[singlepic id=11 w=320 h=240 float=left]Sejenak gue merasa teralihkan dari rasa keputusasaaan yang melanda diri ini. Semenjak adanya stagnasi karir dan melihat orang-orang melesat pergi meninggalkan ku jauh disini, aku memang tenggelam dalam rasa minder dan terus-menerus menyuarakan kepanikan kepada lingkungan sekitar, hingga tidak melihat kesempatan lain yang sesungguhnya dikirimkan tuhan kepada kita agar kita mampu meraih tujuan besar yang kita inginkan.
Proses pengalihan itu sendiri sesungguhnya berjalan secara natural, dalam artian tidak pernah direncanakan dan datang dengan sendirinya. Saat malam datang yang gue lakukan hanya terus menerus menyimpan kepanikan, kegalauan dan keputusasaan dalam mimpi. Saat siang ya terus bekerja, keluar rumah sembari terus berpikir bagaimana caranya diri ini keluar dari keruwetan. Dan bagai gayung bersambut upaya-upaya itu ternyata menghasilkan “sesuatu” yang pada intinya proses healing itu sendiri.
Kesibukan hari kerja, dan kepenatan kuliah serta keceriaan sesame teman baik di ruang kerja maupun kuliah membuatku melupakan sejenak. Tapi juga bukan berarti gue melupakan segalanya begitu saja tanpa mengingat rencana gue! Gue mulai berpikir “oke mungkin tahun ini gue gak go public, gak go abroad, tapi harus ada satu lompatan yang akan menjadi jembatan gue kedepan. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana saya bisa memperoleh lompatan agar menjembatani gue go public dan go abroad?
Untuk menjembatani diri ini supaya bisa pergi ke luar negeri, semua orang sudah tahu bahwa kunci dari pada semua itu adalah bahasa inggris, tapi kan membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa adalah hal yang sulit. Perlu ada standar. Saya perlu sertifikat toefl supaya diakui. Dan gue harus ikut kursus bahasa inggris supaya mendapatkan sertifikat itu. Pertanyaan semacam itu terus mengemuka dalam proses healing itu. Dan tuhan rupanya mendengar doa saya.
Get My Own Way
Tanggal 1 Desember 2008 boleh jadi merupakan hari bersejarah lain di bulan desember selain tanggal 8. Hari dimana saya memperoleh jembatan yang bisa jadi membuatku memperoleh lompatan besar go abroad. Sebenarnya ini merupakan proses singkat, suatu ketika saya dapat tawaran bekerja di CIRTIE sebagai web developer yang bertugas mengupdate berita-berita ekonomi syariah. Direkturnya kepala jurusan saya sendiri. Saya sebenarnya mau menerima jika yang menawari saya adalah direkturnya sendiri bukan melalaui orang asing. Nah suatu ketika saya memperoleh tugas mewawancari direktur psat Center of Information, Research and Training for Islamic Economic (CIRTIE), ketika berbncang iotulah saya mencoba membuka kesempatan itu dan langsung mendapat tawaran dari Bu Euis. Saya langsung menerima tawaran itu.
Jadilah tanggal 1 desember saya resmi bekerja sebagai web developer di CIRTIE. Kantornya enak, berada dipusat perkantoran juanda ciputat dan sepertinya sedikit prestise, walau katanya sedikit tertekan karena bu euis suka marah-marah. Saya langsung berkenalan dengan Harun, kepala bidang training yang membawahi tim kreatif (Lelia, TB Afi, Miing, dan Isma). Saya juga berkenalan dengan Bu Najma yang mengurusi bagian perbukuan, Bpk Haris yang mengurusi bahasa inggris, Devi yang mengurusi keuangan dan lain sebagainya yang membawa keceriaan tersendiri.
Sekarang saya boleh mengatakan kepada teman-teman yang bertanya sama saya “saumi masih di BERITA UIN?” maka saya akan menjawab “sekarang masih ditambah sekarang saya sudah ada part time di CIRTIE” kebanggan itu memang tidak begitu besar dibanding ketika saya mendapatkan lowongan desain di BERITA UIN tapi setidaknya itu mampu meredam sejenak kepanikan besar.

