[singlepic id=27 w=320 h=240 float=left]Beberapa hari yang lalu, aku dikejutkan dengan sebuah berita yang menggemparkan! Atau lebih tepatnya mengejutkan buat diriku! Mengapa tidak, saat aku disini masih memikirkan sebuah cara bagaimana aku bisa mewujudkan impianku dengan go abroad, dua orang seniorku, tiba-tiba mendahului, padahal aku tahu kemampuan mereka dalam bahasa inggris bisa dibilang sangat pas-pasan! Yang pertama adalah Hanifudin Mahfuds, Pemuda asal kebumen, yang ayahnya adalah petani di kampungnya, mendadak mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar. Entah kemana, yang pasti dia harus siap jika ia tiba-tiba diajak ke luar negeri. Yang kedua adalah Ridho AlHamdi, Rekananku selama di Muallimin yang mendapatkan “jatah” dari Pimpinan Pusat IRM untuk mengikuti Global eXChange ke Inggris, hal yang pernah sama dilakukan oleh Oom dan Kakak kelasku yang lain, Ridwan Furqoni! Mengetahui hal itu membuat kepalaku pusing dan bertanya-tanya, when my turn?
Sebelum pertanyaan itu dijawab, ada hal-hal lagi yang juga membuat kepala ini berdenyut-denyut menahan sakit akibat melihat peristiwa-peristiwa janggal! Salah satu temannya temanku, Asbah, dulu dia juga mendapat giliran ke Malaysia, bersama Sjarif dan rekanan mereka lainnya! Aku yang bodoh untuk mengetahui hal itu mendadak bertanya-tanya kok bisa dia mendapat kesempatan itu, padahl, seperti Pas Usep bilang, “kita ini masih primitif” dalam artian memakai komputer juga belum becus, bahasa masih belepotan, dan kemampuan akademiknya juga under average. Kesimpulannya adalah kenapa sih mereka punya kesempatan itu, sedangkan aku tidak!
Sebenarnya jawabannya mudah! Satu hal yang pasti mereka terkoneksi oleh jalur, hanya saja koneksi golongan pertama mungkin lebih kuat! Sedangkan golongan kedua ya selain mereka punya telekoneksi, mereka juga punya “talent” yang mereka tidak perlu menunggu sampai umur 25 atau semester tua untuk mendapatkan kesempatan itu. they are so young and energetic!
Pada malam dimana tulisan ini ditulis, aku sedang memikirkan dan mungkin berkhayal sedikit, kalau tahun ini aku benar-benar bisa menggoalan rencanaku yakni go abroad, aku akan mengabarkan kepada semua orang! Kepada para orang yang dulu mengejekku, meremehkanku dsb bahwa aku bisa berprestasi dan tidak perlu menunggu sampai aku lulus kuliah! Kalau bisa tahun ini!
Pikiran ini pulalah yang melentik dalam benakku ketika menyadari bahwa saat ini aku sedang dalam keberuntungan penawaran keluar negeri yang sekarang sepertinya sedang aku sia-siakan! Leadership Camp ke Aussie adalah salah satunya yang ku abaikan, kemudian belajar Bahasa Inggris selama delapan minggu ke Amrik! Fantastis sekali bukan, lalu bukannya saya memanfaatkan moment ini untuk belajar karena waktunya masih panjang, toh bulan mei masih panjang dan gelombang pendaftaran juga dibuka sampai sembilan! Malah sepertinya saya mengabaikan saja info berharga nan penting ini!
Kendati demikian, aku bukannya menutup mata sama sekali, aku sadar sekali kalau kesempatan ini tidak akan datang dua kali dan aku harus meraihnya! Dan permasalahan selama ini yang mendera adalah dengan apa! Nilai TOEFL yang mereka targetkan adalah 480, sedangkan nilaiku cuma 350, kesenjangan yang begitu lebar! Tapi apa mau dikata toh ini sudah merupakan fakta yang tidak bisa dibantah!
Lalu kemudian aku senang ketika menyadari bahwa ada niatan dalam hati ini untuk belajar bahasa inggris lebih serius bahkan intensif. Aku ingin menyisakan waktu untuk belajar bahasa inggrisku, terutama kemampuanku menjawab nilai-nilai TOEFL!
Aku berharap diary kalau aku bisa membuat perbedaan, kalau aku bisa ke luar negeri dengan kemampuan terbaikku, bukan karena “jatah” apalagi interkoneksi yang sejujurnya mengaburkan nilai talenta itu sendiri! Rasanya tidak sabar untuk mengumumkan keberhasilanku kepada semua keluarga dan teman-teman terdekat akalau aku akan pergi ke Australia september nanti. Diujung khayalanku aku melihat Mum, dad, my brothers dan semuanya melambaikan tangna kepadaku yang sedang take off ke langit biru, membelah menuju negeri Kangguru!
Wish my dream come true
Saumiere

