[singlepic id=117 w=320 h=240 float=left]Saya masih berumur belasan tahun ketika diri ini menjadi naïf, asal sesumbar bahwa sesungguhnya saya sangat individualistic. Padahal sejatinya kelakar itu sungguhlah bodoh, kenapa? Karena sebenarnya menjalin pertemanan dengan seseorang itu sangat indah. Mengetahui ada orang-orang disekitar yang mau mendengarkan dan berada disisi kita adalah anugrah bahwa we are not alone. Begitupun dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang kita cintai. Kebanyakan kisah cinta yang saya baca, saya tonton itu terasa sangat indah, ada passion to create something unbelievable, and that is due to by love each other. Oleh karenanya saya juga sangat naïf ketika dengan lantang mengatakan saya memilih jalan hidup celibacy, bahwa saya tidak percaya pada institusi pernikahan.
Kenaifan saya itu sesungguhnya hanya disebabkan karena saya tidak bisa meraih keduanya. I’m crying all night to realize that I was so stupid. Saya tidak punya teman-teman yang tiap hari bisa jalan atau berbagi cerita. Saya tidak mempunyai seseorang, somebody to love yang bisa diajak cerita bersama, atau yang paling praktis, makan siang bareng. No one! Until I always answered to everybody who asking to me about love and friendship, then I said “ I don’t know”. Dalam hal ini, statement saya itu saya anggap sebagai kewajaran.
Time is healing, waktu menyembuhkan luka yang terjadi, saya tumbuh dewasa dalam menit-menit yang saya jalani. Akhirnya saya lebih membuka diri bahwa tidak masalah apapun yang saat ini saya jalani. Yang lebih penting adalah saya tetap bisa bersyukur bahwa saya memiliki kehidupan yang indah. Ada satu dua atau tiga malah teman yang sejatinya peduli dan berteman sesuai dengan prinsip yang saya anut, menerima saya apa adanya. Bukan karena kepentingan semata. Teman yang sejati adalah mereka yang peduli ketika kita sedang dalam kesusahan. Bukan yang sekejap datang dan pergi.
Dan mengenai percintaan, saya masih tetap pada posisi semula, saya gak tahu! Mengetahui bahwa pernikahan ibu dan bapak saya tidak bahagia dan tidak berjalan sebagaimana mestinya adalah mimpi buruk sekaligus pembelajaran yang paling berarti, bahwa pernikahan apapun alasannya haruslah didasarkan pada cinta. Saya dikejutkan dengan sebuah pernyataan bahwa laki-laki tidak bisa dipaksa untuk mencnitai, tapi wanita bisa belajar untuk mencintai. Bisa setuju bisa jadi tidak, mengingat bahwa wanita juga mempunyai passion to love somebody. Kalau wanita kemudian lebih memilih alasan security, atau keamanan financial, maka ya pernikahan itu tidak didasarkan pada cinta, tapi pada alasan materi. They just love your money. Ada juga wanita yang memilih menikah hanya karena usianya yang mendekati 40 Tahun. Kalau alasan yang satu ini lebih pada pertimbangan memiliki keturunan. Kalau sudah begini saya tidak bisa mendebat karena memiliki keturunan adalah fitrah.
Dan minggu ini menjadi pertaruhan saya akan nilai itu. Ada mantan rekan kerja yang kalau dilihat dari fisik oke, gak ada yang kurang lah, secara ekonomi dia sudah berdikari, pendidikan sedang meneruskan S2 di Universitas Indonesia. Mencintai teman ceweknya nya yang sama-sama aktivis waktu di kampus. Tapi temen ceweknya itu memilih meninggalkan rekan kerja saya itu padahal dulunya berdasarkan informasi, mereka berdua sama-sama mencintai. Kalau sudah begini siapa yang salah. Bukannya membela rekan kerja saya, tapi jelas yang salah adalah temen ceweknya itu. Tidak mau berjuang mempertahankan cinta itu.
Ada lagi rekan saya, kali ini wanita, umurnya sekitar 30 an keatas. Minggu ini dia menikah. Dan ketika aku menghadiri pernikahannya, terasa berkat tuhan itu ada. Tapi gimana yah… kalau ini aku gak berani berkomentar. Rekan kerja dan suaminya itu memang sudah umurnya untuk menikah. Jadi bisa ditebakkan, pertimbangannya pada unsur usia jadi ya begitulah. Pusing dan rumit kalau memikirkan mengenai cinta itu sendiri. Apakah itu bagian dari nafsu untuk memiliki kesempurnaan fisik yang berasal dari rasa suka hingga cinta, atau bagian dari keamanan financial yang berawal pada rasa suka yang bertepuk sebelah tangan, yang sebelah tangannya lagi hanya menerima financial, atau masih bagian dari kuasa Ilahi. Itu yang saya tidak tahu.
Lalu kemudian saya ingat bisa jadi inilah kasih tuhan yang sesungguhnya. Ada banyak jalan untuk mencintai dan itu harus lahir dari lubuk hati yang dalam. Keluarga, persahabatan dan sekaligus sebuah hubungan bisa jadi semuanya didasari oleh rasa cinta. Dan salah stau Cinta yang kini sedang berkelebat dalam benak ini adalah, berbuat baik kepada setiap orang. Itu satu hal yang kini entah kenapa selalu terpikirkan oleh saya. Baik ketika diri ini beranjak tidur, ketika membaca buku atau menonton film. Apakah ini sebuah panggilan dan petunjuk ketika jiwa dan raga ini sepertinya gagap ketika mengartikan kata cinta.
Xoxo
Saumi

