[singlepic id=125 w=320 h=240 float=left] Minggu ini saya kedatangan tamu tak diundang, boro-boro diundang, diharapkanpun tidak. Namanya Bagus dan dia adik kelas saya. Sejauh ini sih saya sama dia tidak pernah ada masalah yang berarti, hanya saja kelakuan dia yang membuat saya tidak nyaman. Jadi dia seakan-akan… gimana ya saya menganalisis perilakunya, ada suatu dorongan dirinya untuk memamerkn bahwa dirinya tidak kalah dengan saya. Konyol memang ketika mengetahui bahwa, dia dalam hidup saya memang tidak pernah dianggap penting karena dia tidak pernah menjadi bagian penting, bukan satu alumni, bukan teman kelas, saya dekat dengan dia hanya karena kesamaan satu kampong dengan saya. Jadi apa urgensinya dia membusungkan dada di depan saya seakan-akan mengatakan “saya juga bisa”.
Kalau sudah begini kan saya jadinya hanya tertawa, sekaligus juga kesel sih, apalagi dia dateng dengan muka menyebalkan, dan tiba-tiba berseloroh “udah lima tahun belum lulus juga” ditambah embel-embel “saya sih aktivis yang pingin cepet lulus kuliah”. Huh. kalau sudah begini saya jadi nanya apa sih maksudnya? Kalau betul apa yang tadi saya analisis, bahwa Bagus mengidap disease “pembuktian diri pada Saumi” ya saya hanya maklum dan mentertawakan saja, Bagus-bagus, (kalau boleh nyombong dikit) kamu tuh bukan saingan saya, silakan kamu buktikan kepada orang lain tapi jangan buktikan di depan saya.

