[singlepic id=165 w=320 h=240 float=left] Tenang saja, ini hanyalah ajakan nonton malam minggu yang let say, banyak dilakukan oleh anak muda zaman sekarang. Dan ini bukan berarti kencan sungguhan kan! Setidaknya pikiran itulah yang bersemayam dalam benakku sore ini, aku sudah mencoba menenangkn pikiran dengan menyeduh teh chamomile tapi tidak bisa, aku harus berdandan. Oke aku akan memakai t shirt putih bergambar tinker bell itu, dipadu jeans skinny keluaran lee cooper dan cardigan cashmere coklat muda, ah benar-benar sempurna sekali malam ini.
Tapi aku nggak kepingin tampil berlebihan dihadapan Chabi malam ini, nanti dia malah mengira aku khusus berdandan demi dia, ah gak usah yah! Tapi ini juga kesempatanku untuk setidaknya berdekatan dengan dia, kesempatan langka yang jarang didapat oleh cewek kurang popular seperti aku! Jadi seperti ini sudah cukup! Tinggal masalah penjemputan saja. Chabi akan datang satu jam lagi, dan aku belum mempersiapkan segalanya. Aku nggak mau dia ngedapati kostan-ku yang crowded seperti ini.
Ya Tuhan! Pakaian kotorku belum ku cuci, seharusnya aku laundry saja, tapi mana ada uang saat bulan bokek sseperti ini! Benar-benar tolol, seharusnya dari tadi pagi aku cuci, sehingga tidak ada pakaian menumpuk kotor di sudut ruangan kostan-ku. Jujur, aku tidak mau terlihat kotor dihadapannya. Tapi sebentar pasti bisa aku paksa supaya boks tempat pakaian kotorku menutup sehingga tidak kelihatan bergerumbul seperti itu. Tinggal masalah tekan, dan risleting yang benar. Yup itu saja.
Tapi, dasar sial, boks-ku sudah overloaded walaupun bisa ku tutup, tapi kelihatan menjuluk menggunung begitu. Gak apa-apa lah, toh dia gak mungkin tanya itu apakan. Jadi ya hanya itu… sekarang aku tinggal memanggang roti, supaya ada aroma kue ketika dia memasuki kostan ini. Aku meraih toaster, menyalakannya dan memasukkan dua keping roti kedalamnya, terus menyeduh cappuccino dan menyiapkan novel yang kubeli kemarin saat aku ke Blok M.
Jadi begitu dia masuk, dia akan mendapati aku sedang membaca novel sophie kinsella yang baru, dengan aroma cappuccino dan roti panggang yang menyesaki ruangan ini. Pasti dia akan mengira, aku cewek berkelas yang mampu mengatur hidupnya dengan baik!
Ting! Itu tanda kalau Chabi sudah datang, aku langsung berlari membukakan pintu dan mendapati Cowok super ganteng berdiri didepanku. Dengan aroma musk yang begitu kukenal, dia tampak memukau dengan kemeja flannel dan vest serta jeans yang aku tidak tahu model apa namanya, soalnya seperti lagi ngetren dikalangan cowok! Dan coba tebak, dia membawakanku apa? Bukan… bukan bunga, sejujurnya aku tidak terlalu mengharapkan cowokku akan romantic, dia membawakan ice cream! Sungguh diluar dugaan.
“tadinya gue bingung mau ngebeliin apa, tapi kayaknya loe bakalan suka sama ini” ujarnya sembari mengulurkan boks ice cream walls.
‘ice cream, wow, makasih… yuk masuk dulu” ajakku seraya menaruh boks itu ke meja yang khusus digunakan untuk menaruh segala makanan yang ada dikostan ku, termasuk cappucinno dan novelku itu
“kamu lagi baca novel, novel apa ini” tanya Chabi sambil mengambil tempat duduk. Aku berlari menghampirinya dan duduk tepat disampingnya
“sophie kinsella, ceritanya tentang cewek yang suka belanja, terkadang dia mendapat masalah dengan hobinya itu tapi kebanyakan malah dia beruntung! Aneh tapi nyata”
“mana ada kisah seperti itu” Chabi mencoba menyangkalnya
“hey… kalau orang berpikiran sepertimu mana mungkin buku ini mencetak best seller dimana-mana” aku membela sophie, jelas dia salah satu pengarang favoritku!
“oke… jadi kapan kita pergi” Chabi sepertinya sudah tidak sabar untuk mengajakku keluar malam ini. Tapi aku juga punya kejutan untuknya.
“bagaimana kalau kita tunda sebentar” katau sembari meraih tangannya dan membimbingnya duduk di tepi spring bed ku
“bagaimana kalau kita menghabiskan ice cream ini dulu”
“oke” ucapan itu sesuai dengan rencanaku malam ini. Kau tahu aku sudah menyiapkan semuanya, meja yang seharusnya menghadap ke pemandangan kota aku geser sedikit sehingga ada ruang dimana aku dan Chabi bisa menyaksikan pemandangan kota malam itu! Bukan kota seperti yang kau bayangkan di New York tapi ya kupikir setiap pemandangan kota di malam hari pasti indah dimanapun kau berada!
“aku tidak percaya, kamu dapet kostan yang bagus kayak gini” ujar chabi sembari berdiri menyingkap secara keseluruhan tirai jendelaku.
“kalau kau mau kita bisa ke balkon dan menikmatinya diluar” usulku sembari membukakan pintu menuju balkon
“view-nya bagus banget” itulah komentar yang keluar dari mulut kekasihku Chabi, dan disitulah kami, menghabiskan sepanjang sore itu, menikmati suasana sore, menyesap ice cream dari sendok kami masing-masing—ya oke terkadang juga kami saling memberi, maksudku aku menyendokkan ice ke mulutnya dan begitu juga dengan dia. Bahkan terkadang kami pun berciuman, banyak ciuman.
Dan disanalah kami menghabiskan sepanjang sore itu membicarakan semua yang terlintas dibenak kami. Dan salah satu topic yang menjadi bahasan kami adalah mengenai mantan pacar kami masing-masing. Jujur sejujur jujurnya aku belum pernah pacaran dan ini pertama kalinya aku terlibat kencan dengan cowok ganteng. Sungguh. Jadi ketika Chabi menanyaiku mengenai hal ini ya aku jawab aja belum pernah. Tapi reaksi yang timbul pada Chabi adalah dia mengerutkan dahi
“masa belum pernah sih” Chabi terheran-heran sembari memperhatikanku. Aku yang sedang bersender di bahu chabi otomatis terangkat.
“sumpah ini baru pertama kalinya aku pacaran” ujarku balik memandang. Sebenarnya aku merasa paling beruntung, karena Ruben adalah orang yang pertama kali ku taksir dan setelah itu jadi pacar. Pernah sih aku memimpikan cowok yang serupa dengan Chabi sewaktu di SMA tapi dia tipe orang yang tidak mau berpacaran dengan gadis buruk rupa seperti aku. Dan kau tahu namanya agak mirip pun dengan kepribadiannya. Jadi ya mungkin memang tipe aku seperti Chabibi, tinggi, ganteng plus atletis selain itu pintar di kelas. Jadi gak malu-maluin.
“jadi aku beruntung dong” Chabi kali ini merangkulku lebih erat. Nafasku dibuat naik turun olehnya. Maksudnya beruntung apa, sejatinya aku yang beruntung bukan dia.
“karena aku jadi orang yang pertama yang memacari kamu” wah jelas maksudnya itu. Aku tersenyum kecil mendengarnya. Jadi teringat teori yang menjelaskan kepribadian cowok, bahwa karena template cowok dari sononya adalah seorang hunter, jadi akan ada kebanggan bagi seorang cowok yang bisa mendapatkan perhatian pertama dari seorang cewek. Kali ini aku mengerti maksud teori itu.
“kalau kamu Beb” tanyaku dengan mengganti kata ganti kamu menjadi beb, ungkapan rasa seseorang bila sedang pacaran. Biasanya orang-orang yang sedang kasmaran menggunakan kata-kata ini untuk menunjukkan rasa sayangnya. Ada yang menggunakan kata-kata Say, mami papi, honey, dll. Tapi aku pilih kata-kata beb.
“kamu bilang apa barusan” Chabibi balik Tanya.
“beb” aku menjawab seraya tersenyum ke arahnya dan Chabibi pun tersenyum mendengar kata-kata itu
“oke, sekarang kita tidak lagi menggunakan kata-kata aku kamu tapi beb, seru juga” aku yang mendengarnya bersorak, hooray! Tapi aku kembali menampakkan muka serius
“ih beb, aku serius, hubungan kamu dengan mantan-mantan kamu gimana, setahu kau kamu kan banyak yang suka di kampus, jadi…” aku mengangkat tangan mencoba mengorek sisi dalam kehidupan pria ini. Chabibi tampak tak bergeming walau menampakkan muka senang di hadapanku. Dia sama sekali tidak menjawab, walau dalam hati aku juga tahu bahwa cowok terkadang sangat sensitive ketika membicarakan mantan-mantannya. Tapi aku kan pingin tahu seperti apa hubungannya dulu dengan mantan-mantannya. Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan tapi aku pingin tahu sejauh apa Chabibi mampu menunjukkan keterbukaan dirinya.
“bebh, kok gak dijawab sih” aku terus menyudutkan posisinya agar dia bisa membuka dirinya lebih banyak buat aku.
“kita ngomongin ini gak sekarang yah” jujur aku agak kecewa dengan jawaban ini tapi mau gimana lagi. Chabibi kemudian beranjak ke dalam. Aku merutuki diri ini. Sungguh kenapa aku merusak sore yang indah hanya karena ingin mengorek kehidupan sisi dalam Chabibi, karena siapa tahu aku bisa mengorek bagaimana hubungan Chabibi dengan Winda berlangsung. Kau tahu kan, jalinan asmara Chbibi dengan Winda layaknya pasangan ideal yang pas dipajang di majalah. Tapi hubungan itu kandas ditimpa gossip kalau Chabibi punya teman selingkuh di kampus. Sungguh berita ini memang menggemparkan kampus dan dunia pemberitaan infotainment tentunya!
Aku menyusul chabibi ke dalam dan mendapati dirinya sedang duduk di sofa tengah yang menghadap televisi.
“bebh, aku minta maaf” ujarku sembari mendekat dan mengambil tempat disisinya.
“aku gak bermaksud untuk…” omongan ku terpotong oleh Chabibi
“gak papa kok, lagian wajar kalau kamu pingin tahu mantan-mantan aku, tapi gak sekarang yah” penyataan itu kembali membuatku lega.
“kita jadi nonton kan” ujar Chabibi membuatku teringat rencana malam ini. Ya tuhan malam minggu ini akan menjadi malam minggu terpanjang yang pernah ku lalui. Aku mengangguk dan Chabibi kembali menghela rambut dan mengusap wajahku.

