Culture & Education

Buku Digital Menggebu, Buku Konvensional Tak Layu

Oleh Maghdalena

“Aku rela dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
(Moh. Hatta, wakil presiden Republik Indonesia yang pertama)

Ada energi yang memelesat ke angkasa dari kutipan tokoh proklamator bangsa di atas. Sebuah kecintaan yang amat besar terhadap buku. Dengan adanya buku bersamanya, ia merasa tidak butuh apa-apa lagi. Ia bisa melayari pelosok mayapada, bahkan mungkin terbang tinggi ke angkasa.

Kita bisa membayangkan, seorang Bung Hatta terpasung di penjara, bersandar di dinding tembok yang dingin, abai dengan nyamuk yang tiap sebentar berdenging karena tengah asyik masyuk dengan buku di pangkuan. Membuka helai demi helai kertas, membaui aromanya dengan takzim, lalu hanyut di dalam setiap gubahan diksinya.

Begitulah intimnya seorang pencinta buku dengan buku yang dia baca.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Sejauh mana budaya membaca mengisi hari-hari kita? Masihkah buku bersemayam di relung hati kita, membersamai hari-hari kita dan menjadi teman dalam keseharian?

Dunia terus berputar, zaman berganti dengan cepat. Kecenderungan masyarakat dalam hal minat baca pun berubah.

Kita tidak bisa menafikan bahwa perkembangan teknologi hari ini menggerus banyak kebiasaan umat manusia. Salah satunya adalah dalam aktivitas membaca buku.

Dengan menjamurnya buku versi digital, membuat sedikit banyaknya industri penerbitan dan percetakan buku fisik pun mengalami degradasi.

Ada kecenderungan peralihan selera masyarakat dalam membaca buku yang selama ini membaca buku fisik, berubah menjadi buku digital.

Apakah keadaan ini salah? Tidak juga. Siapa yang bisa menghambat berkembangnya zaman, bukan?

Tidak ada yang bisa memintas berkembangnya inovasi dan kecanggihan teknologi.

Namun tentu saja, keadaan ini membuat banyak industri percetakan buku terpaksa gulung tikar karena selera pasar terhadap buku mulai beralih.

Kondisi pandemi yang membuat perekonomian dan penghasilan masyarakat menurun pun menjadi faktor yang sangat mempengaruhi, sehingga daya beli masyarakat terhadap buku pun menurun drastis.

Salah satu toko buku lawas di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, yaitu yaitu toko buku Kinokuniya, akhirnya resmi tutup pada 1 April 2021.

Mengutip laman detik.com, toko buku Kinokuniya ini setidaknya sudah lebih dari 22 tahun usianya. Setelah menutup toko, selanjutnya, manajemen akan mengoperasikan satu toko saja di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan membuka layanan penjualan via online.

Penyebab ditutupnya toko buku tersebut salah satunya adalah dampak dari pandemi covid yang entah kapan akan berakhir ini. Kita patut berduka, bergugurannya satu persatu toko buku menumbuhkan rasa khawatir juga di relung hati kita.

Benak kita dipenuhi tanya, bagaimana kelak nasib literasi bangsa ini?

Namun, kita juga jangan berduka terlalu lama. Karena saat ini telah berjamuran buku dalam versi digital atau ebook.

Munculnya ebook atau buku dalam versi digital ini menjadi bukti bahwa sedang terjadi transformasi tren dan budaya literasi dari tradisional ke dalam bentuk digital.

Buku digital sendiri merupakan penyajian buku dalam format digital. Isinya sama persis dengan buku konvensional. Wujudnya saja yang berbeda. Jika buku konvensional bisa kita genggam, maka buku digital tidak.

Mengutip laman bbc.com, munculnya buku versi digital ini diawali oleh seorang penulis yang bernama Peter James. Dia adalah seorang penulis novel yang menerbitkan karya novelnya berjudul Host dalam bentuk dua floopy disk.

Hal itu terjadi pada tahun 1993. Sebuah gebrakan yang langsung mendapatkan kecaman dari para jurnalis. Terbitnya buku pertama versi digital itu disinyalir akan membuat industri buku konvensional terancam.

Dan ternyata, begitulah yang terjadi. Pelan tapi pasti tren di dalam masyarakat berubah.

Tahun 2007 menjadi titik balik semakin menjamurnya industri buku elektronik dengan dirilisnya Kindle oleh Amazon. Kindle adalah perpustakaan dan toko buku digital di Amerika Serikat yang dirilis Amazon dengan menjual dan menyewa buku dalam format elektronik.

Tak lama berselang, bermunculan toko buku digital lainnya di Amerika Serikat seperti Nook, iBook Store, dan lain-lain.

Industri buku cetak semakin megap-megap. Ibarat ikan kehabisan air, industri tersebut mulai kewalahan di pasaran. Sifat manusia yang menginginkan hal-hal yang serba praktis, cepat dan mudah membuat industri buku digital mendapat tempat di hati para konsumen.

Lalu, apakah kemudian industri buku konvensional ini akan mati suri lalu hilang sama sekali?

Sepertinya tidak. Karena dalam realitanya, masih banyak orang-orang yang lebih menyukai buku dalam wujud fisik daripada berupa digital.

Kepopuleran buku konvensional saat ini masih menjadi primadona dan pilihan utama masyarakat dalam membaca. Walaupun tentu saja, kita tidak menutup mata bahwa selera masyarakat banyak yang beralih, namun buku konvensional tetap akan memiliki pasarannya sendiri.

Hal ini ditunjukkan dengan masih besarnya angka penjualan buku di toko buku fisik maupun online. Banyak kalangan yang beranggapan bahwa ebook hanyalah sebagai pelengkap atau komplementer disaat masyarakat tidak bisa memperoleh buku fisik.

Ada banyak faktor penyebab mengapa buku konvensional masih menjadi primadona. Di antaranya adalah, dengan buku konvensional pembaca bisa memiliki secara fisik buku tersebut, mereka bisa merasakan sensasi membalikkan kertas, membaui aromanya. Pembaca juga bisa lebih fokus karena mata tidak cepat lelah, dan alasan lainnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh penerbit buku konvensional hari ini? Salah satunya bisa dengan meluaskan sayap pada usaha buku digital. Jadi, terbitkan buku versi cetak, juga versi digitalnya bersamaan. Kelak, buku itu akan menemukan konsumennya sendiri.

Tak perlu risau dengan buku cetak atau buku digital. Yang tetap perlu kita lakukan adalah menumbuhsuburkan budaya literasi di hati anak negeri, sehingga tiada hari tanpa aktivitas literasi.

Semoga kelak, generasi kita akan mencintai buku sebagaimana Hatta mencintai buku. Karena dengan buku ia mendapatkan kebahagiaannya. Dengan buku ia mendapatkan kebebasannya.

Padang, 28 Juli 2021

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment