[singlepic id=24 w=320 h=240 float=left]Katanya umur dua puluh adalah usia dimana saatnya kita tampil, memperlihatkan kepada seseorang siapa sesungguhnya diri ini. Yang pastinya tercermin dalam sikap dan pemikiran kita yang terartikulasikan dalam setiap harinya! Tidak heran jikalau kemudian muncul berbagai penilaian tentang diri kita. Sesekali tanya pada seseorang yang kita kenal, tanya bagaimana pendapat mereka tentang kita, maka jawaban mereka merupakan cermin siapa sesungguhnya diri ini! Pepatah lama mengatakan “the best mirror is an old friend”, cermin terbaik adalah seorang kawan lama!
Jadi saya tidak marah jikalau dalam suatu milis yang saya ikuti, ada anggota yang mengatakan pada saya kalau saya “orang yang suka mengada-ada”, orang yang Nggateli (memuakkan), bahkan menamai saya FEMINISM (yang menjurus pada banci)! Cuma gara-gara saya mensuplai informasi tentang Holywood! Terkadang memang kalau sudah berurusan dengan hal-hal yang sifatnya “emosional” maka yang logis menjadi budaya yang klise! Walaupun toh akhirnya saya “mundur” dari perdebatan itu karena memang tidak mau “merobohkan” komunitas yang “sunyi senyap dalam tidur yang lelap” karena saya sekali lagi di cap “tulang yang keropos”
Namun saya teringat oleh perkataan salah satu pesohor negeri ini yang tak lain dan tak bukan adalah mantan Presiden Soekarno yang mengatakan “memang enak melihat negeri yang subur makmur, tata titi tentrem, tapi negeri itu tidak akan maju karena tidak pernah menghadapi tantangan, tidak dinamis, tidak bisa melihat dan belajar pada bangsa lain” perkataan itu membuat diri ini kembali berefleksi mengenai pentingnya masalah dalam diri manusia! Seorang manusia tidak akan menjadi dewasa dalam sikap tindak perilakunya kalau dia tidak pernah sekalipun menghadapi sebuah masalah! Jikalau yang dihadapainya hanya “senang-senang, berita baik” maka citra yang terbentuk adalah artificial belaka! Bukan the real. Kekhawatiran saya adalah milis yang “makmur” ini menjadi terlena oleh berita-berita baik mengenai prestasi-prestasi ini-itu, plesiran kesana dan kemari, walaupun itu diperlukan karena bisa jadi hiburan!
Milis ini begitu sepi akan adanya ekplorasi ide, (hanya satu yakni masalah desain kaus yang menurut saya brilian) tukar pikiran (hanya dua yakni perbincangan mengenai natal dan valentine yang berlangsung elegan) kepedulian (hanya satu yang menyerukan kepedulian kepada teman kita Agus Haryono) selebihnya adalah info-info ringan yang hanya berupa commercial break belaka! Serta perdebatan panas yang seakan tiada henti hanya untuk memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh dimuat dalam milis ini! (saya berusaha elegan dan tidak ada urusan dengan orang-orang yang menggunakan cara-cara vandal, barbar dan tak beradab!)
Jadi pada momen maulid dan paskah yang reflektis seperti saat ini, saya seakan mendapatkan pencerahan bahwa mungkin kehadiran saya memang sudah menjadi destiny untuk selalu “mengguncang” dan membawa “prahara” atau dalam bahasa selebritisnya “sensasi” agar keadaan sekitar tetap “aware” dalam menghadapi “challenge”
Terakhir, biarkan saya menjadi tulang keropos dalam tubuh, duri dalam daging, benalu dalam batang pohon dan crisis dalam kemakmuran! Maksudnya agar sadar kalau kita punya tantangan! Allow me to be the “crisis”, let me live, that’s meant to be “it” guy.
Selamat Maulid dan Paskah!
Saumiere

