[{"Value":"","Discard":false,"Expires":9999999999}] Dalam Islam, mudah bagi seorang muslim untuk memahami dan mengikuti anjuran fuqaha maupun jumhur ulama untuk tidak menggambarkan Nabi Muhammad dan bahkan mahluk bernyawa dalam medium apapun, dengan illat bahwa kekaguman yang berlebihan bisa membawa seorang muslim ke dalam kemusyrikan, illat lainnya adalah untuk menjaga kesakralan nama Nabi Muhammad. Tapi bagaimana mengajarkan nilai ini pada non muslim, apalagi masyarakat barat yang sangat logis dan menjunjung tinggi kebebasan akademik. Untuk tidak mengikuti premis Huntington, benturan dua nilai berujung pada penembakan 12 redaktur majalah satir Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015. Paska terjadinya penembakan, lebih dari satu juta orang berkumpul di Paris, tepatnya di lapangan dekat Place de La Republiqe dan Place de La Nation, membawa plakat, poster dan umbul-umbul yang bertuliskan Je Suis Charlie, yang artinya saya adalah Charlie, simbol dukungan masyarakat barat akan kebebasan berkespresi ala Charlie. Tidak hanya itu beberapa situs internet, kios majalah dan newsletter juga memasang logo ini, entah mereka tahu atau tidak akan signified dari simbol tersebut. Masyarakat barat memang cenderung untuk menafikan arti penting simbol-simbol agama, entah itu Yahudi, Kristen maupun Islam. Entah sudah berapa banyak gambar yang mensatirkan Yesus Kristus dan Musa. Lihat saja video Lady Gaga bertitel Judas. Mudah sekali bagi orang barat untuk mocking atau mengejek hal yang sakral dalam agama mereka. Kredo yang diagungkan adalah “kebebasan berekspresi” oleh karenanya sudah berapa banyak penafsiran yang direproduksi dalam bentuk film, buku, musik dan kartun tanpa prinsip kehati-hatian. Namun kebebasan berekspresi memiliki batasan yang unik dalam kacamata akademis bahkan dalam perspektif kampus Amerika Serikat. David Brook di New York Times menulis bahwa tulisan yang bernada provokatif di lingkungan kampus Amerika Serikat tidak akan bertahan selama 30 detik. Dengan indahnya dia menulis bahwa apabila seseorang menyerang institusi tertentu dalam kampus, mahasiswa dan bahkan senat universitas akan kompak menuduh seseorang ini mengobarkan “hate speech”. Universitas Illinois misalnya, memecat seorang professor yang mengajarkan paham homoseksualitas gereja Roman Chatolic di kelasnya. Kasus yang lain Universitas Kansas memberhentikan sementara seorang guru besar karena cuitannya tentang NRA (National Riffle Association). Tulisan Brooks memberi pemahaman lain, bahwa masyarakat barat, dalam lingkungan akademis yang sangat liberal di Amerika Serikat pun memandang bahwa kebebasan berbicara tidaklah selaiknya mengobarkan “hate speech” atau tulisan/ucapan bernada benci. Brooks mempertanyakan kenapa banyak sekali orang-orang yang merasa seperti Charlie di luar rumah, sementara di dalam rumah mereka sendiri, sejatinya memiliki pandangan yang berbeda. Senada dengan Brooks, Pope Francis yang bertandang ke Filipina Januari lalu juga mengemukakan hal sama. Kebebasan berbicara memiliki batas. “Apabila saya mengolok-olok Ibu Kardinal Ferdinand dan kemudian saya ditampar oleh Ferdinand maka hal itu wajar” kata Paus yang berasal dari Argentina ini seperti dikutip dari VOA. Namun tulisan ini bukan berarti kemudian setuju dengan aksi penembakan di siang hari yang digambarkan horor dan teror tersebut. Bahwa Islam memang mengutuk fitnah yang ditujukan kepada nabi tapi reaksi yang muncul seharusnya bukan yang seperti itu. Apakah para ulama tidak lagi mengajarkan akhlak yang baik kepada pemuda-pemuda saat ini. Perlu untuk dicatat sebagaimana yang disinggung oleh Mustafa Aykool dalam bukunya yang berjudul Islam Without Extremist, bahwa ekstremisme dalam islam kian berkembang dengan sangat cepat. Selain karena adanya konflik internal antara sunni syiah juga karena konflik eksternal Israel dan Palestina yang kian tidak pasti. Ulama-ulama yang berbeda aliran pada akhirnya cenderung mengajarkan nilai-nilai mereka sendiri dengan melupakan nilai akhlak dari Nabi Muhammad itu sendiri. Apakah ulama-ulama saat ini tidak lagi mengajarkan Sirah Nabawi, teladan nabi ketika beliau di fitnah, dihina dan bahkan dilempari kotoran, beliau tetap menjaga hubungan baik. Diriwayatkan Umar Bin Khatab pernah menggantikan pekerjaan Nabi Muhammad untuk menyuapi seorang yahudi buta yang sehari-harinya mencaci dan memaki Nabi Muhammad. Dari cerita si buta Yahudi inilah mengalir cerita bahwa ada seorang yang selalu menyuapinya dengan lembut dan sabar sementara dirinya mengecam dan memaki Muhammad, setiap hari. Lalu ketika Muhammad berpulang ke rahmatullah, Umar mengantikan tugas itu dan lalu si buta ini memaki Umar bahwa suapannya tidaklah selembut biasanya. Hadis ini menggambarkan bahkan pribadi Muhammad sendiri sangat mulia dan tidak langsung menghunus pedangnya untuk membunuh si buta tersebut. Tulisan ini sejatinya menegaskan, sebagai seorang akademisi yang menjunjung kebebasan akademik, saya bukanlah Charlie Hebdo yang mengejek dan mengolok-olok orang lain dengan berlindung dibelakang kredo kebebasan berekspresi. Saya adalah umat Muhammad yang menghargai dan mencintai beliau serta berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti rekam jejak perilaku sang Nabi, walau tak sempurna. Saya adalah seorang muslim biasa yang akan bertindak selayaknya Ahmet Merabet, polisi muslim perancis yang mencoba menyelamatkan warga sipil perancis yang terkena timah panas oleh teroris, selayaknya Lassana Battily, yang menyelematkan warga yahudi di swalayan kosher ketika terjadi penembakan.
As a muslim, yang berpikiran terbuka dan moderat, menyaksikan Sri Paus Fransiskus dan Mufti Besar Rahmi Yaran berdoa bersama di Masjid Sultan Ahmet, dengan menghadapkan wajah ke Kakbah pada tanggal 28 November 2014 di Istanbul itu adalah suatu peristiwa bersejarah, berharga dan memberikan pelajaran bagi kedua umat beragama ini, Christianity dan Islam. Kedua umat di akar rumput setidaknya dipaparkan untuk mengikuti pimpinan mereka akan pentingnya saling memahami dan sama-sama berbuat untuk perdamaian.

Dengan pesan yang sangat jelas, Paus memotret peperangan yang terjadi di Syria dan Iraq (Islamic State), di Afrika (Bako Haram) tanpa melupakan konflik di Israel dan Palestine, adalah akibat dari pembiaran kemiskinan yang terus terjadi sehingga masyarakat memilih menggunakan jalur kekerasan dibanding jalur diplomasi. Pesan yang tersirat juga tampak dalam kunjungan kepausan kali ini, bahwa ada banyak kaum kristiani yang harus dilindungi oleh pemimpin pemimpin muslim di timur tengah, khususnya pada konflik Islamic State.
Washington Post, sebuah koran beraliran konservatif, mencatat setidaknya ada dua hal selain tujuan utama diatas dalam kunjungan Paus kali ini di Turki. Sebagaimana diketahui, tercatat pendahulu Paus Fransiskus, yakni Paus Emeritus Benedictus, pernah menyambangi negeri muslim yang sekuler di negeri penghujung asia dan eropa ini, pada tahun 2006 sebelum pengunduran dirinya dengan misi yang sama, menguatkan rasa saling percaya antar dua umat beragama setelah pidatonya yang menggemparkan umat islam pada medio 2005 di Jerman.
Pertama adalah menguatkan hubungan antar pemeluk Christianity. Dilaporkan dalam kunjungan kali ini, Paus Fransiskus ditemani oleh Patriach Bartholomew I, pimpinan gereja orthodox yang merupakan pecahan roman catholic pada abad pertengahan. Roman catholic adalah aliran kepercayaan Christianity yang berkedudukan pusat di Roma dengan pemegang kekuasaan tertinggi berada di tangan seorang Paus, sementara Gereja Orthodox adalah aliran Kristen yang berkedudukan pusat di Konstantinopel (Istanbul) dengan pemegang kekuasaan tertinggi di tangan Patriach. Roman Catholic dan Orthodox adalah dua gereja tertua sebelum perpecahan pertama di millennium pertama (seribu tahun pertama). Pada tahun 1054, Gereja Katolik Roma mengekskomuni gereja Konstantinopel dan tidak membantu imperium ini ketika mendapat serangan dari Ottoman. Kunjungan ini adalah untuk mengeratkan hubungan antara Katolik Roma dengan Ortodoks Timur.

Kedua, adalah meningkatkan toleransi dengan membangun kesalingpahaman antar agama (interfaith), selain menguatkan hubungan dengan ecumenical, Pope Francis juga menguatkan hubungan dengan komunitas muslim. Hubungan dengan kaum muslim sejatinya adalah yang paling urgen karena gesekan dua umat beragama di akar rumput senantiasa terpantik oleh konflik. We did not mention in the middle east dan afrika, tapi lebih lebih jauh juga ke Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Indonesia.
Semoga saja aksi doa bersama dengan tiga misi mulia ini akan mampu menajamkan kembali setiap umat beragama bahwa walaupun kita memiliki iman yang berbeda, tapi kita tetaplah seorang manusia, seorang hamba tuhan yang sejatinya harus bersama-sama membangun peradaban dunia ini dengan nilai-nilai moral yang baik, sembari terus mengikis fundamentalisme dan ekstrimisme yang menjadi momok bagi setiap agama di manapun juga.
]]>