[singlepic id=13 w=320 h=240 float=left]Buat apa menangisi segala pilihan buruk yang telah dibuat dimasa lalu, toh hidup tetap berjalan walau menangis semalam suntuk. Meratapi pilihan bodoh akan nilai-nilai yang ideal padahal sesungguhnya nilai-nilai yang lebih mencerminkan diri ini apa adanya juga tidak terlalu buruk. Walaupun demikian, jikalau diri ini sudah tidak kuat menahan semuanya, daripada terus menyalahkan keadaan dan orang-orang sekitar, menangis merupakan penyembuhan, mencerahkan dan meneguhkan!
Saya tahu, mungkin di banyak benak orang saat ini adalah bahagia menyambut tahun baru, menyusun sederet resolusi dengan segenap pengarapan terbaik. Penuh dengan optimism dan happiness. Tapi apa yang terjadi pada diri ini adalah paradoksi dari semuanya. Padahal saya sudah berangan-angan menyusun Milestone 2010, butir-butir resolusi tahun ini, tapi apa daya, keadaan memaksa saya untuk luruh dalam kesedihan dan membuyarkan segala angan itu.
Awan mendung itu bermula dari sebuah kenyataan pahit yang sampai sekarang harus diterima utuh. Bahwa saya sendirian, lonely, no loyalty friend, no good partner, no supported fam… (entahlah, saat ini mereka semua mendukung tapi apakah mereka akan support saya apabila mereka tahu saya sebenarnya) itulah sumber kesedihan saya selama ini. Ditambah dengan kenyataan bahwa kesendirian ini diakibatkan oleh perilaku saya diluar mainstream membuat kesedihan itu makin dalam, adakah seseorang disana yang mau berteman apa adanya dengan saya, yang saling membantu dan menguntungkan. Sejauh ini karena kebaikan saya, masih ada satu atau dua orang yang mau berteman dan saling membantu. Tapi apa jadinya jika saya bersikap seperti mereka, no care with problem. Palingan mereka juga lari.
Saya menangis karena keadaan saya, kondisi saya yang diluar mainstream, bukan menyalahkan mereka. Karena sesungguhnya mereka membuat segala kebaikan bagi saya, walaupun kebaikan itu menipu dan hanya ilusi orang bodoh. Ini membuat saya sadar akan satu hal kebaikan sejati ya respek terhadap orang lain. Jadi saya akan menghargai orang lain selama mereka menghargai saya. Ini jauh membawa independensi daripada saya harus bergantung pada teman yang juntrungannya hanya menyusahkan mereka.
Jadi lebih baik saya sendiri, bebas menjadi diri sendiri, bebas merajut mimpi, asa dan harapan. Ini menjentik sebuah utopia mengenai surga dalam angan saya. Dunia yang menghargai saya apa adanya. Saya ingin pergi dari Indonesia, escaping my self from the reality. Ke US, UK, Holland or maybe Australia. Bukan untuk pamer tapi lebih bebas menjadi diri sendiri, dan mengejar mimpi.

