[singlepic id=102 w=320 h=240 float=left]Saya benar-benar terenyuh ketika mendengar khutbah jumat pekan ini. Sang khatib dengan semangat menggebu-gebu mengomentari drama Cicak Vs Buaya yang kini tengah menjadi perhatian masyarakat luas. Sang khatib yang masih terbilang muda ini mengatakan bahwa di negeri ini keadilan memang sedang dipertaruhkan. Apakah negara ini masih bisa adil tatkala Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto yang tengah melasanakan tugas mengusut kasus suap yang dilakukan Anggoro tiba-tiba ditangkap dengan dasar hukum yang berubah-ubah. Sementara Anggodo yang rekamannya diperdengarkan oleh jutaan orang yang menontonnya dilepaskan begitu saja dengan alasan belum cukup bukti. Keadilan macam apa ini? Mungkin pendapat orang berbeda-beda, dalam kacamata hukum mungkin yang dilakukan Polri ada benarnya, tapi dari logika umum, siapa yang berani mengatakan bahwa Anggodo benar, saya yakin 100% semua rakyat Indonesia yang punya hati nurani pasti mengatakan Anggodo salah! Dan harus dihukum seberat-beratnya.
Untuk selanjutnya, sang Khatib yang sempat membawa jejaring social facebook dalam materi khutbahnya, seperti biasa layaknya khatib-khatib lainnya mengupas masalah ini dari sudut pandang agama, mulai dari ayat-ayat suci alquran sampai hadis nabi. Sebagai salah satu jemaah yang mendengarkan khubah itu saya jadi memikirkan kembali arti keadilan yang sesungguhnya. Terutama dalam kaitannya dengan diri ini. Bahwa sang khatib yang menyatakan tuhan maha adil, saya selalu memungkirinya. Ya… mungkin pembaca terkejut dengan statemtn ini, tapi inilah sesungguhnya! Berdasarkan refleksi religi saya, saya sering berkata bahwa tuhan tidak adil. Jumat ini menjadi pertaruhan saya akan nilai keadilan itu.
“bahwa kita sering tidak mensyukuri nikmat Allah, kita sering berkeluh kesal bahwa tuhan tidak adil, betapa piciknya kalau ada orang yang mengatakan itu” sebut suara yang menggaung di mimbar jumat minggu ini! Saya langsung teringat peristiwa-peristiwa minggu ini yang sempat menggiring saya untuk berkeluh kesah seperti itu. Mulai dari kecilnya fee yang saya terima dari salah satu majalah padahal porsi kerja saya cukup berat! Gagalnya diri ini masuk nominasi 10 besar kompetisi blog yang diadakan oleh agency internasional sampai rebutan hak milik property organisasi berupa laptop yang kini dibawa sama orang yang sebenarnya tidak terlalu berhak membawa property itu.
Ya allah betapa sering saya mengucapkan “walaupun saya Cuma nerusin template orang, tapi kan saya yang finishing, mulai dari perubahan layout foto, ngubah tipe foto dari RGB ke CMYK, sampai package all document, sampai-sampai coverpun saya desain ulang! Tapi kok dapetnya dikit sekali benar-benar tak adil” ujar saya saat itu. Ungkapan rasa ketidakadilan itu juga sempat terlontar tatkala diri ini tidak seberuntung yang lain mendapatkan beasiswa DIPA! Puncaknya kamis kemarin tatkala nama ini tidak masuk sepuluh besar pemenang Kompetisi Blog EducationUK yang diadakan British Council! “benar-benar sial” rutuk saya saat itu.
Sekilas memang tampak wajar, tapi sebenarnya itu puncak gunung es atas segala kekesalan diri ini pada kondisi yang saya nilai tidak adil! “saya sudah berusaha sekeras mungkin tuhan, tapi kenapa aku dapat begiu sedikit” ratap diri ini. Ujung-ujungnya memang ketidakpuasan atas kondisi diri ini. Banyak teman-teman saya yang saya yakin punya kompetensi yang tidak layak, tapi kenapa begitu cepat mendapat sesuatu yang mereka inginkan! Kenapa tuhan kenapa? Saya sudah melakukan serangkaian ikhtiar tapi kenapa belum ada hasilnya? Ujar manusia paling berdosa ini.
Lalu kemudian, khutbah jumat ini seakan menyadarkan saya akan satu hal, Saya belum pantas mendapatkan keadilan itu! Ibarat sebuah barang dagangan, nilai rahmat dan keridhoan Allah melalui keadilan terlalu berharga untuk sekedar ditukar dengan usaha manusia, apalagi usaha itu bersifat non religi, dalam artian tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai agama. Jadi mungkin saya harus mulai memalingkan diri ini pada sesuatu yang sesungguhnya berharga. Saya harus mulai mendekatkan diri ini pada sang pemilik keadilan hakiki, Allah yang Maha Adil!


merinding membaca postingan ini hingga akhir.
.
yang tertulis di sini sama persis dengan apa yang saya alami.
Ya gitu deh, setiap manusia pasti pernah mempertanyakan keadilan! Benar kan!
Wah, adil yang bagaimana lagi? Adil menurut kita, menurut orang lain, atau menurut Tuhan?
Adil menurut kita, kalau menurut Tuhan inilah yang terbaik tapi kan kita selalu berkeluh kesah benar begitu?