[singlepic id=21 w=320 h=240 float=left]Dalam pikiran terdalam, saya selalu merasa ada sesuatu, there is something wrong in my life, what is that and how that? I can’t divine it! Yang pasti perasaaan ini selalu timbul setelah menyaksikan orang-orang disekeliling saya, dalam artian teman atau kerabat, tiba-tiba memperlihatkan sesuatu yang ajaib, entah itu prestasinya, performanya dan atau sesnsasinya, yang terkadang membuat gue ngiri, pengen memiliki sesuatu yang seperti dia. Ada teman yang tiba-tiba bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak diduga, dan bergaji besar, walaupun gue tahu, dia belum sebegitu berapa kemampuannya. Ada kawan yang tiba-tiba, secara mengejutkan berhasil mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Ada yang secara tak terduga memiliki koneksi yang luar biasa. Jadi, ketika dihadapkan pada hal-hal yang sedemikian itu, saya selalu iri. Kapan giliran saya!
KAPAN? Ya itu dia masalahnya guys, kapan kira-kira aku memperlihatkan prestasi yang selama ini ku impikan, karya yang selama ini aku dambakan! Dan terutama the real me… karena sesuangguhnya jauh dalam lubuk hati, gue merasa bosan dengan kondisi ini. Ketika saya belum pernah mendapat keberuntungan, although my mum is my biggest luck in my life! Keberuntungan dalam artian, dapat koneksi, ataupun pekerjaan yang memberikan jaminan masa depan! Truly, sometimes I was be an optimistic person, but in the real life, is not can be happen, mewujudkan sebuah impian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu usaha keras dan tidak mudah pantang menyerah oleh rintangan. The world is not created by looser yang bisanya just can be dreaming.
I’ve always hope, if the years I can go public, it means, gue bisa menunjukkan kepada msyarakat di indonesia, khusunya kalangan intelektual, seniman, dan kreator, bahwa saumi is exist. Tapi nyatanya, dalam dua tahun terakhir, mimpi gue belum menampakkan hasil. Belum ada satupun karya gue yang masuk ke media massa nasional, belum satupun novel gue yang rampung, stuck disitu-situ saja. Kalau mengingat hal itu gue selalu merasa menjadi pecundang! Pemimpi! Just can be dreamer not to be a hardworker. BECAUSE OF THAT, gue sekarang belum berani nargetin tahun berapa, atau diusia berapa gue akan sukses! Sukses dalam artian gue disini adalah can show to them who the real me.
Well then, siapa sesuangguhnya diri ini yang mau gue tunjukkin kedunia? Itu juga gue masih bingung. Mau jadi apa, mau kemana, dan apa saja yang diperlukan untuk be the real me is really stressful dan confused. Saat obrolan meanrik dengan ibu gue, terselip pertanyaan yang begitu menggelitik “Kamu ntar kerja apa ya mi” pertanyaan yang mengusik hati dan memeras otak ini. Sekaligus memunculkan pertanyaan bernada penyesalan “iya yah, selepas kuliah gue mau jadi apa, sebenarnya selama duapuluh tahun gue hidup gue udah dapat aja?” baik ketrampilan, pengalaman, maupun koneksi masih sangat minim. Ketrampilan desain gue masih belum tingkat provesional, alias masih amateur. Ketrampilan menulis gue belum berkembang. Dunia perbankan, jelas idak pernah kepikiran kalau gue mau jadi banker. Kalau manajemen marketing, sangat memungkinkan, tapi mengingat background gue yang UIN, jelas gue akan ditertawakan. UIN tidak memiliki bargaining position yang kuat dalam dunia kerja. Sempat terlintas, selepas kuliah gue mau nerusin S2 di luar negeri. Tapi kalau menengok kondisi finansial, jelas tidak memungkinkan. Dari segi English pun acak adul tidak karuan. Jadi ya sampai pertengahan usia gue yang kedua puluh tahun, gue masih terjebak.
Tapi bagaimanapun kondisi gue saat ini! Tidak kemudian membuat gue harus putus asa. Dalam sebuah terowongan yang gelap pasti ada setitik cahaya diujung terowongan. Asal ada usaha, pasti gue akan menemukan cahaya itu. Gue harus kerja keras, tidak membuang waktu dengan percuma. Dan semester ini, gue bertekad, mau memanfaatkan waktu dengan baik, dan mengembangkan semua skill yang gue miliki, berfokus pada tiga skill gue yakni desain, tulis menulis dan manajemen marketing!
Pengembangan skill ini, nantinya juga harus diiringi dengan attitude dan pergaulan gue. Perilaku gue yang kekanak-kanakan dan feminim harus gue minimalisir atau kalau bisa dihilangkan. Karena itu akan mengucilkanku dan kemudian menutup semua kesempatan yang ada.
Diary… there is something about me!

