Catatan Harian

TIME TRAVELER’S SAUMI

[singlepic id=132 w=420 h=340 float=center]

Celebrating 1st Saumi Rizqiyanto Official Site Anniversary and 23rd Lifetime Achievement

PERJALANAN waktu selama 23 tahun jelas bukan waktu yang singkat, justru merupakan sebuah proses panjang terhadap pembentukan karakter diri ini. 13 Mei 2010 menandakan bergantinya usia, disana ada gurat retak kelemahan dan khilaf yang pernah terjadi, namun disana juga ada harapan dan optimisme untuk menyambut dan menyambung hidup ke arah yang lebih baik

Sepanjang tiga bulan terakhir, terhitung mulai mei sampai dengan juli, saya memang sangat disibukkan dengan proses suksesi studi yang memang menjadi tanggung jawab saya. Saya bergelut dengan banyak buku, menghabiskan banyak waktu di internet, mencetak paragraph demi paragraph, bab demi bab hingga akhirnya bisa menyelesaikan tugas akhir saya berupa skripsi. Sejatinya proses ini saya anggap sebagai pembelajaran yang berarti, yang bermakna bahwa bagaimanapun kita harus menghargai setiap orang-orang yang berilmu. Apapun jenis jenjang dan profesi kesarjanaannya, karena saya yakin dia juga mengalami seperti apa yang saya alami ketika menyusun skripsinya.

Dikarenakan kesibukan saya itulah saya melupakan satu hal terpenting tentang refleksi diri ini, terutamanya ketika saya memperingati hari lahir. Refleksi diri merupakan ritual penting yang harus saya jalani setiap tahunnya, karena saya bisa lebih mawas diri, melihat kekurangan-kekurangan, menentukan pilihan yang terbaik, dan lain sebagainya. Tentunya satu tahun yang lalu menyimpan banyak peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran, diambil hikmahnya dan memulai satu fase baru dengan niatan baru dan dengan sikap yang baru.

Refleksi ini dimulai dari citra diri yang saat ini tergambar. Apa sih gambaran yang ada saat ini pada seorang Saumi. Berbakat dan berwawasan luas jelas iya, tapi sejatinya diri ini lebih dikenal dengan sikap saya yang feminine, serampangan, selalu mengeluh dan tidak pandai bersyukur. Ada kesadaran dalam diri ini untuk mengubah semua itu, saya ingin menjadi lebih dewasa dalam bersikap, tidak serampangan, selalu melihat dari sisi positif dan selalu bersyukur atas rahmat Allah.

Prosesi wisuda yang lalu meneguhkan hal itu. Saya harus bersikap dewasa saat saya berada pada tarik menarik kepentingan keluarga, saya yang saat itu masih ingin menikmati proses wisuda dengan teman-teman harus rela segera meninggalkan kampus karena kondisi ibu saya yang capek. Waktu yang seharusnya saya habiskan untuk bercengkerama dengan keluarga harus dihabiskan dengan acara pamer peran dan fungsi seorang Faozan Amar. Kenapa sih dia harus memanggil banyak orang. Heran saya.

Prosesi wisuda kemarin juga menyadarkan diri ini akan kesendirian. Tiba-tiba saja saya gagap saat melihat tiga teman saya, Dadi, Chabibi dan Luthfi, masing-masing bertanya ceweknya bakalan datang atau enggak. Saat itu saya sadar… akankah selamanya saya melajang? Walaupun sesungguhnya jauh-jauh hari saya selalu sesumbar akan pilihan hidup “be single, be happy”. Lalu pertanyaannya kapan saya memiliki pacar, mengingat banyak orang yang sudah mulai membicarakan hal itu.

Beban pikiran lain yang menggelayuti pikiran ini adalah akankah saya bertahan di UIN. Pertanyaan ini berkaitan dengan masa depan saya. Setelah saya lulus dari UIN, harapan saya adalah segera bisa mendaftar pada perusahaan-perusahaan top Indonesia. Tapi baru-baru ini saya ditawari menjadi admin di Pusat Data dan Informasi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tawaran ini menjadi dilematis mengingat biasanya proses yang saya alami adalah, ketika saya menyelesaikan satu proses pendidikan, saya terbiasa hijrah untuk mencari suasana baru. Banyak orang berkomentar mengenai hal ini, ada yang ngomong kalau lebih baik tawaran di fakultas di ambil, sebagai batu loncatan. Nanti setelah itu kalau ada tawaran menarik yang lain baru dipertimbangkan. Tapi masalahnya guys, birokrasi di UIN yang njlimet serta pengupahan di UIN yang tidak manusiawi membuat saya harus berpikir dua kali. Kapan saya akan melakukan investasi kalau gaji saya rendah, kapan saya akan melakukan kursus bahasa Inggris kalau gaji rendah dan segudang pemikiran lainnya. Tapi pada hakikatnya saya ingin mencari suasana baru, adapun prosesnya, saya serahkan sepenuhnya pada alam.

About the author

saumiere

Leave a Comment