyak orang bilang pada saya bahwa saya asocial, sangat individualistic, dan sangat self center. Mengcounter pernyataan itu saya hanya mengatakan ya memang saya sangat individualistic, salah yah kalau saya individualist? Lalu kemudian muncullah jawaban dengan berbagai macam teori mengenai perilaku manusia, dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk social hingga doktrin agama yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal. Dari kesemua teori itu direduksi untuk membuat sebuah judgement atau penghakiman bahwa tindakan saya salah dan kemudian patut untuk diberi hukuman! Reaksi saya adalah sejauh teori itu berlandaskan keilmuan dan fakta dilapangan dan kemudian doktrin agama itu juga untuk kebaikan, maka saya sejatinya mengamini bahwa teori-teori itu memang benar.

Akan tetapi sebagai individu yang berpikir kritis, saya selalu membenturkan teori dan text agama itu kepada realitas yang ada sekarang, terutama pada diri ini, sesuaikah teori itu dengan realitas yang ada? Bagaimana dengan perilaku social yang ada pada masyarakat kebanyakan sekarang, apakah bersosialisasi itu menjadi kebutuhan atau hanya sekedar memenuhi kepentingan individu semata? Pertanyaan itu semua menjadi suatu hal yang harus dijawab karena menentukan sikap dan pemikiran diri ini kedepan.

Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada pada kondisi kritis. Saya pada posisi low point ketika menyaksikan bahwa jalinan pertemanan itu tampak bagai fatamorgana yang mengundang, tapi sesungguhnya sangat gersang dan tidak menarik perhatian. Saya menemukan banyak gambar yang mengabadikan momen-momen yang sangat indah mengenai pertemanan, ada banyak tawa, canda dan kebersamaan yang begitu intim. Karena picture tells a thousand words, maka saya percaya akan hal itu, tapi lagi-lagi mengamati kondisi diri ini, foto-foto itu terlalu jauh dari jangkauan, tidak membumi istilahnya, karena apa yang saya alami tidak seperti itu.

Dalam rentang usia saya, selama 22 tahun saya menemukan banyak teman dalam hidup, ada teman yang baik, ada yang buruk, ada yang hanya mengandalkan kepentingan semata tapi ada juga yang menjadi teman berkeluh kesah. Namun saya belum pernah menemukan kesejatian dalam pertemanan. Yang saya lalui biasanya berteman dengan orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi. Dalam kata lain, dia tiba-tiba dekat hanya karena ingin minta bantuan. Ini jenis pertemanan yang umum dan dialami oleh semua orang. Saya biasanya menyikapinya dengan santai, sesekali boleh tapi kalau sudah berkali-kali, no way!

Jenis pertemanan yang paling saya benci adalah ketika ada beberapa orang yang baru kita kenal terus tiba-tiba dia minta bantuan yang besar sedangkan dia tidak memberi apresiasi sedikitpun. Artinya hanya memanfaatkan dalam jangka pendek. Orang asing yang merepotkan. Sikap saya acuh tak acuh dan tidak akan memedulikannya lagi.

Sejatinya memang pertemanan untuk saling membantu, saling meringankan beban dsb. Tapi kalau kemudian pilar kepentingan lebih ditonjolkan daripada asas kebersamaan saya sangat menolak pilar itu. Ada orang yang mengatakan “lho gunanya temenkan memang untuk dimintai tolong” iya itu kalau dalam batas yang wajar, tapi kalau melebihi batas saya anggap keterlaluan.

Yang paling menyedihkan adalah kalau sahabat kita juga melakukan hal yang seperti itu. Saya tidak akan segan-segan untuk menolong teman saya semampu saya membantunya, asal pertolongan itu tidak dikonversi untuk kepentingan temannya sahabat saya. Saya selama ini berprinsip bahwa saya biasanya meminta tolong untuk kepentingan saya bukan untuk kepentingan teman saya. Sehingga kalau sahabat saya meminta tolong untuk meringankan teman sahabat saya, biasanya saya melakukannya dengan berat hati. Sangat dilematis.

Apalagi kemudian yang paling menyebalkan adalah kepentingannya itu disalurkan demi kebahagiaan pacarnya. Huh! Paling sebel saya! Kalau pertolongan itu dibutuhkan saat dia kritis dengan pacarnya saya akan bantu toh itu untuk kepentingannya. Tapi kalau pertolongan saya untuk menambah nilai plus trus untuk memamerkan kemesraan di depan public, saya benar-benar sebal! Ibarat kata dia meminjam kamar saya untuk bermesraan, saya sangat nggak suka. Please get the room!

“pada akhirnya kita semua akan sendiri, teman dan keluarga menjadi tidak berarti” ungkap sebuah kuotasi dalam film. Saya setuju dengan argument itu. Bahwa saat inipun saya sendiri, tidak ada teman yang benar-benar ikhlas menjalin pertemanan. Kalaupun ada biasanya dia lebih senang membantu pacarnya dengan merepotkan kita atau membantu temannya yang lain dengan memberatkan saya. Kalau sudah seperti ini pantas kalau saya berbicara “friendship is not longer exist”.

About the author

saumiere

5 Comments

Leave a Comment