[{"Value":"","Discard":false,"Expires":9999999999}]
Pertanyaan ini menjadi vital lantaran tidak hanya karena Indonesia sedang menjabat keketuaan ASEAN di tahun 2023, namun juga karena ASEAN kini berada ditengah kondisi geopolitik regional maupun internasional yang pelik. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, ASEAN sedang menghadapi situasi politik dan keamanan Myanmar yang tidak menentu, konflik di Myanmar hingga saat ini belum menemukan titik temu walau utusan ASEAN dan utusan PBB sudah berkunjung dan memberikan saran. Kisruh di Myanmar tidak hanya memunculkan rasa frustasi di kalangan pemimpin ASEAN namun juga keterbelahan internal di ASEAN. Terkini, Thailand dan Kamboja memilih melakukan pendekatan sendiri diluar konsensus ASEAN.
Pada tataran global, situasi panas kini sedang terjadi di halaman depan negara-negara ASEAN khususnya di wilayah Laut Natuna Utara dan Laut China Timur. Sengkarut batas wilayah antara ASEAN dan China di Laut Natuna Utara belum menemukan titik temu, China terus menerus mengklaim sembilan garis putus-putus sebagai batas teritorialnya sementara negara-negara ASEAN kompak menolak klaim sepihak yang tidak berdasar pada hukum internasional tersebut. Di Laut China Timur, selain tumpang tindih wilayah, konflik panas yang terjadi antara China dan Taiwan, cukup membuat tensi geopolitik cukup tegang dan mengarah pada Perang Dunia. Pasalnya konflik China dan Taiwan ini mengundang segenap kekuatan besar untuk bermain di palagan ASEAN. Amerika Serikat dengan AUKUS dan Quad-nya mencoba membendung pengaruh China dengan memperkenalkan Kapal Selam Bertenaga Nuklir, sementara China terus-menerus melakukan manuver-manuver militer demi mempertahankan klaim teritorial atas Taiwan. Aksi-aksi ini membuat kawasan terancam menjadi kancah peperangan. Oleh karenanya kembali ke pertanyaan semula, apakah mantra presidensi indonesia di ASEAN kali ini tetap bertuah? Apakah ASEAN penting?
Subscribe to our newsletter!
Dari sudut pandang diplomasi, organisasi regional seperti ASEAN tetap penting dibutuhkan. Joseph Nye dalam teori regionalisme menyebut, setiap negara yang memiliki kesamaan etnis, budaya, agama, wilayah memang membutuhkan organisasi regional karena hanya dengan organisasi regional inilah maka kepentingan politik dan ekonomi masing-masing negara bisa tercapai. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang merasa memiliki kesamaan nasib ini memproklamirkan berdirinya organisasi regional pada tahun 1967, tujuan utamanya memang untuk saling melakukan kerjasama ekonomi demi meningkatkan taraf kehidupan rakyat di Asia Tenggara. Organisasi regional yang didirikan oleh Adam Malik, Narcisco Ramos, Tun Abdul Razak, Rajaratnam dan Thanat Khoman ini memang tidak tertarik untuk membentuk aliansi keamanan, hanya sekadar mempromosikan perdamaian dan keamanan wilayah. Alhasil, ASEAN memiliki lebih banyak portofolio kerjasama ekonomi dibanding keamanan.

Sementara dari perspektif pragmatis, penulis berpendapat ASEAN sama sekali tidak penting baik dalam pengembangan kapasitas ekonomi anggotanya maupun menjaga perdamaian dan keamanan kedaulatan wilayahnya. Kenapa penulis mengatakan seperti itu, karena pertama secara ekonomi, pertumbuhan ekonomi di wilayah ini yang terlihat stabil dan tumbuh positif sebenarnya bukan karena arus modal dan barang yang terjadi antar anggotanya, melainkan karena ada arus investasi dan pergerakan barang dan jasa dari negara-negara mitra. Tercatat aktifitas ekonomi internal ASEAN semenjak tahun 2016 tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Total perdagangan barang dan jasa di internal ASEAN hanya sebesar 799 Miliar US Dolar sementara total perdagangan dengan negara mitra nilainya melebihi ekspektasi, yakni sebesar 3287 Miliar US Dolar. Tentu ini sebuah pertanyaan, bahwa ya ASEAN berhasil menarik investasi dan perdagangan dengan negara-negara mitra sehingga mampu meningkatkan taraf hidup rakyatnya, namun perdagangan intra ASEAN sepertinya malah tidak berkembang. Bahkan gaung ASEAN Free Trade Area seperti gagal diimplementasikan. Tidak banyak pergerakan arus barang, jasa, investasi dan orang yang terjadi di antara negara ASEAN.
Sementara dalam hal mempromosikan perdamaian dan keamanan wilayah, ASEAN memang tidak memiliki mekanisme tetap bagaimana untuk menjaga perdamaian dan keamanan stabilitas anggotanya. Sejak awal ASEAN tidak berniat untuk menjadikan organisasi regional ini sebagai organisasi keamanan, ASEAN hanya bisa melakukan imbauan dan rekomendasi terhadap pihak-pihak yang bertikai. Satu-satunya yang dijadikan kebanggaan bagi ASEAN adalah penerapan ASEAN Way, yakni sebuah konduk berperilaku non intervensi antar anggota dengan mengedepankan musyawarah mufakat. Namun ASEAN Way ini terlihat ambigu dan lumpuh ketika masalah keamanan muncul dalam salah satu anggotanya. ASEAN seperti bisu dan gagap ketika menghadapi masalah Myanmar. Ketegasan baru sebatas memunculkan lima konsensus ASEAN tentang Myanmar yang sampai sekarang juga belum memunculkan hasilnya.
The ASEAN Way yang dibangga-banggakan itu juga ternyata juga belum mampu menuntaskan Code of Conduct antara ASEAN dan China yang memiliki teritorial disputes di Laut China Selatan. Padahal CoC ini sudah lama dibahas sejak tahun 2002, namun sudah dua dekade berlalu, Code of Conduct ini belum juga rampung. Tulisan Marc Macdonald di New York Times satu dekade lalu bisa jadi benar, Indecisive and Infighting that is the ASEAN Way.
Akhirnya, penulis melihat serangkaian acara diplomasi yang digelar di Jakarta pada bulan juli ini hanya sekadar acara seremonial. Memang banyak sekali dokumen dan kerjasama yang ditandatangani dan dihasilkan, ada banyak gagasan yang timbul seperti ingin memperluas kerjasama dengan IORA (Indian Ocean Rim Association/Perkumpulan Negara Lingkar Samudera India) dan negara-negara Pasifik (PIF). Namun apabila pertemuan demi pertemuan hanya berakhir dengan dokumen sebagai sebuah pencapaian, maka acara ini ibarat kumpul-kumpul tetangga untuk minum teh di sore hari. Masing-masing bertemu sapa, berfoto bersama, ngobrol ramah tamah, memamerkan isi rumah tanpa ada tindakan nyata sementara di depan gang komplek sedang ada orang sedang mau berkelahi.
]]>Baru baru ini Presiden Joe Biden, pemimpin dunia bebas dan negara adi kuasa merasa dipermalukan ketika misinya meminta Kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyaknya ditolak oleh penguasa de facto KSA Pangeran Mohammed Ben Salman. Peperangan antara US backed Ukraine dan Russia membuat harga komoditi terpenting dunia, minyak naik berlipat ganda, mengakibatkan inflasi tertinggi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Kondisi ini memaksa penguasa negara bebas yang pernah berjanji membuat Saudi Arabia sebagai negara terbuang dalam kampanye pilpres, menelan ludah sendiri. Sudah datang mengemis eh malah di slammed door oleh Ben Salman.
Akankah Ben Salman mendapatkan “hukuman setimpal” akibat perbuatannya. Will see. Padahal dunia sudah menyaksikan, penghinaan Arab Saudi kepada Amerika Serikat akan berbuntut pada pergantian rezim. Seperti pendahulu Ben Salman, Raja Faisal, buyut dari Ben Salman pernah menolak permintaan Henry Kissinger untuk membuka boikot minyak terhadap Amerika Serikat dan sekutu Israel dalam perang Arab Israel 1973.
Pada perang enam hari, sekutu Arab hampir saja memenangkan pertempuran melawan Israel ketika Amerika Serikat datang membantu Israel. Melihat standar ganda AS, Raja Faisal memboikot minyak yang membuat dunia kelimpungan. Walaupun kemudian perang berakhir damai dengan kembalinya Yerussalem ke pangkuan Yordania, nasib Raja Faisal yang pernah dijuluki The Man of The Year oleh TIME berakhir dibunuh oleh kerabat sendiri.
]]>Berdasarkan Henley and Partners Index, passport Indonesia, negara dengan predikat pemimpin de facto ASEAN, the third largest democracy country, the largest Muslim population country, pemimpin Gerakan Asia Afrika, pemimpin Gerakan Non Blok, Anggota dan Presidensi G20, ternyata hanya menempati urutan ke 73 dari 112 negara dengan kemampuan warganya mengakses visa gratis hanya ke 71 negara. Suatu kenyataan pahit bahwa dibalik predikat-predikat besar itu, Indonesia hanyalah negara lemah dalam bidang diplomasi antar negara.

Peringkat Passport Indonesia berdasarkan passportindex.org menempati urutan ke 78
| Visa Free | Visa On Arrival | Visa Required |
| 36 | 42 | 120 |
Masih terngiang di benak penulis, tahun 2020 ketika mengajukan visa ke Jerman, pengajuan visa penulis ditolak dengan alasan tujuan kedatangan belum jelas. Suatu kenyataan yang menyakitkan bahwa menjadi warga negara Indonesia berarti anda tidak bebas untuk terbang kemana saja. Warga negara Indonesia harus memohon kepada suatu negara tujuan untuk bisa diberikan visa. Meanwhile, warga negara lain bisa dengan mudahnya masuk ke negara ini tanpa visa. Warga Australia misalnya, dengan passport yang dimilinya mereka tidak perlu mengajukan visa ke Republik ini, atau kalaupun diperlukan mereka bisa mengajukan Visa on Arrival.
Ada beberapa alasan mengapa passport suatu negara dikatakan lemah atau hanya memiliki sedikit akses bebas visa. Pertama karena suatu negara tersebut dilanda konflik baik itu perang saudara maupun perang antar negara. Negara-negara seperti Palestina, Afghanistan, Iraq dan Ukraine adalah sedikit dari negara-negara yang passportnya sangat lemah. Penulis selaku dosen di perguruan tinggi, pernah mendapati banyak negara timur tengah yang menginginkan studi di Indonesia, namun ternyata mereka hanya ingin mendapatkan surat sponsor untuk bisa terbang ke negara tujuan mereka, ie Australia atau Amerika Serikat.
Kedua, karena instabilitas kondisi politik dan ekonomi suatu negara. Negara-negara yang sering mengalami krisis politik terkadang membuat passport suatu negara menjadi lemah. Turki walaupun bagian dari NATO, namun passportnya masih tergolong lemah, begitu juga dengan, Thailand, The Philippines, Pakistan dan lainnya. Pun dengan masalah ekonomi, negara-negara yang memiliki pendapatan kapita yang rendah cenderung memiliki passport yang lemah. China misalnya, dengan kemajuan ekonomi yang dimilikinya, passport China masih masuk kedalam passport yang lemah, begitu juga dengan Indonesia.
Terakhir, karena suatu negara kurang memiliki bilateral agreement dengan banyak negara lainnya. Bisa jadi karena menganut prinsip isolasi atau terkena embargo, sehingga negara-negara tersebut tidak memiliki banyak perjanjian kerjasana bilateral. Negara-negara yang masuk dalam kategori ini seperti Korea Utara, Bhutan maupun Iran.
Dari ketiga alasan tersebut, sebenarnya Indonesia masih memiliki kesempatan untuk menaikkan power dari passport yang dimilikinya. Sebagai negara muslim terbesar dan anggota OKI, Indonesia dengan memanfaatkan diplomat-diplomatnya, sebenarnya bisa menjalin Kerjasama bilateral yang lebih intens dengan negara-negara muslim lainnya sehingga warga negara nya bisa masuk ke nagara-negara muslim tersebut tanpa pengajuan visa, seperti yang dilakukan di ASEAN. Begitu juga dengan keanggotaannya di APEC dan G20, Indonesia seharusnya bisa mendorong Kerjasama lebih erat khususnya dalam hal pertukaran orang melalui akses bebas visa.
Tanpa hal itu, kebanggaan akan presidensi dan keanggotaan di G20 bagi penulis ibarat kebanggaan semu. I don’t see that as vital for Indonesian citizen, lebih penting bagi penulis untuk bisa bepergian kemana-mana tanpa visa dibanding mengadakan perhelatan akbar G20 Summit.
]]>Orang yang bertuhan belum tentu beragama sementara orang yang beragama sudah pasti bertuhan. Agama adalah konsep dimana keyakinan akan adanya Tuhan, dogma-dogma dan liturgi peribadatan dijalankan sementara ketuhanan adalah konsep dimana manusia secara transendental meyakini ada tuhan di dunia ini. Oleh karenanya orang atheis masih percaya pada tuhan namun menolak konsep dogma dan ibadah. Sementara orang agnostik mungkin mereka tidak beragama, tidak juga mempercayai tuhan, tapi mereka pada dasarnya percaya dengan kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan manusia itu sendiri. Biasanya mereka berdalih menggunakan ‘kekuatan alam’ namun kalau lebih jauh, siapa yang menciptakan alam?
Oleh karenanya, saya berpendapat, sila pertama tidak serta merta harus diganti menjadi sila kedua karena manusia pada umumnya dan secara sadar menyadari ada kekuatan dibalik manusia itu sendiri. Dan kekuatan yang lebih besar dari semuanya adalah kekuatan Tuhan.
Seperti baru-baru ini jagad politik di Amerika Serikat dikejutkan dengan drama Nancy Pelosi yang marah kepada wartawan yang menanyakan, apakah Nancy benci kepada Donald Trump karena aksinya yang memimpin pemakzulan terhadap President of United States of America. Jawaban ketua DPR AS itu langsung membuat orang terkadang berpikir, agama dan tuhan, ternyata memainkan peran paling penting dalam politik di Amerika. Nancy menjawab, bahwa dirinya tidak membenci Trump, “I was raised by catholic, I dont hate anyone, I love everybody, I always pray for the president” tapi menurut Nancy, dirinya melakukan proses impeachment karena Trump melanggar sumpah president dan Konstitusi Amerika dan melukai proses demokrasi.
Bahkan seorang demokrat pun membawa Tuhan yang selama ini mungkin dikesampingkan dalam kebijakan partai dsb. Dimana Nancy ketika Demokrat mengkampanyekan LGBT padahal nilai Katolik adalah menentang pernikahan sesama jenis. Dari sini bisa digaris bawahi bahwa, ketuhanan adalah nilai paling trensendental dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya nilai ketuhanan haruslah berada pada posisi yang sedikit lebih tinggi dibanding nilai kemanusiaan. Walaupun pada ujungnya nilai-nilai ketuhanan itu dimaksudkan untuk meninggikan nilai-nilai kemanusiaan.
]]>