Catatan Harian

Poshner, Yahudi dan Saya

[singlepic id=33 w=320 h=240 float=left]Dari kebanyakan obrolan-obrolan yang saya lalui, secara keseluruhan orang masih memandang bahwa bangsa jepang, china dan korea adalah negeri yang berhasil, referensi orang-orang yang saya ajak obrol biasanya melulu mengenai negeri-negeri timur, jarang yang menyanjung atau setidaknya memberikan sedikit alternative bahwa budaya barat juga baik. Bahkan ada apriori yang mendalam pada kebanyakan masyarakat Indonesia kalau kebudayaan orang-orang barat itu, atau yang sering disebut sebagai western adalah jelek. Fakta orang-orang barat yang seringkali mengabaikan norma dalam tindakan dengan mennganut kebudayaan casual memang tidak bisa dipungkiri memberikan andil yang besar, tapi memberikan penilaian jelek secara imparsial terhadap kebudayaan barat juga tidak bisa diterima begitu saja. Kita tidak bisa begitu saja mengabaikan fakta kalau orang-orang barat adalah bangsa yang sangat efisien, menghargai hak asasi dan sangat apresiatif terhadap prestasi seseorang adalah warna lain yang menurut hemat penulis perlu untuk ditiru!


Tapi sejenak saya ingin menuliskan satu cerita yang sangat bagus sekali, yang sangat bertalian erat dengan judul diatas! Ini kisah mengenai siswa bernama Posner, dalam film history of boys, yang bercerita mengenai sekolah khusus pria di inggris yang sedang dipersiapkan masuk ke Oxford maupun Cambridge!

Saya tidak akan bercerita mengenai keseluruhan isi film, justru yang ingin saya kupas adalah siswa bernama Posner ini, salah satu siswa yang memiliki prestasi cemerlang dalam studinya. Dia sangat ahli dalam music, puisi, dan drama, nilainya mungkin diatas rata-rata! Dia diterima di Oxford dengan meraih beasiswa! Sungguh suatu prestasi yang mengagumkan pada saat itu, ditahun 1973!

Yang membuat saya terbeliak tambah kaget adalah saat ia mengucapkan beberapa kata yang menjadi pamungkas dan menjelaskan kenapa ia mampu memiliki prestasi diatas rata-rata! Dia mengatakan “saya yahudi, kurus dan homoseksual, matilah saya” saya ingin menerjemahkan kata-kata ini!

Bahwa menjadi Yahudi di Inggris atau mungkin di eropa pada zaman itu adalah minoritas, dan tiu yang melecut seorang Yahudi bernama Posner ini untuk terus berprestasi, badannya yang tumbuh tidak seperti anak laki-laki normal pada umumnya yang atletis! Justru Posner kurus dan dan tidak berotot! Ini bisa menjadi alasan yang mendasari Posner untuk berprestasi! Dan yang terakhir dia homoseksual, sesuatu yang hingga saat ini belum bisa diterima, dan Posner menyadari bahwa jika ia tidak berpestasi bagaimana ia bisa dihargai seseorang! Kata-kata matilah aku menggambarkan berbahayanya jikalau seseorang yang memiliki banyak keterbatasan seperti Posner bertingkah seperti biasa, tidak memiliki prestasi yang membuatnya bisa dihargai oleh banyak orang! Justru ia tampil berprestasi!

Dan begitulah seorang yahudi dan mungkin sudah menjadi karakter dalam bangsa yahudi itu sendiri. Bangsa yang dalam kitab suci disebut sebagai bangsa diaspora ini merupakan salah satu dan mungkin satu-satunya bangsa yang paling eksis dalam pergaulan bangsa-bangsa didunia ini! Banyak orang mensinyalir kalau bangsa Yahudi adalah bangsa yang memang memiliki kecerdasan yang diberi oleh Tuhan. Saya sebagai orang yang sangat tidak suka pada anggapan-anggapan tidak berdasar seperti ini selalu menyangkalnya. Memang benar ada nash dalam alquran yang memberikan keistimewaan-keistimewaan pada bangsa Yahudi ini tapi bukan berarti Tuhan memberi volume otak yang lebih besar dibanding pada bangsa-bangsa lain! Justru kalau kita mempercayai ini berarti kita mengingkari kalau Tuhan maha adil! Yang menjadi keistimewaan bangsa Yahudi adalah bagiamana mereka mampu belajar pada masa lalu! Even kita juga tidak memungkiri kalau bangsa ini menurut AlQuran adalah bangsa yang paling rewel dalam melakukan perintah Tuhan. Terhitung bangsa ini adalah bangsa DIASPORA tertua dalam sejarah (yang terbesar tentu saja China), mereka melakukan dalam istilah kita perantauan ke negeri-negeri lain didunia ini, menjadi bangsa terasing di negeri orang, tapi hukum dalam kehidupan perantauan selalu saja berbunyi, orang yang melakukan rantau, atau diaspora atau hijrah, sebagian besar mampu survive dalam arus kehidupan ini. Mereka suskes dalam ekonomi yang kecenderungannya malah memiliki hegemoni baik ekonomi maupun politik! Bangsa Yahudi adalah contoh sukses mengenai bangsa yang melakukan diaspora, melakukan penyesuaian-penyesuaian, melakukan pembelajaran dan menyetir kelemahan-kelemahan mereka hingga menjadi bangsa yang bermartabat! Inilah akselerasi budaya bangsa Yahudi!

Menengok kembali kebelakang!, terutama pada diri ini yang terus berupaya meredefinisi identitas! Sepertinya kondisi saya masih jauh dari harapan! Saya belum bisa belajar pada bangsa Yahudi yang terus menerus melakukan penyesuaian-penyesuaian budaya hidup di negeri orang! Bangsa Yahudi pernah menjadi bangsa terhina pada zaman mesir dikuasai para firaun, pada zaman nazi, tapi mereka belajar, hingga survive seperti sekarang ini. Nah di usiaku yang ke 21 ini, ada desakan-desakan dalam diri ini mengenai bagaiamana diri ini sudah saatnya melakukan penyesuaian-penyesuaian atau lebih tepatnya akselerasi. Disiplin, efisiensi, hidup sehat seimbang, menyelaraskan antara skill dan etos kerja, dan terus memperbaharui diri itulah inti dari akselerasi 1.0 ini. Kesan “selalu terlambat, mengerjakan pekerjaan pada injury time deadline, mencontek, dan tidak memiliki initiative harus diganti! Diubah dengan performa pribadi yang disiplin, cerdas, memiliki skill, dan etos kerja yang baik! Itulah maksud dari akselerasi budaya gelombang pertama ini.


[singlepic id=32 w=320 h=240 float=left]

Ditulis dalam bingkai semangat akselerasi budaya

About the author

saumiere

Leave a Comment