Catatan Harian

INDAH PADA WAKTUNYA

[singlepic id=125 w=320 h=240 float=left] Minggu ini saya kedatangan tamu tak diundang, boro-boro diundang, diharapkanpun tidak. Namanya Bagus dan dia adik kelas saya. Sejauh ini sih saya sama dia tidak pernah ada masalah yang berarti, hanya saja kelakuan dia yang membuat saya tidak nyaman. Jadi dia seakan-akan… gimana ya saya menganalisis perilakunya, ada suatu dorongan dirinya untuk memamerkn bahwa dirinya tidak kalah dengan saya. Konyol memang ketika mengetahui bahwa, dia dalam hidup saya memang tidak pernah dianggap penting karena dia tidak pernah menjadi bagian penting, bukan satu alumni, bukan teman kelas, saya dekat dengan dia hanya karena kesamaan satu kampong dengan saya. Jadi apa urgensinya dia membusungkan dada di depan saya seakan-akan mengatakan “saya juga bisa”.

Kalau sudah begini kan saya jadinya hanya tertawa, sekaligus juga kesel sih, apalagi dia dateng dengan muka menyebalkan, dan tiba-tiba berseloroh “udah lima tahun belum lulus juga” ditambah embel-embel “saya sih aktivis yang pingin cepet lulus kuliah”. Huh. kalau sudah begini saya jadi nanya apa sih maksudnya? Kalau betul apa yang tadi saya analisis, bahwa Bagus mengidap disease “pembuktian diri pada Saumi” ya saya hanya maklum dan mentertawakan saja, Bagus-bagus, (kalau boleh nyombong dikit) kamu tuh bukan saingan saya, silakan kamu buktikan kepada orang lain tapi jangan buktikan di depan saya.

Analisis perilaku Bagus ini didasarkan pada sejarah masa kecil saya. Saya teringat pada suatu masa, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, pada suatu ritual “dibah” yakni ritual wirid pada malam jumat, sang pemateri malam itu, Drs. A Rofiqi, mengemukakan kekagumannya pada saya, dan Bagus yang tak lain adalah anak angkatnya, bersikeras bahwa “kenapa sih apa-apa omi, apa-apa omi” waktu kecil saya tidak tahu apa artinya, tapi ketika sudah dewasa, dengan dia datang ke rumah disertai cerita-cerita incredible, datang ke kostan dengan selorohan yang asal sesumbar, membuat saya yakin 100% dengan teori saya.

….

Kedatangan Bagus tidak membuat pekan saya menyedihkan, pasalnya saya juga kedatangan tamu yang menggembirakan. Jadi teman-teman cowok kelas saya, pada main ke kostan saya, sungguh suatu peristiwa langka, Kostan Saumi didatengi oleh parade motor dengan para pemain bola didalamnya. Waw sejak kapan ya kostan Saumi jadi basecamp! Semoga itu terwujud! Jadi mereka melibatkan saya sebagai tim dalam acara gathering pertama kelas PSA05 setelah kelulusan. Ada rasa gembira sekaligus terharu, setelah sekian lama, Saumi yang selalu terabaikan dalam sebuah kelas, baik di sekolah dasar, maupun sekolah menengah, kini saya dilibatkan di kelas saya oleh teman-teman cowoknya. Yeeehaaawww!

Seperti saya alami, semenjak sekolah dasar, sampai sekolah menengah, saya tidak pernah punya group sendiri, teman-teman yang bisa diajak nongkrong, tapi di perguruan tinggi saya merasa punya. Di SD saya punya Dede, Riska, Luthfi, dan Aji yang selalu belajar bersama, di sekolah menengah saya punya Chai, Mukhlis, dan Revi yang selalu berbagi bersama, tapi saya tidak pernah punya pengalaman dibidang sepak bola yang seindah di Perguruan tinggi. Di SD saya pernah membuat club saya terkena tendangan pinalti hanya karena kebodohan saya (hehehe lucu kalo diingat). Di sekolah menengah saya pernah main bola selama dua menit, yang langsung ditarik keluar lapangan hanya karena tidak pernah menendang bola. Dua-duanya saya tidak punya kaus bola, tapi di perguruan tinggi, yey, saya mendesain kaus bola dan harus punya kaus bola itu.

Setidaknya rasa ini cukup menenangkan diri ini tatkala orang tua saya menanyakan mengenai teman teman saya, seperti kemarin sabtu, saya sengaja menelepon Ibu saya, dan pada kesempatan itu Ibu saya cerita panjang lebar mengenai Inez, adik saya, bahwa Inez sering sekali membawa temen-temennya baik ketika di SMU ataupun di Universitas sedangkan saya, satupun tidak pernah. Jawaban saya ketika itu dengan mengacu pada peristiwa diatas adalah ya nanti lah pasti ada saatnya.

Indah pada waktunya, sepanjang hidup saya belum pernah mengenalnya, dan saya mengenalnya dalam iman kristiani. Bahwa ada saatnya segala sesuatunya menjadi indah. Orang-orang sering mangatakan dalam aktifitas politik maupun ekonomi dengan istilah momentum! Kaitan antara tamu Bagus dengan tamu teman-teman cowok PSA05 adalah bahwa semuanya ada masanya. Saya memang belum lulus dan bukan mahasiswa luar biasa tapi saya yakin saya pasti akan lulus dari kampus UIN Syarif Hidayatullah dan itu tidak akan lama lagi, tahun ini.

Saya memang tampak seperti sendiri, tapi sesungguhnya banyak orang yang memperhatikan saya. Banyak orang yang ingin menjalin pertemanan saya. Dan itu syaratnya sangat mudah, mau menerima saya apa adanya itu saja tak lebih! Fakta bahwa saya masih berteman baik dengan Luthfi (eluth), Aji, Dede, Riska, Chai, Muchad, Revi dan sekarang, Ridho, Armis, Fawzi, Dadi dan Imam membuat saya yakin bahwa suatu saat teman –teman saya ini akan bertamu dan menjadi saksi atas pertemanan kami, itu saja.

About the author

saumiere

Leave a Comment