[{"Value":"","Discard":false,"Expires":9999999999}]
Its Always Sunny in Philadelphia begitu judul serial hit rekaan Rob McElhenney, jika diganti dengan kontreks lokal maka menjadi Its Always Sunny in Majene. Terma yang sangat sesuai untuk menggambarkan kondisi cuaca dan lingkungan hidup di Kabupaten Majene. Its Always Sunny yang dalam bahasa Indonesia nya berarti Selalu Panas, Majene adalah kabupaten yang selalu panas. Teriknya rerata 28 derajat celcius bahkan pernah mencapai 31. Itu belum seberapa jika ditambah dengan panas angin laut karena Majene terletak persis di pesisir teluk Makassar. Belum lagi warganya yang tidak memiliki akses pengelolaan sampah dan limbah perkebunan, membuat pembakaran sampah dimana-mana dan berakibat pada kualitas udara yang memburuk.

Dinamika cuaca dan lingkungan inilah yang seharusnya menjadi diskursus baik ditingkat pemerintah selaku pengambil kebijakan, akademia selaku pengkaji masalah dan solusi, serta masyarakat sebagai pelaku akhir dari proses kepedulian lingkungan. Universitas Sulawesi Barat selaku entitas lembaga negara yang berfokus pada layanan pendidikan tinggi dituntut untuk bisa memberikan kontribusi dalam mengurai masalah lingkungan hidup. Baik melalui alokasi program maupun inisiatif para sivitas akademiknya.
Atas latar belakang dan peluang inilah yang mendasari kelompok dosen pengabdian masyarakat Program Studi Ilmu Hubungan Internasional melakukan inisiatif berupa membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang lebih sustainable. Pengelolaan limbah perkebunan kelapa menjadi fokus kerja dari pengabdian sivitas akademik kepada masyarakat.
Kelompok dosen yang terdiri dari Saomi Rizqiyanto, Muhammad Sajidin, Abdul Hafid Tahir, Andi Ismira dan Sriwiyata Ismail ini mencoba menyadarkan masyarakat Simbang, Pamboang, yang mayoritas bekerja pada sektor perkebunan kelapa untuk mengelola limbahnya menjadi lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Kelapa sebagai sebuah komoditas memiliki banyak potensi produk turunan bernilai ekonomi tinggi. Selain buah kelapanya yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, airnya yang bisa menjadi produk kesehatan, batok kelapa yang bisa menjadi kerajinan, kelapa juga bisa menghasilkan coconut oil yang sangat mahal, bisa menghasilkan bricket berkualitas tinggi (ini dikecualikan karena mencemari lingkungan), limbahnya bisa menghasilkan fiber untuk bahan sofa, tempat tidur bahkan media tanam. Hal inilah yang dicoba untuk disadarkan kepada masyarakat.
Limbah kelapa yang sedianya hanya dibakar dan mencemari udara, ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Kelompok Dosen juga menghadirkan praktisi yang kebetulan adalah mahasiswi Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Adelia, yang juga pemilik PT Litani Abadi Nusantara, sebuah usaha yang bergerak dalam pembuatan coco fiber. Dalam pemaparannya disebut, potensi coco fiber sangat diminati di negara timur tengah karena daya tahan produk ini dibandingkan dengan busa.
Potensi kelapa menjadi komoditas unggulan inilah yang sekarang sedang menjadi perhatian para pemangku kebijakan di dunia khususnya dalam menangani krisis lingkungan hidup. Banyak negara maupun organisasi internasional mencoba untuk melakukan green diplomacy kepada negara-negara dunia ketiga berupa investasi pada green economy, mencoba mengubah perilaku industrialisasi menjadi lebih hijau, lebih bertanggung jawab pada lingkungan hidup.
]]>Saya sudah cukup lama mengeluhkan, baik kepada sesama kolega maupun mahasiswa, nama Program Studi Ilmu Hubungan Internasional ini sudah cukup membanggakan, menyandang frasa internasional, siapa yang tidak bangga dengan status mahasiswa prodi hubungan internasional. Tapi alangkah sedihnya ketika, mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional UNSULBAR, lebih banyak melihat tedong (kerbau) dibandingkan bertemu diplomat.
alangkah sedihnya ketika, mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional UNSULBAR, lebih banyak melihat tedong (kerbau) dibandingkan bertemu diplomat.
Tentu tidak ada yang salah ketika mereka lebih banyak berinteraksi dengan tedong dan sapi karena memang mereka besar dan lahir di tanah Mandar, hanya saja ini fakta yang menyedihkan, mengingat mahasiswa ini menyandang status mahasiswa hubungan internasional. Harus ada upaya agar mahasiswa hubungan internasional ini tereksposure oleh hal-hal yang berfrasa internasional seperti magang di kementerian luar negeri, kunjungan ke kedutaan besar maupun kantor organisasi internasional, atau visit langsung melihat negara tetangga.
Upaya-upaya ini bukanlah hal yang mudah mengingat jarak antara Majene dengan Jakarta dibatasi oleh perbedaan pulau dan zona waktu, dibutuhkan sumber daya dan kemauan semua pihak yang sangat besar agar inisiatif ini bisa terlaksana. Hal yang sangat membanggakan adalah aspirasi ini diberikan ruang yang proporsional oleh pimpinan dan seluruh jajaran tenaga pendidik program studi ilmu hubungan internasional dengan penyelenggaraan program Study Visit to Jakarta dan Integrated Academic Program secara bersamaan.

Sebuah kegembiraan yang luar biasa ketika pada akhir juli dan awal agustus 2024 (30 Juli – 3 Agustus), sivitas akademik program studi ilmu hubungan internasional baik dosen dan mahasiswa terbang ke Jakarta untuk berkunjung ke beberapa tempat dengan vibes Internasional. Sivitas akademik, berkunjung ke Kantor Kementerian Luar Negeri di Pejambon dengan agenda bertemu dengan Direktorat Asia Pasifik dan Afrika untuk membicarakan agenda kerjasama pendirian Pusat Studi Asia Tenggara (dalam beberapa waktu ke depan akan direalisasikan)



Hal yang tidak kalah serunya adalah sivitas juga berkesempatan untuk berkunjung ke Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk bertemu dengan diplomat Adam Rosenberg dan mendengarkan cerita tentang kehidupannya sebagai seorang diplomat Amerika Serikat di Indonesia. Selain itu juga, sivitas akademik juga mendengarkan pemaparan tentang YSEALI dan Education USA yang menjelaskan beragam kesempatan bagi mahasiswa untuk pursue master dan student exchange ke Amerika Serikat.


Tidak hanya itu, sivitas akademik juga berkunjung ke kantor sekretariat PBB di Jakarta. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mengerti dan memahami fungsi organisasi atau rezim internasional bernama United Nations atau PBB di Indonesia. Mahasiwa ditawarkan agar ikut serta mendukung SDGs di Indonesia dengan aktif menjadi UN Volunteers. Ada banyak kesempatan berkembang bagi mahasiswa daerah jauh seperti Sulawesi Barat untuk bisa berkontribusi menjadi bagian dari Perhimpunan Bangsa Bangsa.
Sebagai bagian dari kelengkapan perjalanan, baik dosen maupun mahasiswa program studi Ilmu Hubungan Internasional juga tidak luput untuk menikmati kota Jakarta. Mulai dari kunjungan ke Perpustaan Nasional, mencicip kuliner dan belanja pakaian di Blok M, hingga menikmati indahnya Bundaran HI dan gemerlapnya SCBD, adalah bagian dari memperkenalkan mahasiswa hubungan internasional UNSULBAR kepada dunia luar agar mereka terbuka dan menjadi bagian dari warga negara dunia.



As Gandhi once said, “you must be the change you wish to see the world” yang artinya perubahan itu tidak bisa ditunggu, harus ada keinginan dari dalam diri agar bisa berubah menjadi lebih baik. Inisiatif ini tentu bukan hal yang besar, tapi ini langkah kecil yang bisa membuka mata dan perspektif akan pentingnya melihat dunia.
]]>Cerita itu bermula ketika penulis duduk di kelas empat SD, sewaktu itu salah satu Pak Lik penulis yang kuliah membawa banyak buku untuk disimpan di rumah karena pak lik sudah wisuda. Jadi ada banyak sekali buku, mulai dari diktat kuliah sampai dengan buku-buku bacaan yang sampai sekarang penulis tidak tahu artinya. Maklum bobot bacaannya memang berat karena pak lik penulis adalah seorang aktivis, jadi mulai dari filsafat sampai dengan biografi tokoh terkenal ada. Aku yang penasaran mulai mengeksplorasi lemari penuh buku itu.
Kebetulan dari kecil penulis memang suka membaca. Saya sering sekali membaca majalah Bobo atau ketika bu lik meminjam tabloid Nova, penulis sering ikut membaca walaupun hanya membaca resep masakan atau gosip artis, atau ketika pak lik pulang libur membawa koran, pasti saya ikut membaca walau dengan tingkat pemahaman yang berbeda. Jadi ketika hari itu, datang ber dus-dus buku dan kemudian di jajarkan dalam rak buku, penulis kagum dan ingin ikut membacanya. Penulis ambil buku paling tebal yaitu kamus bahasa inggris John Echols, and you know what, penulis sama sekali tidak tahu artinya dan bagaimana menggunakannya, walaupun sesekali sok melafalkan kata bahasa inggris.
Komentar keluarga pada waktu itu sangat baik, pak lik selalu bilang “anak SD udah baca koran ya, pinter” atau ketika pak lik membenarkan pelafalan / spelling vocabulary bahasa inggris, penulis merasa nyaman dan diapresiasi dengan sebuah buku. Penulis jadi suka dengan buku atau apapun itu yang bisa dibaca, mulai dari majalah (Bobo, Aku Anak Shaleh, Nova) koran (Kompas, Republika) dan buku-buku anak (cerita 25 nabi dan rasul, the frog prince). Bahkan saking cintanya dengan sebuah cerita yang ada di buku maupun yang ada di tv, ada satu kebiasaan lain yang kemudian timbul, yakni menulis. Penulis kemudian jadi suka menuliskan Kembali cerita yang ada di kartun, walaupun jalan cerita dan karakternya kadang agak berbeda tapi penulis senang.
Finding a Voice
Buku mengajarkanku untuk percaya dengan kemampuan diri sendiri tanpa harus iri dengan kemampuan orang lain.
Long story short, penulis benar-benar tersentuh dengan buku ketika saya duduk di sekolah menengah. Penulis adalah siswa dengan kemampuan akademik rata-rata, nilai matematika selalu tidak pernah lebih dari enam, begitu juga dengan fisika dan music yang membutuhkan perhitungan. Mata pelajaran lain pun biasa-biasa saja, kemampuan menghafal, kemampuan atletik, kemampuan seni, semuanya medioker.
Wajar jika setiap kenaikan kelas, ketika buku raport dibagian dan setiap pengumuman siswa terbaik dari masing-masing kelas dibacakan ketika upacara, nama penulis tidak pernah disebutkan, pun ketika seleksi kelas unggulan dimulai, diri ini tidak pernah terseleksi. Mereka yang terseleksi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Nilai matematika mereka paling kecil 7, mayoritas 8, anak-anak kelas unggulan ini selalu jadi perbincangan guru-guru lain dan selalu diikutsertakan dalam setiap kesempatan. Penulis iri dan ingin menjadi seperti mereka, tapi apalah daya, niat hati ingin memeluk gunung, tapi apalah daya, tangan tak sampai.
Akhirnya penulis melupakan saja ambisi itu, apalagi ketika guru wali kelas favorit itu sedikit menawarkan kepada penulis “kamu mau melakukan apa untuk masuk ke kelas unggulan”, penulis pada saat itu memutuskan bahwa saya tidak perlu masuk kelas unggulan untuk menjadi siswa unggul. Penulis meyakini bahwa penulis hanya butuh satu kemampuan yang bisa mengubah persepsi orang akan siswa unggul. Siswa unggul tidak harus pintar, cukup punya satu kemampuan dan berprestasi maka penulis akan menjadi siswa berprestasi. You know what, penulis kembali ke buku dan memutuskan menjadi unggul dengan buku.
Alhasil saya kembali berkutat dengan banyak membaca buku. Kebetulan sekolah penulis dekat dengan Malioboro, jadi penulis suka bermain dan menghabiskan banyak waktu di lapak jual beli buku terbesar di Jogja, Shopping, dan toko buku Gramedia di Mall Malioboro. Ada satu buku yang penulis suka sekali membacanya dan membuat framing akan kehidupan sederhana yang bahagia. Judul buku itu “Little House on The Praire” karangan Laura Ingalls Wilder. Buku itu menghipnotis penulis untuk bisa bercerita seperti si pencerita. Pun ketika penulis membaca buku karya Asma Nadia “Rembulan di Mata Ibu” dan Helvi Tiana Rosa “Serenada Biru Dinda”. Kedua buku yang mengenalkan penulis dengan komunitas Forum Lingkar Pena itu juga turut membara kan semangat penulis untuk terus membaca dan menulis.
Kecintaan saya akan buku ternyata berbuah manis, semangat penulis yang sempat patah arang ketika ditolak masuk kelas unggulan akhirnya terbayar. Buku menghantarkan saya menjadi jurnalis termuda di salah satu majalah di Jogja, menjadi duta sekolah untuk mengikuti kegiatan jurnalisme siswa Kemendikbud di Puncak, pemenang lomba Majalah Dinding antar SMA di Jogjakarta dan bahkan menjadi perwakilan siswa dalam kegiatan aksi literasi mahasiswa Universitas Gajah Mada. Well, the story goes happy ending. Penulis menjadi siswa berprestasi yang diakui sekolah.
Finding Me
Entah kenapa setiap kali saya masuk ke toko buku, apalagi toko buku impor seperti Periplus atau ak.sa.ra, saya merasa menjadi manusia yang berbudaya.
Kecintaan akan buku kembali berbuah manis, tatkala penulis duduk di bangku kuliah. Walaupun Penulis pernah merasa minder tatkala diri ini masuk ke sebuah era hedonisme, lebih tepatnya ketika duduk di bangku kuliah, tapi itu adalah suatu fase. Waktu di mana teman-teman penulis adalah anak-anak orang kaya Jakarta yang setiap minggu atau ada waktu luang nongkrongnya di mall, liburannya ke Puncak atau sekadar mampir ke Distro. Teman-teman penulis gemar sekali membeli baju-baju distro, atau main game di game station, main billiard atau sekadar makan. Sementara kalau penulis ikut, penulis selalu mampir ke Gramedia dan mereka sepertinya tidak antusias.
Ada suatu waktu, dimana kita semua hangout di mall, teman-teman penulis pulang dengan membawa paperbag dari toko baju terkenal, entah itu mereka membeli jaket, sepatu, atau topi, sementara penulis hanya membawa kantong kresek putih berisi buku. Mereka hanya melihat sekilas judul buku dan lalu beralih ke menjajal jaket yang baru dibeli temannya, atau meminjam topi dan lain sebagainya. Karena perbedaan preferensi itulah, penulis kembali merasa terasing, terkucilkan dalam pergaulan anak Jakarta yang notabene lebih menyukai nongkrong di mall.
Tapi berbekal pengalaman di sekolah menengah, dimana buku adalah suara bagi penulis, penulis tetap yakin bahwa buku adalah nilai tambah tersendiri bagi penulis, dan akan membawa penulis dalam pergaulan yang lebih bermakna. Maka penulis berani berinvestasi di buku. Penulis membeli banyak buku, walau itu hanya dibaca setengah atau dibaca tuntas, untuk dikoleksi di kontrakan. Penulis berteman dengan orang yang memiliki minat yang sama. Bergabung dengan kelompok pegiat literasi, kelompok pers mahasiswa, kelompok bloggers dsb.
Ada suatu tuntutan bagi kelompok pers dan literasi ini yakni untuk menulis dengan baik dan kaya akan padanan kata, maka harus banyak membaca. That is why, penulis terus terpacu membaca maupun membeli buku. Karena tidak mungkin bagi penulis untuk membeli buku terus menerus karena keterbatasan uang bulanan, maka penulis lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Kampus penulis adalah kampus negeri yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Kedutaan Besar Canada, sehingga perpustakaan kampus penulis memiliki American Corner dan Canada Centre, penulis merasa menemukan oase, karena resources di sana lebih banyak. Penulis meminjam buku Hillary Clinton, membaca New Yorker, membaca New York Times atau paling banter membaca People Magazine yang berisi gossip artis. Bacaan-bacaan itu turut membentuk pola pikir dan gaya hidup yang penulis jalani hingga detik ini.
Salah satu influence yang membentuk pola pikir dan gaya penulis adalah ketika saya menulis sebuah artikel. Judul maupun gaya penulisan saya mengikuti gaya New Yorker atau New York Times, sebagai contoh, tulisan penulis yang memenangkan kompetisi blog Kompas berjudul “Financing the Next Starbucks” adalah judul yang terinspirasi judul buku “Finding the Next Starbucks” karya Michael T. Moe Pun dengan judul tulisan ini, terinspirasi dari judul buku tersebut dan juga judul film Finding Nemo. Artikel lain seperti “What Should I Do, Apa yang Harus dilakukan Ketika Terkena Covid 19” terinspirasi dari judul buku Hillary Clinton “What Happened”.
Hal lain yang turut membentuk penulis terjadi ketika penulis sudah bekerja dan berkeluarga. Ketika ada waktu luang untuk bisa jalan-jalan. Penulis selalu menyempatkan diri mampir ke toko buku. Tapi bukan sembarang toko buku. Penulis selalu mampir ke toko buku impor yang trendi seperti Periplus, Kinokuniya atau Aksara. Istri penulis kebetulan juga penggemar buku yang sedikit lebih trendi dan artsy. Dia lebih suka membeli buku-buku puisi, sementara penulis lebih suka membaca biografi atau politik ekonomi. Alhasil, kita selalu setuju untuk mampir ke toko buku. Penulis pernah menyampaikan ini ke khalayak, kalau saya mampir ke toko buku trendi, saya seperti merasa menjadi manusia culturized.
]]>As we live in the age of internet, Don Tapscott said akan ada saatnya dimana Internet dan Mobile Device menggantikan semuanya, mulai dari buku resep hingga universitas akan digantikan oleh Internet. But the problem is, apakah Internet mengubah perilaku kita, mengabaikan manners dan cara berinteraksi kita sebagai manusia. Saya pikir secanggih apapun suatu teknologi, tetap tidak bisa mengubah keajaiban sesungguhnya, yakni manusia itu sendiri. Mesin tidak bisa menggantikan sensitifitas manusia.
Recently, saya baru saja bertanya kepada salah seorang professor asal Amerika yang memberikan kajiannya tentang tren terkini pembelajaran di abad internet. Menurutnya apa yang disebut sebagai pembelajaran online tetap membutuhkan guidance, tetap membutuhkan controlled activities sehingga pembelajaran tetap berlangsung dengan optimal. Saya lupa menanyakan apakah perkuliahan online seperti yang diselenggarakan oleh beberapa kampus seperti Universitas Phoenix di Amerika Serikat bisa efektif. I curiously wonder, apakah perkuliahan online atau pembelajaran online bakal menggantikan pembelajaran kelas.
As many experts said before, digitalisasi pada saat sekarang ini mengarah pada era apa yang disebut Rhenald Kasali sebagai Disrupsi. Banyak industri yang kalang kabut dengan adanya perkembangan teknologi yang luar biasa. Contoh yang real, usaha transportasi BlueBird rontok dihantam Gojek, bisnis retail, terhuyung-huyung diserbu toko online, industri marketing, banting setir meninggalkan cetak dan beralih ke online. Menurut para ahli, tidak memungkinkan nanti sektor pendidikan dan kesehatan akan terkena imbas dari teknologi informasi ini. Sekarang saja orang sudah bisa bertanya tentang penyakit melalui aplikasi, banyak yang menyelenggarakan kursus online. Pertanyaannya, apakah guru, dosen, dokter akan juga tergantikan oleh mesin.
Anehnya agenda disrupsi yang ditandai teknologi 4.0 ini tidak lantas ditanggapi dengan tangkas, pertanyaan yang penulis ajukan di atas tidak malah membuat para pendidik dan akademisi di Indonesia membuat satu narasi besar bagaimana menyikapi perkembangan teknologi ini. Reaksinya malah konyol, beberapa seminar dan konferensi di perguruan tinggi merayakannya dengan tema-tema serupa, seperti misalnya pendidikan di era 4.0, ekonomi di era 4.0, agama di era 4.0 bahkan hal-hal yang berbau hukum agama yang kawin dengan kepentingan ekonomi, seperti perbankan syariah juga ditarik-tarik, perbankan syariah di era 4.0, yang jikalau ditilik lagi, materi dan paper nya sangat jauh dari apa itu pengertian 4.0, hanya tambal sulam materi lama dikawinkan dengan teknologi. Bahkan yang lebih menggelikan adalah teknologi yang selalu dibawa adalah media sosial. Alamak, selamat datang di dunia pendidikan Indonesia yang serba latah.
Belum percaya dengan latahnya perguruan tinggi di Indonesia, coba tengok penamaan konferensi internasionalnya, hampir bisa dipastikan mayoritas menggunakan istilah international conference, pertanyaannya apakah seminar international harus memiliki nomenklatur international conference? Setahu saya persyaratan seminar international adalah harus mendatangkan setidaknya 3 (tiga) pembicara asing, kalau nama sependek ingatan saya belum diharuskan. Sehingga tiap akhir tahun perguruan tinggi pasti menyelenggarakan International Conference dengan awal IC itu pasti. Padahal bisa saja lho ASEAN atau Asia Pacific atau OCEANIA juga bisa dijadikan acuan penamaan. Entah kenapa sepertinya terlalu baku. Alias latah.
Sehingga penulis bisa pastikan sejatinya ramainya perbincangan 4.0 di tataran perguruan tinggi sebenarnya belum mampu menjawab kebutuhan dari perkembangan 4.0 itu sendiri. Karena yang diperbicangkan sebenarnya hanyalah latah, mengikuti tren, seakan-akan perguruan tingginya mengikuti tren yang serupa, namun hasilnya zero, hanya tumpukan-tumpukan paper nihil solusi.
Karena yang dikedepankan adalah sikap latah dalam menghadapi disrupsi teknologi informasi, maka akan sangat terlihat ketika terjadi benturan keras seperti yang sekarang kita hadapi, Coronavirus Disease 19. Sikap yang tadinya hanya latah, ikut-ikutan tanpa memahami makna apa itu 4.0 dan bagaimana menghadirkan solusi 4.0, berbalik menjadi gagap bagaimana melakukan pendidikan di tengah Covid19. Lho kemana hasil seminar 4.0 beberapa tahun belakangan ini. Ada kampus yang sama sekali bingung apabila perkuliahan ditiadakan bagaimana KBM tetap berjalan? Ada kampus yang memang memiliki resources yang baik sehingga tidak bingung menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh.
Justru yang parah, dan ini kebanyakan adalah kampus-kampus yang memang selama ini hanya latah saja, ikut-ikutan menggemakan era 4.0 namun tidak memahami makna 4.0 itu sendiri. Sikap yang muncul kemudian adalah gagap dan debat luar biasa. Gagap mulai bagaimana cara menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh, gagap menggunakan sistem aplikasi apa yang tepat, apakah harus sinkron tatap muka atau penugasan sudah cukup, mulai muncul pula keberatan dari sisi beban tugas si mahasiswa dan beban ekonomi kuota internet yang menggunung.
Beginilah pendidikan perguruan tinggi yang hanya latah namun minus penghayatan. Hasilnya hanyalah sikap gagap. Lalu kembali ke pertanyaan di atas, apakah pendidikan jarak jauh, pendidikan berbasis teknologi informasi bakalan mampu menggantikan peran dosen dan guru, dengan banyaknya gagap teknologi di antara para dosen, saya berpendapat, Teknologi Informasi belum bisa menggantikan peran pendidik.
]]>Tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan label ‘internasional’ cukup undang sejumlah dosen dan mahasiswa beda negara saja, kampus kita sudah pantas menyandang label ‘internasional’.
Tapi pertanyaannya apakah persepsi masyarakat akademik akan menerima begitu saja konsep ‘internationalization at home’ sementara kesan internasional yang ada di benak banyak ilmuwan adalah seorang peneliti pergi meneliti/bersekolah/mendapatkan grant ke luar negeri.
]]>Segar, karena di sana penonton tidak akan menemukan Onky Alexander, Ayu Azhari, maupun Meriam Bellina, justru penonton akan disuguhi dengan munculnya para pemain baru. Sebut saja, Achmad Megantara, Marsha Aruan, dan Hana Prinantina. Kekinian karena formatnya yang dulu berupa sebuah film bersequel, kini diganti dengan format tv series, lainnya, konsep dan latar belakang filmnya juga mengikuti perkembangan zaman sekarang. Misal, mobil yang dipakai Boy merupakan BMW keluaran terbaru, model pakaian dan segala atribut yang dimunculkan dalam film juga merupakan hal-hal baru.
]]>Postingan kali ini, The Jakartans mencoba mengulik tradisi unik yang biasanya dilakukan oleh muslim di Indonesia. Bisa jadi satu kebiasaan bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Yang penulis coba kemukakan disini adalah tradisi muslim di Indonesia khususnya di jawa. Silakan menikmati
]]>