/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Sore itu Nonie terlihat tidak seperti biasanya, dia dibantu sama Bik Eni sedang membungkus beberapa dus berisi makanan. Mama juga turut membantu dengan mengecek kelengkapan tiap dus makanan!
“emang buat siapa saja sih Non” kata Bik Eni ditengah kesibukannya memasukkan cupcakes isi keju ke dalam dus makanan.
“adalah Bik” Nonie mencoba tidak menjawab, tangannya sibuk melipat napkins yang disisipkan di tiap dus. Memang rencananya untuk menyambangi panti asuhan anak shalih hanya Mama yang tahu dan Nonie tidak ingin rencananya ini bocor dulu. “nanti bibi juga tahu kok” lanjut Nonie, rencananya ini memang sudah di susun matang-matang, bahkan jauh sebelum ramadhan tiba. Niatnya Nonie ingin berbuka bersama dengan anak-anak yatim piatu di panti asuhan anak shalih bareng Mama, Kenny, Ghita dan Bik Eni. Nah niat itu baru kesampean mingu ini ketika Mama semalam mendukung penuh niat Nonie.
“ya udah kamu tinggal cari waktunya kapan nanti Mama dan Bik eni yang siapin semuanya” ujar Mama, wuah… senang banget hati Nonie ketika itu. Pasalnya mungkin hanya itu yang bisa dilakukan pada Ramadhan ini. Katanya bulan ini adalah bulan kebaikan di mana amal shaleh yang kita lakukan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah.
Tapi sebenarnya bukan hanya itu sih yang mendasari Nonie akhirnya mau berbagi kebaikan, pasalnya beberapa minggu yang lalu, saat Nonie tidak dapat tumpangan pulang ke rumah bareng Ghita, Nonie secara tidak sengaja melewati kompleks rumah usang yang tampak banyak sekali anak-anak kecilnya, anak-anak itu kurus, tubuhnya berbalut baju layak pakai dan beberapa hanya mengenakan singlet yang warna putihnya sudah pudar, kaki-kaki mereka mayoritas tidak terbunglus sandal, walaupun begitu (dan ini yang membuat Nonie terenyuh) mereka tetap berkejaran kesana-kemari dengan muka penuh tawa. Dan saat Nonie membuka bungkusan permen besar, mereka berebut dan berceloteh riang sekali
“kak aku tiga dong” seru celotehan seorang anak “kak kok dia dapet lima aku Cuma dua” celoteh yang lain “iya-iya sabar ya” Nonie mencoba menengahi, sembari mulutnya dihiasi ulasan senyum! Dari situlah kemudian Nonie berniat ingin mengadakan buka puasa bareng anak-anak ini.
Nonie tak tanggung-tanggung mewujudkan niatnya, sewaktu pulang kuliah ia bahkan bela-belain ngajak Ghita dan Kenny untuk datang ke rumahnya sore ini.
“Ayolah Ken, Ghita, Pliss” Nonie memohon kepada dua sobatnya sore itu
“emang ada apa sih, loe belain-belain gitu, sampe-sampe loe gak mau gue ajak buka bareng di Sensi (senayan city)” Ghita menimpali sembari menyetir.
“udahlah kan buka bareng kita-kita udah sering dan bisa diganti kapan aja, init uh sekali seumur hidup tau, dijamin loe semua gak bakaln nyesel” Nonie mencoba meyakinkan.
“mau kan Ken, Ta” Nonie kembali merayu kedua temannya, dia memasang wajah memelas, agar kedua sobatnya itu mau datang sore ini.
“iya deh-iya” ujar Kenny dan Ghita hampir bersamaan.
Pukul lima tepat, semuanya sudah siap, Kenny datang bersamaan dengan Ghita, Bik Eni sudah mejeng dengan jilbab barunya, Mama juga sudah siap dengan beberapa baju (Nonie baru tahu kalau Mama juga ingin menyumbangkan beberapa jilbab baru untuk para asatidz di panti asuhan tersebut) mereka berangkat dengan dua mobil. Jaraknya memang dekat cuma dua blok, namun dengan banyaknya makanan membuat mereka terpaksa membawa dua mobil.
Mereka disambut pimpinan Panti Asuhan sendiri, yakni Bapak Sholeh, dan ternyata di sana juga sudah disiapkan meja-meja dan kursi-kursi kecil tempat mereka akan duduk dan berbuka bersama. Karena waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi, mereka dibantu beberapa ustadzah, langsung membagi-bagi makanan itu. Ada rasa bahagia saat Nonie menyerahkan per satu dus kepada satu anak, rasanya tidak bisa dijelaskan begitu saja, seperti rasa kelegaan yang membuat hati terasa tenteram!
Dan saat berbukalah, semua rasa itu memuncak, kelegaan itu semakin terasa ketika Nonie mengucap syukur atas berkah dan rahmat yang dilimpahkan Allah baik untuk dirinya maupun semua orang yang ada di sana!
“jadi ini acara yang loe bela-belain itu” ujar Kenny menggoda Nonie, “cie…”
“tapi sumpah lho Nie, acara loe keren abis, gua juga mau ah kapan-kapan” ujar Ghita berkomentar. Bagi Nonie sih, ini suatu kelegaan besar. Beberapa barang berharga miliknya seperti jam tangan Levi’s Limited Edition, dan baju Channel yang harus ia lego supaya ia bisa mewujudkan acara ini, seperti tiada artinya dibanding kelegaan ini.

