Catatan Harian

Panggilan Orang Tua, antara Nyak Babe dan Mom Dad

Written by Saomi Rizqiyanto

Jadi ceritanya begini, sabtu pagi Hanif datang ke kostan dan mengajak saya untuk berenang. Saya dengan senang hati menerima tawarannya, tak lupa, Hanif juga mengajak Akhwani, dan Doni, dua teman kami se LPM dulu.  Sembari menunggu kedua temenku itu, Hanif dengan asyiknya ber sms ria dengan Shita, istrinya. Recently, saya baru sadar kalau Hanif dan SHita saling memanggil satu sama lain bukan dengan panggilan sayang seperti biasa, tapi sudah menggunakan mamah dan papah. Something that I thought it was funny.

“idih udah pake mamah dan papah sekarang” aku sedikit meledek tanpa maksud yang lebih jauh. Hanif hanya menjawab santai bahwa semenjak mengetahui kalau Shita hamil, mereka berdua memutuskan untuk membiasakan diri dengan panggilan mamah dan papah agar nanti ketika si kecil sudah lahir, mereka sudah tidak canggung lagi dengan panggilan itu. Saya yang tadinya tertawa kecil, akhirnya tersenyum paham bahwa “things change” sesuatu berubah. Dan perubahan pada diri seorang pria adalah tatkala ia sudah memutuskan untuk menikah.

Dalam penilaian saya, Hanif sudah berubah dalam artian, selain usia, karir dan pernikahanya yang sudah semakin mapan, perilaku dan penampilannya juga sudah berubah. Ia semakin tenang dalam penampilan, yang saya catat juga shalatnya lebih rajin. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada diri seorang Armis, salah satu teman dekatku ini recently baru saja merayakan diri sebagai seorang Ayah setelah rabu kemarin, Kikka melahirkan seorang bayi laki-laki di Hermina. Sebagai seorang teman saya ikut senang karena ya, Armis dan Kikka saat ini sedang bahagia dan sepertinya sudah menemukan “happily ever after nya”

Hanya saja bedanya antara Hanif Shita dengan Armis Kikka adalah Hanif Shita membiasakan diri dengan panggilan Mamah Papah, sedangkan Armis Kikka membiasakan diri dengan panggilan Mommy and Daddy. Something different, karena Hanif Shita adalah kelompok ekonomi menengah baru sedangkan Armis Kikka sudah terlebih dahulu menikmati status ekonomi tinggi.

Ketika saya memention hal ini sewaktu makan siang bareng Hanif dan Akhwani setelah renang, Hanif dengan setengah bergurau mengomentari panggilan Mommy and Daddy yang menurutnya adalah hal yang janggal, menurutnya “orang biasa makan ikan teri aja manggilnya mommy and daddy” saya pun ikut tertawa mendengar hal itu, karena ya bisa jadi benar dan bisa jadi tidak.

Bisa jadi benar kalau panggilan mommy and daddy diletakkan dalam proporsi yang tepat. Artinya orang tidak akan memicingkan mata kalau ibu dan ayah dari seorang anak itu berpendidikan tinggi kalau perlu lulusan luar negeri, dan berkemampuan ekonomi yang tinggi, dalam kiasan tidak perlu banting tulang untuk sekedar menikmati santapan hotel kelas ritz carlton. Nah kalau ada orang yang hanya berkemampuan ekonomi pas pasan, dengan grade pendidikan lulusan sekolah menengah lalu membiasakan diri memanggil mommy and daddy, ya itu aneh walaupun itu hak seseorang. Aneh atau bisa jadi alay kata anak jaman sekarang.

Sorenya, secara tidak terduga Armis mampir ke kostan dan mengajak makan, saya ikut dan tidak lupu memention hal ini, lalu kata Armis, itu adalah pikiran orang Indonesia yang terbelakang, katanya dengan perkembangan jaman orang nanti juga bakalan lebih banyak memanggil dengan istilah mommy and daddy. Tapi pendirian saya tetap seperti diawal, hendaknya panggilan itu diletakkan pada bingkai kepantasan. Orang bolehlah mencari-cari alasan kalau itu perkembangan jamanlah inilah itulah, tapi harap diingat perkembangan jaman kan juga mengikuti kepantasan. Kalau dimasa mendatang kata-kata mommy and daddy sudah dipakai banyak orang, itu artinya kemampuan ekonomi mereka di masa mendatang juga semakin baik dan akhirnya menjadi pantas. Bukan begitu kompasianer…

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment