[singlepic id=58 w=320 h=240 float=left]Dalam beberapa obrolan ringan dalam café atau tongkrongan di warung soto lamongan, beberapa teman atau mungkin rekan kerja saya pernah dan sering melontarkan kata-kata “kalau belum punya pacar! Berarti gak laku” saya sih lebih memilih diam daripada menanggapi pernyataan semacam itu! Memikirkannya justru terkadang membuat saya merasa aneh, gak tahu apakah karena selama ini saya hidup dalam pemikiran yang fleksibel atau karena selama ini saya terlalu western sehingga selalu berpikiran seperti ini. Yang justru membuat saya heran kenapa sih dalam budaya masyarakat kita terkadang menganggap relationship atau hubungan itu dalam koridor “laku atau tidak laku” menurut saya relationship itu tidak diukur dalam hubungan politik dagang! Tapi atas dasar suka (Cinta)! Jadi tidak masalah kalau kemudian saya atau mungkin kita menyaksikan budaya melajang dalam beberapa tahun terakhir.
Seperti yang saya baca di TrendUK baru-baru ini! Gaya hidup lajang saat ini tengah menjadi tren. Menurut sensus terakhir, terdapat 14.2 juta orang lajang (berusia 16-64 tahun) yang saat ini hidup di Inggris. Ketika ditanya ‘apa yang membuat hidup mereka lebih baik?, sepertiga orang tersebut menjawab ‘banyaknya uang’, dan bukan ‘teman hidup’. Mereka melihat hidup lajang sebagai kesempatan untuk melakukan hobi, kesempatan untuk memerhatikan diri sendiri, kesempatan untuk bersikap spontan, serta memiliki lebih banyak teman dekat. Lalu, untuk alasan-alasan di atas, mengapa juga mereka harus menikah?
Memang sih saya juga sependapat dengan ulasan-ulasan diatas, walau kemudian ketika dibenturkan dengan nilai-nilai yang selama ini turut membentuk saya, jadi agak bingung juga. Bagaimana kemudian Islam sebagai keyakinan saya, sangat menganjurkan menikah, sebagai salah satu hukum alam/sunnatullah! Tapi masalahnya kan tidak segampang itu? Iyakan! Kalau ada orang yang diciptakan secara genetic cakep terus ketemu dengan cewek cantik dan akhirnya ditakdirkan menikah, punya baby dan kemudian hidup dalam nilai-nilai masyarakat arus utama, ya itu wajar! Tapi bagaimana jika keadaan tidak selalu seperti itu. Ada orang yang dengan kekurangan fisik, akhirnya tidak bisa mengikuti aturan masyarakat arus utama, ada orang yang trauma dengan pernikahan orang tuanya, ada yang sedari kecil “dilacurkan” sehingga tidak mencapai apa yang “orang normal” idealkan! Sehingga dalam pikiran saya “menikah bukan lagi suatu tuntutan, tapi sebagai pilihan hidup” dan “melajang juga bukan suatu dosa yang kemudian ditempeli dengan berbagai stereotype negative semisal “perawan tua” atau “bujang lapuk”.
Akhirnya, wajar jikalau suatu saat akan ada banyak orang memilih melajang karena pertimbangan seperti diatas. Akan ada banyak kehidupan seperti yang dituturkan novel-novel karangan Helen Fielding atau Sophie Kinsella. Dimana, single is not a sin, and be single being happy! Kembali ke Helen Fielding, Novelis ini ternyata menjadi pioneer buku-buku bergenre Chicklit (Chicken Literature) dimana kehidupan urban, dengan profesi talenta creative, dan lepas dari pandangan-pandangan tradisional atau cultural, membuat pilihan hidup menjadi mudah! Suatu kehidupan yang kini atau bahkan nanti akan menjadi pilihan banyak orang.
Seperti yang dituturkan dalam novel yang baru-baru ini saya baca, novel berjudul Cause Celeb (Relawan Elite) ini menceritakan mengenai Rosie, kalangan elite yang selama ini bergaul dengan selebriti, merasa sakit hati dengan tingkah pacarnya Oliver dan memutuskan pergi jauh ke Afrika untuk menjadi relawan PBB. Memutuskan untuk tidak jatuh cinta, kalaupun untuk meluapkan kebutuhannya, ada “teman hidup” yang tidak terikat dan pada akhirnya benar-benar membuang beban hidup sekaligus menjawab semua kerumitan emosional Rosie.


tulisan yang sangat menarik Mr. saumy..
saya setuju setiap orang hidup dengan prinsip masing- masing,
tapi kita juga harus siap untuk menerima consequency atas prinsip yang kita pegang..termasuk keputusan untuk tidak mengikuti arus mainstream…
Thank you Abdul Fatah, ya begitulah, orang memang harus punya prinsip dan pilihan2 hidup walau pahit sekalipun! dan kewajiban orang-orang adalah untuk respect dan menghormati pilihan orang2 itu! benar kan… kapan-kapan main lagi yah!