Catatan Harian

Ramadhan dan Refleksi Sosial

Saya semang selalu menekankan baik pada diri ini maupun orng lain, bahwa hendaknya, Ramadhan dijadikan momentum untuk lebih merefleksikan diri, sejauh mana bentuk keberagamaan masing-masing diri kita ini, apakah temasuk orang abangan atau hamba yang bertakwa! Kalau saya selalu melakukan refleksi itu, refleksi keberagamaan bukan refleksi prestasi yang selalu kita lakukan akhir tahun!

Dan akhirnya refleksi itu datang juga, walau sedikit meleset karena yang datang dan justru mendewasakan diri ini adalah refleksi kehidupan social saya! Terhadap ibu saya, teman-teman saya dan keloga saya! Tetapi kalau dipikir-pikir, ini ada berkaitan erat dengan keberagamaan saya sendiri!


Pertama, awal ramadahan ini saya geger-geger dengan ibu saya karena ibu saya selalu menyuruh saya shalat lima waktu tepat waktu di masjid! Untuk shalat lima waktu sendiri sih sejatinya memang harus saya lakukan meningat itu standar untuk mengukur ketaatan seorang hamba! Shalat di masjid juga bukanlah yang buruk dan bahkan mungkin terbaik untuk mengikatkan tali ukhuwah di kalangan jamaah masjid! Tapi yang menjadi masalah adalah kemalasan saya dengan segudang alasan sok penting lainnya! Saya selalu membantah amanat itu dan akhirnya beliau mengatakan kecewa sama saya! Suatu kekecawaan yang pernah di ucapkan oleh ibu saya! Namun itu memberikan bekas yang sangat dalam bagi diri ini! suatu kekecewaan dan kesedihan!

Kedua, pertemanan saya dengan kelompok elit memuncak ramadhan ini, mereka, Chabibie, Armis, Luthfi dan Fawzie datang ke kostan saya, menginap di kostan saya, nonton film sampe larut, sahur bareng, ngomongin ini itu sampe akhirnya memutuskan suatu aksi untuk menggoyang The Smarties! Saya sendiri sih tidak pernah merencanakan itu semua, dan itu berarti datang atas inisiatif mereka sendiri! Dan kemudian suatu hal yang tidak terduga itu datang! Salah satu dari popular girl membicarakn hal diluar konteks yang itu membuyarkan semua lamunan saya atas kelompok elit! Persahabatan semalam itu bubar!

Ketiga hubungan saya dengan kolega kerja juga ikut-ikutan memburuk, mungkin akibat bad mood gue, sehingga salah seorang yang memunculkan guyon turut memancing luka!

Sepanjang Ramadhan saya hanya bisa menangisi hal ini, ketiga hubungan ini yang menurut saya sangat berharga.

IdulFitri menyembuhkan luka

Dan idul fitri kemudian datang, dan seakan membisiki diri ini untuk mengakhiri segala kerancuan hubungan ini. saya sadar saya salah dan kemudian permaafaan dengan ibu say adalah sutu hal yang wajib, disertai sebuah pengakuan penyesalan!

Dengan kelompok elit, mungkin sudah menjadi takdir bahwa saya termasuk golongan socialite kampus namun saya tidak bergaul dengan mereka! Kalaupun kenal, cukup kenal, kalaupun mau berhubungan baik, ya saya hargai.

Ingat perkataan Dr. Katherine Watson dalam film MonLisa Smile “saya tidak percaya pada suatu hubungan tapi saya percaya pada itikad baik”

About the author

saumiere

Leave a Comment