[singlepic id=51 w=320 h=240 float=left]Pusaran masalah itu kian berkelindan. Benang kusut yang dicoba diurai itu malah kian rumit. Persoalan kampus yang belum kelar (setidaknya sampai wisuda), dilemma dalam menentukan apakah saya tetap bertahan atau give up di CIRTIE, tanggung jawab kerjaan yang makin banyak, sampai masalah financial membuat diri ini terus berpusara dalam masalah. Dan itu semua seakan mengemuka dan mewujud dalam keadaan nyata dan mendesak di saat diri ini menginjak usia 22 tahun. Apakah ini pertanda bahwa semakin dewasa semakin besar beban hidup yang dihadapi. Jikalau benar maka keadaan ini normal. Tapi bagaimana jika tidak. Karena nyatanya… persoalan ini serius dan jikalau dibiarkan akan mengancam reputasi diri ini.
Keadaan yang sebenarnya adalah saya satu-satunya orang diantara sebagian besar teman kelas saya yang belum membuat proposal skripsi. Sebenarnya masalah ini pelik, karena ada komplikasi beragam alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, yang pasti karena kemalasan saya, saya belum bisa menyempatkan waktu satu atau dua jam untuk menseriusi urusan skripsi ini. Andaikan saya bisa menyisihkan satu atau dua jam dalam sehari, mungkin urusan ini cepat kelar. Alasan kedua karena saya masih bingung, menentukan pekerjaan apa yang tepat untuk saya nantinya. Karena kau tahulah, saya bener-bener gak punya minat jika nantinya harus mengejar pekerjaan di bank tertentu. Walau nantinya bisa saja. Tapi kok spirit ke sananya benar-benar zero. Saya malah tertarik dengan dunia Web, Design Grafis, Jurnalisme, Fotografi, Film sampai Enterpreneurship. Jadi ya saya menunda dulu, menentukan pijakan yang tepat hingga akhirnya harus benar-benar menyelesaikan.
Masalah yang juga menghampiri saya dalam kubangan krisis ini adalah masalah company visit kemarin yang datangnya sebentar tapi cukup mengancam reputasi diri ini. Saya yang belum pernah bermasalah akhirnya harus bermasalah. Problemnya adalah ketika saya telat mengumpulkan laporan company visit. Maka yang terjadi adalah saya ditolak ikut ujian. Saya sampai cari opsi sampai pucuk pimpinan prodi supaya saya dibiarkan ikut. Sekarang sudah reda tinggal one step ahead.
Lainnya juga berkaitan dengan kuliah. Saya belum ujian mid test Sistem Informasi. Tapi Alhamdulillah masalah ini sudah berlalu. Tinggal ujian akhir nanti. Hmmm lucu juga tiga masalah yang mengancam saya berkaitan dengan kampus.
Beralih dari area kampus, trouble yang cukup membuat diri ini cukup kusut adalah masalah di CIRTIE. Tahukan kau bahwa 50% masalah saya datangnya cukup dari CIRTIE. Dari mulai masalah pekerjaan yang tumpang tindih. Terus gaji yang minim, bos yang kejam, sampai rekan kerja yang seenaknya. Belum terhitung ada orang yang suka menjilat dan cari muka. Aaargh… benar-benar pusing. Apalagi kreativitas saya agak dikebiri, kebebasan saya juga di kekang. Aduh sudah cukup lampu kuning ini menyala. Tinggal menyiapkan sekoci untuk menyelamatkan diri ini dari tenggelamnya kapal titanic yang congkak. Alternatif penyelamatan itu ada beberapa tapi belum cukup meyakikankan. Pingin sih buka jasa design grafis dan pembuatan web sendiri, tapi aku masih belum yakin jika sebulannya dapet orderan. Kalau udah gitu gimana aku bayar kostan, internet dll. Toast for job which pay a rent. Alternative-nya adalah saya akan bertahan sekuat mungkin agar bagaimana diri ini mampu mengamankan segala kebutuhan hidup. Tapi juga terus membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak manapun. Itu prinsipnya.
Yang terakhir dan ini bisa jadi bom waktu adalah masalah financial saya. Saya masih punya tagihan internet untuk 3 bulan sampai dengan 1.200.000 ribu… angka yang cukup mencengangkan. Jangan sampai ini berbuntut panjang harus segera di selesaikan. Policy-nya mungkin seperti ini, saldo di bank masih 280.000, dapet insentif 300.000, fee 500.000,- dari yang lain2 200.000, mungkin ini cukup untuk menutupi tagihan internet. Setelah ini selesai mungkin saya bisa bernafas lega. Dan rencananya bulan ini harus selesai masalah tagihan ini. Jangan sampai terus nunggak terus.<%2

