Catatan Harian

FRIENDS AND THE CITY

[singlepic id=38 w=320 h=240 float=center]“akhir tahun adalah waktunya bersenang-senang, melupakan pilihan buruk masa lalu sembari melihat celah positif-nya untuk menyambut tahun esok yang lebih cerah”

Ada suatu ritual yang selalu gw lakuin selama 4 tahun terakhir, yakni melakukan refleksi akhir tahun guna mengevaluasi sejauh mana diri ini melangkah, tulisan ini saya buat khusus untuk jejaring social, pastinya isinya tak lebih dari masalah orang-orang yang datang dan pergi mengisi bagian hidup dari diri gw. Di mulai dari aktualisasi diri di kelompok 164, UINonline hingga CIRTIE, tempat kerja gw yang baru. Disini gw juga belajar tentang filosofi hidup, mendengar pengalaman orang lain, hingga kisah romansa cinta yang mengharukan [plus menyakitkan]

Selama ini saya saya selalu mencari jenis persahabatan seperti apa yang cocok untuk saya, ikmamers, semenjak gue di Muallimin sampai gue di perguruan tinggi, gue ya bisa dibilang mengerti lah, tipe-tipe persahabatan seperti apa yang baik itu. Namun saya adalah tipe orang yang suka bersosialisasi tanpa hanyut didalamnya. Lebih suka menjadi diri sendiri dibanding harus mengikuti apa kata teman. Ya memang egois tapi its true! Dan itu resep kuno yang tidak mungkin basi dimakan usia.

Dan selama itu pulalah gue percaya bahwa memang ada pengkotakan dalam cara kita bergaul! Sebagai contoh, di kampus gw, kentara banget orang-orang lulusan pesantren yang notabene adalah aktivis dengan anak-anak lulusan SMU yang gaul abis, biasanya mereka bergaul dengan cara dan cirri khas masing-masing. Anak-anak aktivis menyuarakan perjuangan, demokrasi, forum-forum kampus, kajian-kajian ilmiah, tetapi sebaliknya anak-anak gaul lebih suka membisikkan trend, gaya hidup santai, travelling dsb. Bisa dilihat sangat kentara juga dari sisi fashion! Anak-anak pesantren selalu memakai kemeja plus celana bahan, sebaliknya anak-anak smu memakai t shirt polo dan skinny jeans plus sneakers keluaran distro yang dibeli dari senayan city atau FO dari bandung! See inilah perbedaan itu.

Tahun-tahun lalu gue berhasil masuk dalam dunia aktivis, menjadi jurnalis kampus untuk liputan ekonomi, sekretaris umum suatu UKM, pokoknya mengenal tipe aktivis seperti apa. Nah untuk tahun ini gue mencoba mencari something different. Dikelas gw, ada sebutan dari gw untuk kelompok 164, inisial 1 untuk diri gw, karena gw tidak berafiliasi dengan siapapun, inisial 6 untuk cewek-cewek glamour dan inisial 4 untuk cowok-cowok ganteng plus keren! Gw merasa asik aja gaul bareng mereka. Jalan-jalan ke puncak, ancol, anyer tuh seperti ya biasalah. Tidak ada kendala yang berarti, mau ke puncak tinggal patungan, pake mobil temen-temen, dan pinjem villa dari rumah temen! Yup its really simple.

Belakangan juga ada ritual arisan, event paling bergengsi dan ditunggu-tunggu tiap minggunya. Karena siapa yang dapet, dia yang traktir minuman! Bahkan yang membuat gw kaget mereka seperti berlomba-lomba ikut seberapa banyak! Sarah ikut 3 poin yang berarti tiap minggu harus bayar 60 ribu dan 120 ribu untuk dua kali lemparan [kesannya kayak gambling ya…]. Saya Cuma bisa tersenyum dengan gaya gaul seperti ini, Dunia seperti mainan saja, jika ada temen-temen seperti ini. jadi yang saya lakukan adalah make over untuk bisa diterima dikelompok ini.

Kau tahu duniaku yang sunyi menjadi lebih ceria jika bercengkerama dengan mereka. They fun dan menerima keadaan semua teman-temannya, hanya satu hal untuk bisa diterima dikalangan mereka… mengerti tentang kode pergaulan. Mereka memakai baju-baju keluaran distro… yak au harus pakai baju itu untuk bisa nongkrong bareng mereka. Mereka suka main counter strike dan eleven winning, ya kau harus bisa memainkan. Jadi bermain bersama mereka seperti kau harus melucuti siapa dirimu sebenarnya dan pretending bahwa kau seperti mereka padahal sesungguhnya bukan.

Itu idealism saya dulu sebelum saya menyelami tipologi sang ketua genk. Namanya Armis, punya cewek cakep namanya Lya. Dan kita jadi deket banget karena ya gue ama dia selalu berdiskusi, tukar pikiran, dan curhat, mengenai apapun, keluarga kita dan prinsip kita masing-masing. Dari sanalah, pemahaman saya mengenai Armis, sebagai orang kaya yang bergaul dengan sesame orang kaya, terkikis. Dengan Lugas, dia ngucapin gak pernah mengotak-ngotakkan pertemanan. Kalaupun dia bergaul dengan orang-orang kaya, ya karena mereka dekat, sesungguhnya dia gak pernah membatasi pergaulannya itu, siapaun yang mau gabung yang silakan.

Hmmm gue salah lagi kan… menilai seseorang sebelum menyelami langsung. Setelah tahu luar dalem, barulah kita ngerti.

Menyelami ruang dan waktu, baru-baru ini juga gw kenalan ama cewek, namanya Rizka, bokapnya staf di Dubes Arab Saudi, anaknya gaul abis dan ya dari tutur katanya sih, tipe cewek periang dan tidak memperdulikan berapa pulsa yang harus kau bayar asalakan bisa curhat sepuasnya lewat hp. Masalah intinya sih mengenai percintaan. Dia merasa gak bebas karena pacarnya, si Ical, selalu membatasi ruang geraknya, pencemburu abis, dan ya gimana ya… pokoknya gak nyaman, walau orang tuanya ngedukung banget dia pacaran ama si Ical. Pas waktu ngobrol seru di kafe scholars, tempat gw sebulan ini mengais dollar. Dia ngomong kalau dia lagi nyari cowok baru.

“emang criteria loe seperti apa sih” seloroh gw

“ya pokoknya yang bening, cakep, nyambung am ague, fisik sih gak yah, dan satu lagi… gue gak mau kemana-mana jalan kaki”

“glek” gue yang mendengar itu tentu kaget bukan main, perkataan terakhir mengisyaratkan dia mau pacaran dengan cowok yang berkendaraan.

“dasar matre loe” sela gue

“biarin gw Cuma mau realistis”

Hah… hello realistis seperti apa, sebagai cowok [dari sononya begitu] gw merasa bingung dengan pikiran cewek-cewek ini. setiap kali ditanya mau pacar seperti apa kebanyakan mereka menyebut “mapan” menjadi kata yang tidak terbantahkan. Namun Rizka buru-buru menambahkan bahwa pada luarnya memang, cewek itu menginginkan cowoknya mapan, tapi itu bukan pilihan pertama, asalkan nyambung dan mau ngertiin, pasti cewek itu mau menerima keadaan cowoknya bagaimanapun buruknya. Hmm… ya akhirnya gue sih sebagai teman dari Rizka Cuma bisa menghargai keputusan itu dan ya larut dalam kebahagiaan ketika dengan cerianya menelepon gw semalaman bercerita kalau dia lagi deket ama Reza anak Trisakti yang hobi-nya rafting.

Well, memang lucu ya… tingkah laku anak-anak sesusia kita ini. Kita tidak pernah tahu siapa sesungguhnya diri teman-teman kita, sampai kita menjadi dekat dan ngomong dari hati-ke hati. Barulah kita sadar siapa sesungguhnya teman kita ini, dan kemudian menjadi lebih menghargai persahabatan itu. Dan itulah resep sesungguhnya dari persahabatan. Menghargai siapa diri kita dan teman kita sendiri, beserta kelebihan dan keterbatasan masing-masing.

Chao… itulah refleksi akhir tahun gue… mengingat natal semakin dekat, kerinduan untuk saling berbagi dan memahami sebagai spirit Christmas harus menjadi nyata di tahun ini. Dan seperti tagline awal tulisan ini, marilah kita lupakan pilihan buruk masa lalu dan ikut hanyut dalam kegembiraan natal dan tahun baru!

arrivederci

Saumiere, the ikmammm insider.

About the author

saumiere

Leave a Comment