Dalam sebuah joke di ruang kerja ataupun meeting para redaktur, selalu saja ada semacam sindiran yang menyudutkan saya, sejujurnya bukan sebuah statement yang menyudutkan tapi kalau pernyataan semacam itu dilontarkan secara terus menerus. Saya takutnya imagi yang tercipta pada diri saya akan seperti itu. Joke-joke nya semisal ini “saumi kan panas kalau dengerin orang ngaji” atau “saumi kan sekuler” atau yang semacam dengan itu. Pada awalnya sih saya cuek tapi gimana yah… kembali pada diri sendiri aja deh. Mending saya menuliskan testimoni untuk menghalau cibiran-cibiran macam itu.
Pada awalnya adalah bahwa saya memang berusaha untuk melepaskan semua identitas keberagamaan saya. Saya tidak pernah sekalipun menggunakan simbol atau identitas keberagamaan saya. Saya memang memiliki iman Islam tapi jarang terlihat menggunakan baju koko, peci, sarung, tasbih atau apalah dan saya bahkan cenderung untuk memisahkan identitas keimanan yang suci dengan kehidupan duniawi yang kotor! Pasalnya adalah saya ingin mengeksplorasi keimanan saya tanpa doktrin terlebih dahulu, sehingga saya bisa objektif, tanpa tendensi apalagi fanatik untuk kemudian memutuskan memeluk islam seutuhnya. Saya memilih Islam bukan karena apa, bukan karena orang tua saya kedua-duanya adalah muslim tapi lebih pada pertimbangan simple!
Saya merasa islam memiliki keimanan yang simple. Bahwa hanya ada satu tuhan (tauhid) lebih simple dibanding saya harus berpaling pada konsep trinitas yang kabur atau trimurti yang sulit dimengerti! Apalagi ditambah dengan fakta-fakta fisika maupun metafisis yang kesemuanya menunjukkan pada keesaan yang maha pencipta!
Ditambah dengan konsep tawakkal yang tidak bisa dijumpai di agama manapun. Keberserahan diri pada yang maha pencipta membuat semua logika kemanusiaan tunduk pada kekuasaan Allah. Yang sangat sesuai dengan konsep tauhid itu! Sebagai hamba kita diminta untuk berbuat tapi masalah hasil kita serahkan pada yang diatas. Sangat logic karena diatas kuasa manusia ada kuasa satu tuhan yang lebih berhak menentukkan.
Setidaknya itulah fragmen keberagamaan yang bisa saya tuliskan disini. Oh iya saya juga ingin menjelaskan mengenai kesukaan saya pada simbol-simbol christmast atau rosh hasanah! Saya memang sangat suka dengan moment natal! Sehingga wajar kalau saya bisa-bisa latah mengucapkan merry christmas padahal saya bukanlah seorang catholik! Kesukaan saya pada christmas lebih pada simbol Santa Clauss yang bisa jadi ikon berbeda dengan Jesus Christ! Kegembiraan yang ditampilkan melalui Santa Clauss menggambarkan optimisme dan penuh kebaikan dibanding inti dari peringatan natal itu yang justru secara historic penuh dengan keganjilan, kekejian dan lain sebagainya! Jadi tidak masalah kalau saya ikut-ikutan mengucapkan merry chrismast karena yang saya peringati adalah Santa Clauss yang datang dari kutub utara membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak, bukan peringatan kepada Jesus Christ!
Mengenai rosh hasanah yang dikenal sebagai hari raya umat yahudi! Saya hanya bisa salut dengan spirit perjuangan bangsa yahudi dalam melawan nasib! Bangsa yang pada zaman mesir ini dikenal sebagai bangsa budak, hingga kini mampu menjadi bangsa diaspora yang paling sukses dalam menggenggam dunia! Orang tidak bisa memandang remeh kekuatan ekonomi dan lobby yang dimiliki bangsa yahudi!
Pada akhirnya dibulan Ramadhan saya ingin mencoba untuk terus menggali keimanan saya! Menemukan kebenaran hakiki melalui wahyu baik yang tersurat maupun tersirat! Demikian Refleksi Ramadhan kali ini semoga membuat keberagaam kita menjadi lebih baik.


sudah saatnya persoalan simbol agama menjadi masalah..biarlah mengalir apa adanya. kedewasaan pemeluk agama akan teruji oleh adanya persoalan sepeti itu. pertanyaanya apakah setiap pemeluk agama bisa mentolerir umat agama lain??
terjadinya aksi teror merupakan penyebab tidak adanya toleransi umat beragama.
Thank You Chai… Kapan-kapan visit lagi yah…