Catatan Harian

REFLECTION, OPTIMISM AND HOPE

[singlepic id=39 w=320 h=240 float=left]Saya memang selalu latah untuk mengikuti ritual menyambut tahun baru, ada yang jauh-jauh hari beli terompet, mempersiapkan sejumlah kembang api untuk dinyalakan di kompleks perumahan, ada yang repot-repot, jauh-jaun dari Ciputat ke Ancol untuk pesta kembang api, yang harus dibayal mahal dengan antrian yang menyemut, bahkan kalau mau lebih elit lagi, ada yang yang sudah booking hotel, semisal teman saya yang booking di grand hyaat hotel untuk acara bonfire night, atau ada juga yang grill atau barbeque party bareng teman-teman di rooftop. Memang sih hype orang ketika menjelang pergantian tahun baru memang excited banget, saya juga merasakannya dan tidak mau ikut komentar terlalu jauh yang mempersiapkan penyambutan tahun baru secara berlebihan. Sampai-sampai baru jam 6 sore udah tiup-tiup terompet. Tapi ya saya tidak menyalahkannya.

Tapi sebenarnya apa sih makna dari tahun baru itu, Cuma sekadar perayaan [itupun diikuti sikap latah] dengan have fun semalam suntuk. Tapi untuk merayakan apa itukan yang perlu dipertanyakan lebih lanjut, kalau toh kemudian ada orang yang selama tahun 2008 membuktikan diri dengan prestasi yang mencengangkan, bolehlah bagi dia bersukacita, atas keberhasilannya menaklukkan tahun 2008. Tapi kalau Cuma have fun doang! Ya ampun percuma deh. Toh kalau mau dipikir-pikir lagi, apa yang berubah dari pergantian tahun, hari ya tetap berjalan semestinya, yang brubah pada esensinya adalah pergantian kalender dan cara kita menulis tanggal, dari yang tadinya menulis tahun 2008 disetiap dokumen, kini harus dengan 2009! Itu saja kan, pada sejatinya tidak ada yang berubah dalam diri kita, kecuali kayak teman saya yang lahir satu januari, yang berubah jelas umurnya. Makanya saya mafhum sekali ketika kebanyakan orang tua yang tahu bagaimana kehidupn yang sebenarnya, tidak terlalu antusias dengan pergantian tahun baru. Beda dengan anak muda yang apakah karena ikut-ikutan [pastinya] sehingga dengan semangat yang meluap-luap memperingatinya.

“akhir tahun adalah waktunya bersenang-senang, melupakan pilihan buruk masa lalu sembari melihat celah positif-nya untuk menyambut tahun esok yang lebih cerah”

Kalau untuk diri sendiri, sebenarnya ini lebih ke arah introspeksi ya… sebagai anak muda gue gak mau naïf, menafikan diri gue sok dewasa dan menganggap perayaan tahun baru hanya kegiatan yang pecuma. Dalam dunia cosmopolitan seperti sekarang, duduk diam atau malah tertidur saat pergantian tahun sama saja dengan anak kuper yang siap-siap dikecengin keesokan paginya. Jadi ya… ya saya harus larut dalam kegembiraan itu, entah itu dengan mengucapkan happy new year kepada setiap orang kau kenal atau sekedar grill atau barbeque party di rooftop ruko bareng sepupu dan teman-teman. Sehingga jelas gue meras eksis diantara ribuan umat manusia yang meryakan pergantian tahun baru. Lalu apakah pertanyaan saya terjawab, apa makna dari setiap pergantian tahun itu! Lalu kemudia saya ingat sesuatu, seperti tagline yang pernah saya tulis di tulisan terdahulu [masih mengenai pergantian tahun] bahwa “akhir tahun adalah waktunya bersenang-senang, melupakan pilihan buruk masa lalu sembari melihat celah positif-nya untuk menyambut tahun esok yang lebih cerah” ada semacam spirit yang mendasari dari setiap perayaan pergantian tahun! Frase “melihat celah positif untuk menyambut tahun esok yang lebih cerah” mengartikan harus ada semangat refleksi dalam diri kita, apa saja kesalahan yang perlu kita perbaiki, sekaligus semangat optimism, bahwa kita mampu membuat tahun depan menjadi lebih baik, seraya menggantungkan harapan [hope/doa] kita kepada Tuhan. Itulah spirit pergantian tahun.

Happy New Year

Saumiere

About the author

saumiere

Leave a Comment