Menghangatnya isu kemerdekaan palestina yang digadang-gadang presiden Mahmoud Abbas melalui proposal keanggotaan penuh PBB akhir-akhir ini mau tak mau mengundang banyak pihak untuk ikut menaruh perhatian. Para pemimpin politik terkemuka, pemuka agama hingga petinggi organisasi turut serta larut dalam isu yang sensitif ini. Sekali lagi keseriusan dunia untuk menuntaskan konflik berkepanjangan Arab Israel diuji, apakah keanggotaan penuh Palestina di PBB menjadi solusi damai atau malah menjadi pemicu untuk konflik berdarah selanjutnya.
Tapi tulisan ini tidak untuk melihat konflik dari sudut pandang politik, tapi sebaliknya melalui bingkai film yang mana mencoba melihat kembali hubungan Israel dam Arab dalam sudut pandang seni, dan kemanusiaan. Bagi penulis pribadi, sudut pandang politik dan ekonomi hanya membuat masalah menjadi lebih pelik, karena yang berbicara adalah kekuasaan dan urusan perut. Tapi dalam frame film, penulis melihat cita rasa dan nilai dari hubungan manusia seutuhnya.
Frame pertama dalam hubungan damai Israel dan Arab, penulis dapatkan dari film perancis berjudul Monsieur Ibrahim et les fleurs du Coran yang artinya kurang lebih Tuan Ibrahim dan Bunga AlQuran. Film ini meraih berbagai penghargaan bergengsi dalam berbagai festival, sebut saja Venice Film Festival, Cesar Awards dan Golden Globe.
Film ini bercerita mengenai dua anak manusia yang hidup bertetangga di jalanan Biru di kota Paris. Adalah Moses Schimdt, seorang anak remaja berusia 16 tahun berdarah yahudi yang sedang gila dalam hormon pertumbuhan. Saat ia mencapai usia 16 tahun penuh, dia belajar untuk menarik perhatian bagi para wanita di jalanan biru. Mencoba merajuk salah satunya untuk berhubungan layaknya orang dewasa dan membayar wanita itu dengan uang tabungannya. Tetangganya adalah Ibrahim Daneji, seorang muslim dari Turki berdarah Arab, pemilik toko kebutuhan sehari-hari di jalan biru.
Ayah Moses diceritakan adalah seorang Yahudi yang gemar bekerja, menyuruh anaknya untuk berhemat dan banyak membaca, tapi dia tidak punya cukup waktu walau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Ibu Moses sudah lama meninggalkan Moses dan ayahnya. Sehingga Moses ibarat hidup dalam kesendirian. Saat-saat makan malam ayah Moses sering memerintahkan untuk pergi ke toko si arab membeli kekurangan bahan pangan. Moses tahu bahwa Arab yang dimaksud adalah tuan Ibrahim, karena cara pengucapan ayahnya yang kurang baik dan terkesan betapa jeleknya orang Arab, Moses mengikuti kebiasaan itu. Moses tidak ragu untuk sekedar mencuri sembari berkata “dia adalah orang arab, jangan pedulikan”
Suatu ketika, Tuan Ibrahim mendengar perkataan itu, lalu menjawabnya “saya bukan dari arab tapi dari golden crescent (istilah untuk merujuk wilayah asia kecil dan tengah) momo” ujar tuan ibrahim. Moses kaget karena dia dipanggil Momo. Lalu terjadilah banyak percakapan-percakapan penting diantara keduanya. “apa pedulimu, Moses adalah Seorang Yahudi, sedangkan kamu Arab” ujar Moses, tuan Ibrahim menjawab “saya bukan arab momo, tapi saya seorang muslim”
“tapi kenapa ayah saya selalu bilang ke saya untuk pergi ke orang arab” tanya Moses, tuan ibrahim menjawab dengan bijak, “arab berarti toko yang buka dari jam delapan sampai tengah malam, walau pada hari minggu” ujarnya.
Lalu ada banyak percakapan-percakapan bermakna antara dua orang insan ini. Seperti ketika Ibrahim dan Moses berkeliling Paris di minggu sore. “saya pikir seorang muslim tidak boleh minum” kata Moses lalu Ibrahim menjawab “ya, tapi saya juga sekaligus seorang sufi” katanya. Kemudian saat-saat Moses dan Tuan Ibrahim pergi ke tampat sauna. Moses bertanya “apakah anda disunat” “tentu saja ya, menjadi muslim itu sama seperti menjadi yahudi” “lalu kenapa anda tidak menjadi yahudi” ungkap Momo, tuan ibrahim menjawab singkat “ini tanganku dan ini mulutku” “saya tidak paham” “kamu tidak bisa memahami semuanya dengan otakmu”
Komunikasi seorang muslim yang notabene timur tengah dan seorang perancis berdarah yahudi ini terus terjalin degan baik. Moses seperti mendapati seorang bijak yang bisa mengobati kegalauannya disaat ia beranjak dewasa. Sedangkan bagi tuan Ibrahim, Momo seperti anaknya sendiri yang tidak ia dapati. Hubungan Moses dan Ibrahim menjadi semakin erat, tatkala secara mendadak polisi mengabari jikalau Mr. Scmidt (ayah moses) telah melakukan bunuh diri. Tak lama, Tuan Ibrahim mengadopsi Moses secara legal, mereka berdua membeli mobil dan melakukan perjalanan jauh dari Perancis, Switzerland, Albania, Yunani hingga Turki.
Film ini bagi penulis telah mengajarkan satu hal akan hubungan seorang Yahudi dan Muslim. Bahwa diantara keduanya, sejatinya tidak ada perbedaan yang berarti, karena diatas semuanya ada nilai kemanusiaan yang mulia, untuk saling memperhatikan satu sama lain. “itu yang diajarkan dalam Quran” seperti penuturan Ibrahim dalam film ini. Satu hal lagi, bahwa terkadang kebencian itu seperti dipelihara, bukan dihempaskan. Ketidak tahuan, buruk sangka dan stigma negatif seperti selalu dibawa dalam pergaulan umat manusia padahal di banyak kitab suci, dianjurkan untuk saling mengasihi dan memberi bukan sebaliknya.
Benang merahnya adalah jelas, konflik Palestina dan Israel jelas murni karena kebencian, ketidak tahuan, dan buruk sangka yang selalu diturunkan selama beberapa generasi. Kalau sudah begini, bagaimana israel dan palestina bisa berdamai. Sejatinya mereka hanya bisa berdamai jikalau menyadari ada banyak kesamaan diantara mereka. Sama-sama keturunan nabi Ibrahim (Abraham), sama-sama memiliki keyakinan Tauhid. Ajarannya yang hampir mirip seperti disunat, tidak memakan bangkai, babi, dan khamr. Penulis yakin jika ini yang dikedepankan, insyaallah, Palestina dan Israel, akan bisa hidup berdampingan.

