Catatan Harian

PUBLIC TOILET DISEASE

[singlepic id=70 w=320 h=240 float=left]Ada pengalaman kurang menyenangkan namun unik dalam perjalanan mudik dan balik pada holiday trip idul fitri kali ini. Dan sejatinya pengalaman ini sudah berulang kali terjadi tapi gw baru menyadarinya kali ini dan ingin segera menuliskannya. Sebenarnya malu juga sih menceritakannya tapi mau bagaimana lagi yah… pokoknya unik aja dan kalau aku ceritain semuanya bakalan gak pada percaya. Dan pastinya semuanya bakalan mentertawakan, but yups thats me! Satu keunikan lagi yang ada dalam diri gw.

Oke, ceritanya bermula dari nature call yang disebut pee… atau sering disebut Buang Air Kecil. Nah dikala perjalanan biasanya kan orang-orang mudik suka beristirahat di rest area untuk sekedar makan, istirahat, maupun buang hajat. Itu juga yang biasanya gw lakuin bareng keluarga Om gw, dua atau tiga kali berhenti di rest area dalam perjalanan mudik untuk melepas penat dan biasanya bagi cowok, pasti ada aja kebutuhan untuk pergi ke toilet! Untuk pee tentunya atau ada juga sih yang membersihkan muka.

Toilet-toilet yang ada di male room biasanya hanya terdiri dari 2 atau 3 kamar mandi selebihnya terdapat urineoir (tempat kencing untuk cowok yang dilakukan sembari berdiri di tempat terbuka). Nah bagi yang hanya ingin pee, bagi para cowok biasanya hanya tinggal berdiri dan membuang hajatnya, namun kenapa ya bagi gw kayaknya hal itu selalu susah untuk dilakukan. Walau sudah berdiri dan (maaf) sudah bersiap2 membuang urin, selalu saja urin itu susah keluar! Sudah berdiri bermenit-menit sampai pernah 15 menit tetap saja tidak keluar! Saya selalu tersiksa dengan keadaan ini, yang akhirnya biasanya membuat saya mengantri panjang di kamar mandi. Hmm sindrom yang gw derita ini selalu terjadi dalam perjalanan gw, baik mudik atau pun trip biasa yang gw lakuin, selalu susah buang urin di urineoir dan dengan sangat terpaksa harus ke kamar mandi! Gw selalu berpikir tegang ketika itu, takut kelihatan atau gimana, apa gw terlalu sensitif seperti wanita… ah… God, jangan hal itu lagi dunk. Tapi sudahlah itu bagian kecil dan menarik yang patut di share dengan pembaca di blog ini.

REFLEKSI IDUL FITRI

Terus gw mau cerita apa lagi yah… hmm, ada refleksi baru pada idul fitri kali ini, pas acara arisan keluarga gw melihat banyak perubahan yang terjadi pada bagian-bagian keluarga besar Amar! Yang pertama dan paling terlihat mencolok adalah Om gw, Fauzan Amar pulang kali ini dengan mobil sendiri, biasanya kan dia sewa atau menggunakan mobil kantor, tapi tahun ini dia bawa sendiri. Suatu cita-cita atau impian almarhum kakek gw yang akhirnya kesampaian walau beliau sendiri sudah di alam baka sana! Terngiang perkataan ibu saya mengenai perkataan kakek yang ingin melihat salah satu anaknya (dari sepuluh) pulang lebaran bawa mobil!

[singlepic id=68 w=320 h=240 float=right]Yang kedua mengenai berita bahagia yang baru kali ini dialami tante Gw, semenjak keluarganya di Jakarta hancur berkeping-keping karena krisis 1997, hidupnya bersama 3 anaknya (Eko, Aldi dan Lulu) selalu membawa berita haru dan memperihatinkan. Kehidupan ekonominya selalu menjadi bahan perhatian keluarga besar! Namun tahun ini, kehidupan ekonominya membaik, semenjak diberikan tempat kios untuk berdagang di pasar, taraf kehidupan keluarganya membaik! Alhamdulillah sekali.

Yang ketiga, yang jadi bahan tertawaan kecil kami di ruang-ruang keluarga mengenai sepupu kami yang bernama Ummu Salamah yang akhirnya menikah dengan orang Jogja yang (maaf) dari segi rupa dan fisik jauh dari segi kepantasan dan kepatutan keluarga Amar. Bolehlah kata Lik Ida “kita punya pasangan yang dari segi fisik tidak terlalu sempurna tapi tolong donk perhatikan penampilan, jangan sampai pas idul fitri saat semuanya memakai pakaian yang pantas (bukan berarti baru) malah memakai pakaian seperti orang mau ke sawah” benar juga sih apa kata Lik Ida.

Ngomong-ngomong mengenai asas kepantasan dan kepatutan berpakaian jadi inget pembicaraan kecil saya dengan Neyni (adik saya), yang mentertawakan kebiasaan berpakaian orang-orang disekitar keluarga besar. Mulai dari Indah, Fiyan dan Nisa (anaknya Pak De Tayfur dan Bu De Ju) yang tidak pernah sesekali menggunakan pakaian yang fit and proper, walaupun mereka bertiga anak orang kaya yang menyebabkan mereka ketika keluar rumah tidak menyegarkan dipandang mata. Sedangkan disisi lain ada ironi, tatkala Ika (anak Lik Atun) yang walaupun keluarganya tidak sesejahtera keluarga Pak De Tayfur tetapi ketika berpakaian selalu sedap dipandang mata (bukan berarti baru dan mahal) sedap aja dilihat mata.

[singlepic id=67 w=320 h=240 float=left]Yang kelima ini mengenai berita menggembirakan, mengenai kelahiran anaknya Lik Usnul (gw memberinya nama Mikail Ihdirafi Raushanfikr, namun dipotong karena banyak kritik dimana2 menjadi Ihdi Raushanfikr) yang sekarang sudah berumur 3 bulan. Hehehe lucunya bermain dengan Ihdi yang sekarang sedang dalam proses “nglabrug” (istilah orang jawa untuk tengkurap).

Namun tidak ada yang lebih menggembirakan dari berita keluarga kami, sebagai penggenap berita mengenai adik Gw yang menjadi satu-satunya siswa SMU penerima PMDK di Universitas Jenderal Sudirman yang menjadi bahan pembicaraan dibanyak kalangan masyarakat sekaligus menjadi bahan iri hati para ibu-ibu yang membanggakan anak2nya! Hehehe sebagai kakak gw boleh dunk bangga! Apalagi ditambah rumor kelulusan gw Januari 2010, wah banyak orang tak menyangka, dan berita ini tentunya membuat panas telinga Pak De Tayfur yang selalu menginginkan anaknya (Indah Fajar Wati selalu berada didepan diantara cucu-cucu keturunan Abdul Jamil dan Mar’ah Elpoera).

Hmm… capek ya bercerita kesana-kemari tapi itulah indahnya holiday trip idul fitri kali ini! Ada banyak cerita-cerita indah dan mengesankan yang memang pantas untuk kembali diceritakan. Semuanya bukan dalam rangka mencari kejelekan atau pujian tapi lebih pada refleksi diri agar kelak menjadi bahan pelajaran yang berharga di masa depan. See you…

Oh iya… yang terakhir gw juga mau ngucapin Happy Celebration of Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

About the author

saumiere

2 Comments