Pergaulannya memang lebih banyak dihabiskan di lingkungan akademis ketimbang kongkow-kongkow di kantin fakultas tapi kalau ditanya “waktu luang apa yang paling banyak dihabiskan” Ia menjawab “waktu luang yang paling banyak dihabiskan bagi saya ya jalan bareng temen, nonton film, download music, atau sekedar main game di computer dan satu lagi jadi facebook prayer” itulah setidaknya jawaban yang keluar dari Saumi, Mahasiswa semester akhir fakultas syariah dan hukum jurusan muamalah perbankan syariah ketika ditanya oleh sebagain kru majalah i-syariah disela-sela waktu rehat.
Mendapati mahasiswa umum yang terlibat aktif di penggrapan majalah bernuansakan hukum memang sulit dijumpai di lingkungan kerja Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia. Biasanya dan memang sudah menjadi tradisi, orang-orang yang terlibat aktif di kegiatan-kegiatan HISSI adalah orang-orang yang memiliki background pendidikan hukum atau paling tidak menjadi aktivis kampus, yang memiliki performance serius, intelektual, doyan debat, dan suka membincangkan narasi-narasi besar atau paling tidak membawa buku-buku bertemakan keadilan. Namun ternyata terma itu tidak berlaku bagi Saumi. Pasalnya pengagum Sophie Kinsella ini bukanlah aktivis organisasi, juga bukan penggiat bantuan hukum atau pengkaji buku-buku narasi besar, Saumi hanyalah mahasiswa biasa yang suka nongkrong berjam-jam di depan facebook, yang masih termakan omongan teman-temannya untuk membeli mode baju terkini. Bahkan siang itu, Saumi sempat menjelaskan mengenai kemeja ber-vest yang kini lagi on, serta skinny jeans yang tidak pernah mati. “saya merasa seperti Reese Witherspoon, yang menjadi lawyer berpakaian serba pink sementara lawyer-lawyer yang lain mengenakan tuksedo atau blazer serba hitam” ujarnya sembari menyadur film Legally Blonde.
Tapi menurut pengakuannya, Saumi pernah mengikuti LK 1 (Latihan Kader) HMI walau kemudian tidak pernah aktif di komisariat. Alasannya, “ya karena waktu itu saya masih aktif di LPM INSTITUT” Saumi memang tercatat sebagai redaktur majalah Intitut bahkan sempat menjabat sebagai sekretaris umum walau kemudian mundur teratur karena diajak berkarya di HUMAS UIN terutama di bagian Pemberitaan UINNEWS, Akhbar Jamiah dan Majalah Dinamika.
GROWN UP TO BE CREATIVEPRENEUR
Dimulai ketika masa SMU, Saumi di masa remaja memang sudah tertarik dengan dunia kreatifitas. Ketika itu dia sudah tergabung di ekstrakurikuler jurnalistik yang mengasuh majalah sekolah, bahkan swaktu duduk di kelas 2 di Muallimin Muhammadiyah Hogere School Jogjakarta, saumi sudah direkrut menjadi reporter muda pada majalah kuntum, majalah anak muda yang tersebar luas di sekolah-sekolah berbasiskan Muhammadiyah di Indonesia. Diwaktu itu Saumi sering terlibat dibagian produksi terutama bagian desain dan tata letak artistic.
Melanjutkan kuliah di perbankan syariah bukan berarti memupuskan harapannya untuk total di bidang jurnalisme, malah justru semakin mendorong daya kreatifnya untuk tetap memiliki keunggulan kompetitif. Saya pernah terpikir untuk pindah jurusan ke fakultas dakwah dan komunikasi jurusan Broadcast (KPI) tapi mengingat waktu akhirnya saya batalkan. Bahkan kalau dipikir, lama-lama saya merasa berunutng karena masuk Perbankan Syariah membuat saya memiliki wawasan ekonomi yang sangat berharga.
Bahkan justru dimulai dari sanalah kemudian terbersit dalam benak Saumi sebuah ide untuk menjadi creativepreneur! (terma yang digagas Yoris Sebastian dari MRA Group untuk menggambarkan profesi kreatif). “saya merasa punya remix background yang pas untuk profesi ini, Jurnalisme sebagai cara komunikasi, Desain Grafis dan Web Master sebagai komoditi dan Ilmu Ekonomi sebagai managemen bisnis. Pefect mix kan” ujar pria penyuka jenis music Pop dan RnB ini. Tatkala didesak kenapa memilih menggeluti profesi kreatif dibanding menjadi pakar financial syariah, Saumi menjawab bahwa sekarang masa gelombang ekonomi sudah memasuki gelombang ekonomi ke 4, yang ciri dari keekonomian ini adalah salah satu basis produksinya berdasarkan kreatifitas. Sejumlah ide dan gagasan yang dikemas menjadi produk bernilai tinggi yang dipasarkan secara massif melalui teknologi informasi.
Jawaban Saumi mungkin ada benarnya. Alvin Toefler, futurology kenamaan itu bisa jadi lupa bahwa era ekonomi tidak hanya akan berhenti pada era teknologi informasi tapi berlanjut pada era ekonomi kreatif. Beberapa negara besar seperti Inggris, Singapore dan Australia bahkan sudah berancang untuk menjadi pusat ekonomi kreatif.
SO, HOW TO DEAL WITH…
Sebelum beranjak untuk melaksanakan kerja-kerja berikutnya, Saumi sempat ditodong beberapa pertanyaan yang terkadang sulit untuk dijawab. Seperti, the next big thing… karena saumi merupakan orang yang takut untuk merancakan sesuatu maka Saumi hanya menjawab “there is no plan dude! I have a point but let the point flow like a water” ujarnya sembari meneguk ice tea. Tapi setidaknya ada dong hal yang pingin segera dilakukan. Jawabannya simple dan seperti kebanyakan mahasiswa tingkat akhir lainnya. “lulus kuliah, doain aja januari selesai”
Seakan berlomda dengan waktu, perbincangan kecil itu berhasil juga mengorek sisi dalam Saumi terutama kaitannya dengan pandangan hidup atau filosofi. “ya hidup bagi saya seperti proses nge-mix lah…, jadi ibarat music, kalau remix nya pas pasti lagunya terdengar enak, tapi kalau remixnya buruk yang keluar juga cuma junk” Tadinya rekan-rekan merasa terheran-heran tidak mengerti dengan filosofi hidupnya tapi mengingat kilas baliknya, the guy with valentino, seorang fashionista yang juga aktivis, creativepreneur, seorang graphic designer, web master dan freelance author yang juga kuliah ekonomi, pasti semua paham. So how to deal beib…
Favorite Quotations: “Prestasi dan kerja adalah dua hal yang harus kita apresiasi, kita harus
menghargai orang-orang yang bagun pagi untuk bekerja” Nicholas Sarkozy
“the limit is not exist” Lindsay Lohan

