Catatan Harian

3 Tipe Pembelanja di Akhir Tahun

Written by Saomi Rizqiyanto

Akhir tahun bagi saya, Saomi Rizqiyanto, Mara Sutan Rambe, Mufida Nazarli dan Michiko Isalinda adalah tanda untuk senang-senang. Karena pekerjaan selama satu semester sudah selesai, para mahasiswa sudah memasuki liburan. Jadi tatkala pihak pimpinan mengabarkan akhir tahun akan jadi momen untuk berjalan-jalan ke bandung. We are yelling “horray” sekeras-kerasnya. Bagi saya itulah saat yang tepat untuk bersenang-senang dan melupakan pilihan buruk masa lalu.

Bersenang-senang bisa diterjemahkan dalam tiga jenis kesenangan. Makan makanan enak, memanjakan diri berlibur di pantai dan berbelanja sepuasnya. Karena kita ke Bandung, maka jelas opsi pertama dan ketiga adalah yang paling mudah dipilih. Berjejer-jejer factory outlet di Cihampelas, toko-toko mewah di Ciwalk hingga kuliner mengasyikan di Paris Van Java tampak mengundang dan cukup menyibukkan pikiran. Waktunya bagi saya untuk menganalisis sifat-sifat belanja para anggota liga makan siang.

Jadi sewaktu aku dan yang lain tiba di Cihampelas, kami mulai bergerilya, menyusuri tiap toko dan mencoba satu persatu pakaian serta aksesoris.

Bagi Mufida Nazarli, belanja adalah bebas membelanjakan uang miliknya, prinsip Vda dalam berbelanja adalah “kalau ada duitnya beli aja”. Saya masih teringat perkataannya di suatu makan siang, katanya “kalau kamu suka barangnya, mending langsung beli, daripada nyesel nantinya”. Dengan prinsipnya itu, wajar jikalau di akhir sesi belanja, dia yang paling banyak memborong. Tiga gaun atasan, dua celana jeans, tiga bantal (aku gak tahu kenapa dia membeli bantal) dua aksesoris necklace, tujuh t shirt, dan berbungkus bungkus keripik serta jajanan khas lainnya.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Vda, Mara adalah jenis pembelanja paling konservatif, falsafah yang selalu dipegang adalah “beli apa yang kau perlu dan sesuai dengan dirinya” jadi wajar ketika kita hendak pulangpun, barang belanjaannya selain makanan adalah satu t shirt, itupun dipilihnya di factory outlet dengan terburu-buru setelah mendapat bisikan “masa ke bandung gak beli pakaian” jadi itulah dia, menggenggam satu kaus versace imitasi.

Kategori pembelanja ketiga adalah the collectors, dan ini jatuh pada pribadi Michiko Isalinda, selama dia berbelanja, dia hanya mau membeli di factoy outlet, dia tidak mau berbelanja di toko-toko biasa. Michiko selalu berpikir “selama model dan warnanya ok, dia mau membeli asal, dia belum punya dan modelnya unik” that’s it. Dia membeli kemeja berbahan rajutan wol l seperti untuk musim dingin, tapi katanya dia akan mengenakannya sebagai outwear.

And for me, I cant judge me who I am actually, yang pasti saya cukup puas dengan dua kemeja flaminggo yang sukses mengimpress orang dan satu belt imitasi Louis Vuitton.

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment