Movie Reviews

FREEDOM WRITERS DAN KESEMPATAN BERBUAT BAIK

[singlepic id=48 w=320 h=240 float=left]Isu rasial memang selalu menarik untuk disimak, dan terma ini selalu menjadi inspirasi bagi para sineas amerika serikat untuk membuat film! Dan sepanjang memori penulis, film2 yang mengisahkan perbedaan rasial ini selalu mengenai kekerasan, kemiskinan dan keputusasaaan dalam merengkuh kehidupan yang lebih baik. Tapi justru disitulah titik penting film2 genre ini. Selalu ada harapan dan cita-cita untuk membuat kehidupan menjadi lebiah berarti.

Masih ingat dalam benak penulis film “save the last dance” [Julia Stiles] yang mengisahkan perjuangan seorang Sara Johnson meraih cita2 menjadi seorang ballerina ditengah kerasnya kehidupan di area penduduk kulit hitam. Masih lekat pula cerita “Honey” [Jessica Alba] yang memberi influence bahwa, penting bagi kita untuk membantu masyarakat sekitar yang sehari2nya bergelut dengan kekerasan, narkoba dan perang antar genk yang tak berkesudahan dengan mengarahkan mereka untuk berbuat suatu hal yang positif dalam diri mereka.

Nah baru-baru ini saya menemukan sesuatu yang baru dalam film genre rasial ini. Judul filmnya Freedom Writers, yang memang diangkat dari kisah nyata tahun 1994. Tak beda dengan film2 lainnya, tema utamanya adalah kekerasan di kawasan long beach California, yang menjadi tempat pemukiman bagi warga kulit hitam di barat Amerika. Kekerasan dan kekacauan social akibat perbedaan rasial [kulit hitam, cina dan kulit putih] juga merasuk ke dalam ruang kelas, yang sehari-harinya penuh dengan perang antar genk sekolah.

Adalah miss Erin Gruwell, seorang guru baru bahasa inggris yang bertekad mengubah situasi ini menjadi lebih baik. Sebagai guru baru, ia sering dicibir bahkan sering mendapat pertenttangan keras dari guru senior maupun kepala departemen mengenai aksinya dalam mengarahkan siswa-siswinya keluar dari kemelut rasial yang seakan tiada henti. Tapi bagaimanapun juga, semangat Erin tidak pernah surut, bahkan rela mengambil dua pekerjaan sampingan lainnya demi membiayai programnya.
Untuk mengarahkan kebencian, kekesalan dalam hidup, Miss Erin meminta kepada murid2nya untuk menulis dalam journal. Mengarahkan mereka untuk menyikapi pembantaian Holocaust, membaca diary anne frank dan puluan judul buku lainnya. Alih-alih sebagai guru bahasa inggris, Miss Erin telah menjadi “seorang ibu” bagi murid2nya yang seakan haus akan perhatian ditengah lingkup kekerasan.

[singlepic id=47 w=320 h=240 float=right]Usahanya ini ternyata membuahkan hasil, Ia berhasil membuat program Toast for Change yang mengundang Miep Giep [mantan penjaga keluarga anne frank] datang dari Jerman ke Amerika serta memberikan pencerahan yang mendalam bagi murid2 Miss Erin.

“…I did what I had to do, because it was the right thing to do…”
“…But even an ordinary secretary or a housewife or a teenager can, within their own small ways, turn on a small light in a dark room…”

Saya mengerjakan apa yang harus saya lakukan, karena itu suatu hal yang benar untuk dilakukan
Bahkan seorang sekretaris biasa, seorang ibu rumah tangga atau remaja mampu melakukan hal kecil sekalipun, menyalakan cahaya dalam ruang gelap

Ditengah dendam antar genk sekolah dan kekerasan serta kekacauan lingkungan serta ketidakpedulian pihak sekolah akan nasib mereka, kelas Miss Erin justru tumbuh menjadi kelas paling dinamis. Berkat “melakukan hal benar” membuat mereka sadar bahwa sikap dendam antar kelompok hanya akan membuat teman2 yang mereka cintai akhirnya meninggal. Dan satu hal yang merekatkan mereka pada aintinya, yakni mereka akhirnya mampu merajut kisah2 mereka yang tertuang dalam jurnal mereka dalam satu buku yakni Freedom Writers.

Pesan dari film ini adalah melakukan suatu hal yang benar walau itu ditentang oleh dunia sekalipun. Karena bagaimanapun juga pada akhirnya itulah yang akan dikenang oleh generasi mendatang!

Saumi Rizqiyanto

About the author

saumiere

2 Comments

  • Film yang benar-benar saya kagumi…
    Walaupun perjalanan saya masih jauh untuk menjadi seorang guru…
    Mudah-mudahan saya semoga berhasil untuk mencapai kehidupan menjadi calon guru nanti…
    walaupun seseorang yang mentakdirkannya menjadi seorang miskin janganlah menjadi seorang “miskin hati”.
    dari pada orang kaya tetapi miskin hatinya…
    itulah yang amat sangat banyak di dalam kehidupan di dunia ini…

Leave a Comment