[{"Value":"","Discard":false,"Expires":9999999999}] Catatan Harian – The Saomi Rizqiyanto's Review https://saumiere.com The World According to Saomi Rizqiyanto Sun, 16 Aug 2026 15:01:04 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1.1 https://saumiere.com/wp-content/uploads/2019/05/cropped-Logo-TSSR-2-32x32.png Catatan Harian – The Saomi Rizqiyanto's Review https://saumiere.com 32 32 Let The Karma Do The Work. https://saumiere.com/let-the-karma-do-the-work/ https://saumiere.com/let-the-karma-do-the-work/#respond Sun, 17 May 2026 04:40:01 +0000 https://saumiere.com/?p=2752 Tenggorokanku tercekat sakit, bukan karena kopi yang dingin atau martabak yang panas, tapi karena kenyataan pahit, bahwa tidak selamanya perbuatan baik kepada seseorang akan berbalas kebaikan dari seseorang itu. Bukannya perhitungan, tapi dari banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, atas dasar “teman baik”, tiba-tiba dibalas dengan perkataan menyakitkan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temenmu tuh, taik”. Omongan ini kayak mengiris hati yang sudah terluka, dan cukup untuk membuatku kemudian berkata “biarin ajalah, let the karma do the work”

Dia orang pertama-tama yang mengajak berkenalan, bertanya-tanya tentang saya, dan kemudian mengajak makan siang. Lalu kemudian menjadi akrab, dan menjadi satu sirkel pertemanan dengan kawan-kawan dari Angkatan CPNS 21. Kita sering jalan bareng dengan sirkel pertemanan yang lain, sering makan bareng, sering masak-masak bareng, upacara bareng, sering singgah di kontrakan legend Lingkungan Tulu. Saya termasuk yang paling sering “feeding his ego” karena sebenarnya omongan dia sangat “kering” akan “wisdom”, yang ada hanyalah ajang pamer keilmuan, tapi saya tetap beri ruang dia untuk berpendapat dan berceramah tentang ilmu peternakannya.

Kemudian dia terkena musibah, kami sebagai temannya pada waktu itu cukup kaget, karena baru saja nongkrong dan ngobrol sampai jam 12 malam. Ayahnya berpulang. Saya memang tidak dimintai tolong oleh yang bersangkutan untuk turut menghantarkannya sampai rumahnya yang beda provinsi, tapi teman-teman yang lain meminta pendapat sama saya “bagaimana pak, apakah kita temani dia”, saya bisa saja bilang “besok saya ada kuliah” atau saya sedang tidak enak badan. Tapi karena saya anggap dia “teman”, saya bilang saja, “ya boleh deh kita temani dia”. Akhirnya kami berempat “membelah” Sulawesi dari jam satu malam, hingga jam 12 siang dengan jalanan Sulawesi yang berliuk dan menguras isi perut  saya karena mabok darat. Menemani dia yang tengah berduka, menghantarkan mendiang ayahandanya ke liang lahat, menginap beberapa hari di rumahnya dan meninggalkan dia setelah dia pulih. Apakah Ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik” dia tidak mengingat ini.

Kami masih berkawan, masih sering bercanda, masih sering jalan bareng dengan sirkel yang lain. Sampai suatu ketika, dirayakanlah ulang tahunnya di rumah saya dengan acara tiup lilin dan kejutan ala-ala anak muda yang lain. Saya senang rumah saya dijadikan tempat untuk membina pertemanan dan kisah cinta anggota sirkel pertemanan. Walaupun dia pernah update status “rumah hasil sumbangan dari mertua dan suami tipikal mokondo karena gaji istri lebih besar” tidak apa-apa sampai kemudian dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik” apakah dia tidak mengingat acara ulang tahun bertiup lilin dan sorak sorai sirkel ini.

Kami masih berteman, masih sering kirim DM lelucon seksual di Instagram, masih sering ngongkrong bareng. Suatu ketika, dia pernah minta tolong untuk menghapus foto-foto nongkrong kami di Instagram, katanya takut mantannya kepo dan mencari-cari tahu tentang dirinya di akun Instagram saya. Hal yang remeh untuk saya kabulkan permintaannya dengan mengarsipkan foto-foto kenangan perjalanan kami. Kemudian dia minta tolong lagi untuk saya bantu dia perbaiki tablet adiknya yang rusak. Karena kebetulan saya di Jakarta, saya rela-rela bawa mobil macet-macetan dari Cakung hingga Cempaka Putih untuk membawa tablet itu ke authorized service centre, untuk diperbaiki. Saya rela-rela juga datang lagi seminggu kemudian untuk mengambil dan mengirimkannya ke Sulawesi. Saya lakukan ini karena merasa kami teman. Apakah dia mengingat ini ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik”.

Kami masih berteman, masih sering melempar jokes di group whatsapp. Saya menjadi saksi bagaimana dua insan saling mencintai ini saling mencari tahu pasangannya melalui saya, tempat bertanya tentang masing-masing karakter dsb. Hingga dalam perjalanannya mereka kemudian menikah dan mengundang kami semua dalam sirkelnya untuk datang ke pernikahannya. Saya rela-rela membelah Sulawesi, untuk hadir di pernikahannya. Pernikahan yang tidak ada satupun teman fakultasnya hadir, hanya kami, teman satu sirkelnya yang hadir. Saya juga rela-rela, untuk kemudian diminta untuk jadi rombongan keluarga dari mempelai laki-laki. Memang kami tidak diminta oleh mempelai laki-laki, tapi mempelai Perempuan meminta kami jadi rombongan karena rombongan laki-laki sangat sedikit. Kami melakukan itu nyata-nyata karena kami sebagai teman. Apakah dia mengingat ini ketika dia mengatakan “emang dia siapa? Prestasinya apa? Posisinya apa? Bilang sama temanmu, taik”.

Layaknya kehidupan pasti ada yang berubah. Perubahan itu bermula ketika pasangan ini memiliki putri cantik. Kami satu sirkel sangat senang dengan berita ini. Mereka secara nyata memperlihatkan dongeng kehidupan yang nyata. Hingga suatu masa mobil hitam dengan palet merah di sisi mobil itu sering sekali datang  untuk menitipkan bayinya di rumah teman, mobil itu wara wiri di samping rumah yang menjadi saksi bisu ulang tahun potong kue penuh kejutan. Sebagai pemilik rumah sering sekali menyaksikan mobil itu lewat sambil menyiram tanaman tapi sedikitpun tidak pernah terdengar klakson mobil atau sapaan jendela terbuka dari mobil itu. Mungkin sibuk dan tidak ngeh saya ada di kebun. Ujarku dalam hati. Dua tiga kali juga ketemu di Alfamidi, tapi mereka terkesan menjauh dan menghindar. Ya gak papa, orang boleh kok berganti teman, saya tetap menyapa.

Saya mulai mengambil sikap untuk tidak terlalu dekat. Tidak lagi mengajak ke pertemuan-pertemuan sirkel kami. Mungkin mereka merasa, saya menjauh, si pria mulai tuh mencoba berbasa basi, itupun dilakukan di ruang, dimana itu tempat saya kerja. Gak mungkin dia tidak berbasa basi. Tapi saya sudah berjanji untuk menjaga jarak, saya diamkan. Ego dia sebagai golden boy tersayat. Emosinya meledak, hingga suatu ketika, mereka berkata dalam suatu acara idul adha di rumah teman “kami sudah tidak berteman lagi dengan Pak Saomi”. Suatu ucapan yang membuat saya semakin membekukan hati, menutup rapat pintu social media dan oke, inikah yang mereka inginkan.

Silent treatment yang saya lakukan ternyata memanaskan ego sang golden boy ke level mendidih. Puncaknya dalam suatu acara yang saya memang tidak diundang, karena ada upaya teman-teman untuk mencairkan suasana, dia dengan terang-terangan mengatakan “emang dia siapa, prestasinya apa, posisinya apa, bilangin tuh sama temanmu, taik”. Suatu ucapan yang kemudian membuat saya ingin menjawab dengan kebenaran pahit. Emang dia siapa? Saya temanmu, yang ikut menghantarkan bapakmu hingga ke peristirahatan terakhir, saya temanmu yang menghantarkan dirimu ke pelaminan, saya temanmu yang rela perbaiki tablet adikmu ke tempat servis, saya juga yang rela membuang kotoran kucing punya adikmu. Emang prestasinya apa? Saya orang biasa, yang masih berproses menjadi lebih baik dari sisi karir dan pekerjaan. Emang posisinya apa? Saya pemilik rumah yang menjadi saksi bisu ulang tahun potong kue penuh kejutan, saya pemilik honda beat karbu yang menjemputmu sepulangmu dari rumah istrimu. Jawaban itu tidak saya ungkap secara publik, cukup saya bilang “biarkan sajalah, let the karma do the work”.

]]>
https://saumiere.com/let-the-karma-do-the-work/feed/ 0
Numbers Cant Lie and Money Can Speak https://saumiere.com/numbers-cant-lie-and-money-can-speak/ https://saumiere.com/numbers-cant-lie-and-money-can-speak/#respond Sun, 12 May 2024 16:33:46 +0000 https://saumiere.com/?p=2626 It was a long day when my wife suddenly asked me to have fine dining in one of the fancy restaurants in Jakarta. They named it Osteria Gia, which means “Gia restaurant” in Italian. It is located in Plaza Indonesia, a high-caliber mall frequented by high-profile Jakartans, including celebrities, politicians, government officials, and expatriates. I ordered Ravioli Cacio e Pepe while my wife had some pasta that I cannot recall. The ravioli and pasta were delicious, but the bill was very high. We don’t mind paying that much because the restaurant doesn’t judge people by their looks. Even when you misspell the menu, the waitress always smiles, is friendly, and is supportive, and she always says, “Excellent choice.” I had difficulty finding this level of service when I visited some “b-class” restaurants.

The price is a filter in and of itself. The eatery knows that when someone enters a posh restaurant, the price is already considered, so they must have a lot of cash, regardless of their attire or vehicle. The server will greet you with a smile and offer more drinks or refills, and occasionally the chef will come out to ask about the flavor. This type of restaurant provided you with an experience in addition to taste and appearance. The price itself is essentially the interior design, menu, taste, staff friendliness, aroma, and everything else that embodies the experience.

We have recently been hearing discussions about the best school for our daughter, Sara. This year, she turns four, and we have to take her to school since she needs a friend and regular activities to advance her social and sensory development. Since we aren’t wealthy, we don’t really have many options, yet we still have some. We do, however, take into account factors including the school’s worth, program, location, and cost.

There is one institution where the monthly tuition exceeds my income. Although my wife had some concerns about “the networking” that Sara will eventually acquire, I was the one who recommended that I forgo such alternatives. Nevertheless, I do not like that particular school. I attended both public and private schools during my upbringing, and in Indonesia, public education is generally superior to private education—with the exception of a few affluent private schools that use Cambridge curricula. Therefore, even though Sara is the greatest student in their class, I have no issue with her attending some middle-class schools.

From what I’ve said before regarding the restaurant, I understand that money speaks, just like price, and that statistics don’t lie. I know that the top universities in this nation usually have high tuition; in the past, they had low tuition, but even then, their costs were unaffordable for most middle-class families. Assume that the best school’s environment and surroundings differ from “b” school’s, particularly in terms of accessibility, socioeconomic status, and facilities. However, since not everyone is able to inherit from Bernard Arnault, all I can do is carefully select Sara’s best school, keeping in mind that we may be able to transfer her to a private institution in the future.

]]>
https://saumiere.com/numbers-cant-lie-and-money-can-speak/feed/ 0
You Didn’t Come This Far to Only Come This Far https://saumiere.com/you-didnt-come-this-far-to-only-come-this-far/ https://saumiere.com/you-didnt-come-this-far-to-only-come-this-far/#respond Thu, 13 Jul 2023 08:29:46 +0000 https://saumiere.com/?p=2486 Sebuah teks masuk dalam aplikasi pesan instan, isinya memberi tahu saya mengenai apabila ada sebuah pesan bernada ancaman maupun tekanan dalam pekerjaan maka abaikan saja. Saya berterima kasih atas nasehat itu, namun jauh-jauh hari saya sudah bertekad dalam hati, I will ignore all sort of thing drama-drama tidak jelas.

Bermula dari penolakan saya akan tawaran menjadi anggota sebuah tim kendali mutu di universitas, berbagai telp dan bahkan ajakan masuk ke sebuah grup serta yang paling parah, sebuah SK Rektor yang mal administrasi dan cacat hukum telah memasukkan saya secara paksa untuk menjadi anggota tim kendali mutu. Ada apa sih ini dengan kampus, mengapa ada pergantian anggota secara mendadak ditengah proses akreditasi. Mencoba berpikir positif, mungkin memang sudah saatnya regenerasi, pikiran sebaliknya, ini adalah proses cuci tangan, yang pasti saya tidak mau menjadi agen cuci piring.

Saya pun juga terpaksa akan berprinsip sama, kekeuh dengan pendirian, tidak akan mau menjadi agen cuci piring pekerjaan orang lain. Keputusan ini tentu mengandung buntut konsekuensi yang panjang. Mulai dari eks komuni, pembatasan akses, hingga pembegalan karir. Pernahkah saya memikirkan hal ini? Absolutely, saya sudah memikirkan, dan bahkan jauh jauh hari saya sudah pernah memikirkan hal ini, bahkan sebelum saya berkarir sebagai abdi negara.

I have come this far bukan berarti kemudian tanpa ada pengalaman, tanpa ada cerita atau latar belakang terlebih dahulu. Saya mafhum, sebagai orang yang sudah berkarir sejak tahun 2010 di dunia akademik dan professional, baik di instansi pemerintah maupun swasta, pasti akan ada yang namanya pembegalan karir, pasti akan ada yang namanya pembunuhan karakter, dan lain sebagainya. Saya sudah pernah mengalaminya keberkian kalinya. Tapi apakah itu kemudian menghentikan langkah dan mematikan kehidupan saya? Buktinya Im here, saya masih berdiri di sini, masih berkarir sebagai Dosen PNS di PTN.

Saya pernah merasakan yang namanya eks komuni, alias dikucilkan oleh kolega, teman-teman dan bahkan oleh keluarga sendiri. Tapi apakah kemudian kehidupan saya lalu berhenti begitu saja, enggak, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Kehidupan akan menemukan jalan keseimbangannya sendiri. Jadi saya sudah pada tahap, everything is going to be alright, don’t be afraid, lakukan saja apa yang saya mampu kerjakan, memberikan kontribusi yang positif, sisanya serahkan pada proses yang berjalan.

Saya masih ingat betul sewaktu saya SMA, pernah dikucilkan oleh teman-teman saya sendiri, hasil karya saya diinjak-injak, saya dijauhi dan bahkan karir organisasi saya di begal, dibonsai agar saya tumbuh kerdil. Saya masih ingat juga bagaimana pesta pernikahan saya di boikot oleh keluarga besar hanya karena perkara undangan. Saya dibicarakan sedemikian rupa, dijelek jelekkan sedemikian rupa. Tapi kembali lagi kehidupan akan menemukan jalan keseimbangannya sendiri.

Saya pernah juga ditekan sedemikian rupa, ditempa oleh karakter-karakter orang yang bisa dikatakan memiliki jiwa psikopat didalamnya, sampai pernah stress, depresi dan kemudian jatuh sakit di badan. Tapi apa kemudian saya menjadi pesakitan dan lalu mengalami gangguan kejiwaan. Untuk saat ini tidak, dan semoga, tulisan-tulisan ini menjadi penyalur energi negatif tersebut sehingga tidak menjadi penyakit dan gangguan kejiwaan di masa mendatang. Kita selalu memiliki pilihan dalam hidup. Take it or leave it,

Pengalaman-pengalaman itu seperti tidak bisa dihapus dari memori. Bagaimana saya diancam SP oleh Kasubdiv, dan bahkan diancam pecat oleh Dekan pernah saya rasakan, jadi ancaman-ancaman yang kemudian datang belakangan seperti terasa ringan. I have been through it. Pilihan itu akan selalu ada, berdamai dengan cara sendiri, konfrontasi atau berdialog adalah pilihan-pilihan yang bisa dilakukan jikalau memang perlu melakukan itu.

So, I didn’t come this far to only come this far, artinya adalah, saya sudah sejauh ini dalam menjalani hidup, mengorbankan banyak pilihan, meninggalkan orang-orang tersayang di luar pulau, mengorbankan jaringan dan pekerjaan yang sudah mapan, dengan beragam pengalaman pahit getir yang sudah dilalui, untuk apa kemudian menjadi kecut dan ciut hanya karena ancaman orang-orang berjiwa kerdil yang pengalamannya belum tentu seperti yang saya rasakan. So, I just want to say, good bye to drama-drama tidak penting. Keep calm, because after every storm there is a rainbow.

]]>
https://saumiere.com/you-didnt-come-this-far-to-only-come-this-far/feed/ 0
The Devil Wears Prada, Pentingnya Kesehatan Mental https://saumiere.com/the-devil-wears-adidas-catatan-pentingnya-kesehatan-mental/ https://saumiere.com/the-devil-wears-adidas-catatan-pentingnya-kesehatan-mental/#respond Sun, 27 Nov 2022 04:44:21 +0000 https://saumiere.com/?p=2190 Salah satu mantan kadiv saya mengirimi ucapan selamat atas terseleksinya saya sebagai cpns di lingkungan Kementerian Pendidikan. Saya hanya bisa membalas ucapan terima kasih, padahal masih terngiang betul dia mengatakan “apa urusannya Saomi ikut rapat” atau ucapan merendahkan seperti “otaknya Saomi ngebul” “Saomi gak produktif” dan ucapan mementahkan mental lainnya. Memang ya success is the best revenge. Sampai sekarang permintaan pertemanan di facebook dan permintaan connect di LinkedIn tidak saya approve.

Saya menamainya “the devil wears adidas”, terinspirasi dari film The Devil Wears Prada, bosnya Andrea Sachs yang selalu memakai sepatu Prada, kasubdiv saya seorang wanita yang belum menikah di usianya yang lebih dari 45 tahun, selalu menggunakan pakaian sportynya bermerek adidas, foto profil sosial medianya menampilkan sepatu adidas kesayangannya. Bahkan semua perhiasannya emas putih, arlojinya bermerek fossil atau esprit.

Ada suatu masa dimana saya ke kantor seperti tidak bergairah, semua mata memandang ke saya seakan saya adalah orang paling bersalah, saya dikasihani, beberapa datang ke saya mengatakan “sabar ya memang dia orangnya sensitif”. Masih ingat betul teman kantor mengatakan “tetap tenang, don’t crack under pressure” ketika saya betul-betul sedang dalam masa krisis hebat. Saya diancam akan di SP, akan dilaporkan ke direktur, dan bahkan ketika saya mengajukan diri untuk dimutasi, dengan marahnya dia akan menahan saya selamanya di subdivisi dia. Seakan dia memiliki kuasa hebat.

Saya tahu saya akan bermasalah ketika dengan gampangnya saya “jalan-jalan sendirian di kota Solo” dimana seharusnya saya sedang dalam “perjalanan dinas”, walaupun jalan-jalan saya dilakukan di jam-jam selesai dinas, semakin kerasa lagi ketika untuk kedua kalinya saya makan malam sendiri ketika tim sedang makan-makan bersama, lebih parah lagi saya tidak ikut “gladi resik”, membuat bos saya marah dengan caranya sendiri. Mengkorek detil kesalahan saya yang diperbuat dengan bumbu bumbu drama yang tidak perlu.

Perjalanan karir selama sepuluh tahun lebih memberi sinyal bahwa ada masalah personal antara saya dan bos saya. Ketika semua pekerjaan saya tidak beres, dan bahkan cenderung selalu salah. Ketika saya diperlakukan berbeda dalam hal izin dan keterlambatan, atau ketika terjadi penekanan dalam hal-hal kesalahan yang saya perbuat di ruang percakapan grup chat kantor, sinyal-sinyal ini secara tegas menerangkan bahwa bos saya marah dengan caranya sendiri, saya tidak disukai dan cenderung dibenci.

As a man, saya diajarkan untuk berjalan tegap, tidak komplain dan tetap menunjukkan diri sebaik mungkin ketika dihadapkan pada suatu masalah. Oleh karenanya saya terus bekerja walaupun mengalami perlakuan sinis, unfair, dan cenderung didiskriminasi. Saya memperbaiki kesalahan saya dengan cara datang paling pagi, jam 7 pagi saya sudah datang ke kantor, hasil pekerjaan saya lebih dari empat kali saya cek dan perbaiki betul-betul untuk mendapatkan hasil “zero mistake”. Tapi apalah daya, peribahasa mengatakan “gajah dipelupuk mata tidak tampak, semut di seberang samudra terlihat” yang artinya kalau orang sudah tidak suka, maka kesalahan sekecil dan seremeh apapun akan jadi besar dan fatal, sementara kalau disukai, kesalahan fatal dan berulang akan diabaikan.

Perlakuan itu terus menerus berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Satu bulan pertama saya memperbaiki diri secara konstan dan kontinyu. Bulan kedua dan ketiga saya sudah mulai kena mental, tanda-tandanya saya sudah mulai nerveous terhadap hasil pekerjaan saya, saya tidak lagi memiliki confidence yang cukup untuk berbicara dengan cara meyakinkan. Puncaknya, saya membuat kesalahan yang sebenarnya sudah dicek dan sudah diparaf oleh ‘the devil’ itu sendiri, yang membuat ‘the devil’ murka dan mengancam akan meng ‘sp’ kan saya, ancaman itu berlangsung di jam 12 malam, saat saya sedang bersiap tidur. Suatu perilaku yang membuat saya kemudian berkata, ‘enough is enough’. Istri saya bahkan sampai kaget bahwa perilaku atasan saya tersebut sudah melewati batas.

Dari sana saya kemudian memutuskan untuk berani dan mulai speak up, saya mulai membuka diri kepada rekan-rekan kerja yang lain, membuat coping mechanism saya bekerja. Ada kalanya saya membuat perlawanan dengan memutuskan untuk break sehari alias madol karena efek ancaman-ancaman psikis yang nyata-nyata membuat asam lambung naik. Saya berani speak up ke manajemen dengan membawa-bawa bukti, bahkan berani berbicara dengan direktur untuk masalah-masalah drama recehan seorang wanita tua gak laku.

Saya bahkan berani berbicara dengan the devil itself, memutuskan bahwa mutasi kepegawaian adalah solusi terbaik daripada saya dan dia tidak bisa berdamai dengan cara-cara profesional. Saya selalu bilang, saya ada salah silakan koreksi, silakan marahi, tapi jangan menyiksa mental saya hingga tiga bulan, itu merusak stabiltas mental. Akhirnya sang devil yang selalu memakai adidas itu murka dan berjanji akan memenjarakan saya di subdivisinya selamanya.

Aksi ini membuat drama kantor panas, orang-orang mulai mendekat dan menyampaikan simpati, tidak sedikit yang memandang tatapan sinis dan banyak juga yang memandang tatapan penuh iba. Bagi saya tidak masalah, yang terpenting adalah kesehatan mental. Saya selalu mempropose mutasi adalah solusi yang baik kepada kolega, manajemen dan bahkan direksi. Proposal itu berbuah manis, saya bebas dari wanita busuk itu, saya dimutasi ke bagian yang lebih baik dengan jabatan dan profesi yang tidak receh. Bye bye The Devil Wears Adidas, ancamanmu tidak laku seperti dirimu yang tidak laku.

Silver Linings on Mental Health

Im writing this as a coping mechanism, melepaskan semua amarah dan juga dendam atas perlakuan tidak adil yang pernah saya terima. Ini penting supaya kesehatan mental dan fisik saya terjaga. Bagi yang menganggap kesehatan mental adalah isu receh, sebetulnya salah besar. Pressure tinggi yang mengakibatkan seseorang stress dengan efek eating disorder dan bahkan hingga penyakit lambung adalah warning bahwa kesehatan mental sangat penting dan tidak bisa diremehkan.

Dalam banyak hal, saya memang terkesan “quit”, tapi sejujurnya pilihan-pilihan saya didasarkan pada alasan yang lebih penting daripada sekadar uang ataupun yang lain. Kesehatan fisik dan mental, keseimbangan mind, body and soul adalah jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan segepok uang banyak tapi kemudian mengalami mental corrupt yang acute. Ingat, mental yang korup akan terbawa dalam perilaku keseharian, pola pikir, dan sudut pandang, yang pada akhirnya akan berakhir pada bagaimana anda memperlakukan keluarga dan orang-orang yang anda sayangi.

Selamat Hari Kesehatan Mental se Dunia.

]]>
https://saumiere.com/the-devil-wears-adidas-catatan-pentingnya-kesehatan-mental/feed/ 0
Let The Dog Bark, They Bark at What They Don’t Know https://saumiere.com/let-the-dog-bark-they-bark-at-what-they-dont-know/ https://saumiere.com/let-the-dog-bark-they-bark-at-what-they-dont-know/#respond Tue, 16 Aug 2022 12:19:35 +0000 https://saumiere.com/?p=2154 Saya sedang makan malam bersama dengan beberapa kolega ketika salah satu teman berujar “kalau pak saomi sering bu ke luar negeri”, tentu saya kaget, darimana dia bisa berujar begitu? katanya dia melihat dari facebook saya, padahal saya belum berteman dengan dia di facebook. Pun ketika seorang teman lain mengatakan kalau saya adalah diplomat, sering jalan ke luar negeri. Dia pun berujar seperti itu karena melihat beberapa postingan saya di facebook. Entah itu sekadar memuji atau mencibir, tidak ada yang tahu, niat saya memposting adalah sekadar menyimpan memori indah di dunia maya, bukan untuk pamer apalagi pencitraan.

]]>
https://saumiere.com/let-the-dog-bark-they-bark-at-what-they-dont-know/feed/ 0
Don’t Tell People Your Plans, Show Them Your Result https://saumiere.com/dont-tell-people-your-plans-show-them-your-result/ https://saumiere.com/dont-tell-people-your-plans-show-them-your-result/#respond Wed, 06 Apr 2022 13:09:47 +0000 https://saumiere.com/?p=2085 “nyong ta ora pingin gembar gembor” kata Saliem, sepupu penulis dalam suatu acara munggahan. Tahun lalu di usia dia yang sudah 35 tahun, Saliem resmi menjadi sarjana. Suatu pencapaian yang bisa dibilang tidak mudah bagi dirinya yang memiliki latar belakang kehidupan yang rumit. Penulis terkejut, bukan karena kemampuannya menjadi sarjana, tapi karena kemampuannya menyimpan rapat-rapat rencana dan berita bahagia ini, bahkan bisa dibilang tidak ada yang tahu.

Sepupu penulis kemudian bercerita tidak mau mengulangi kejadian yang dulu, ketika rencananya mau membeli rumah di Ciseeng, Bogor tersebar luas hingga ke dunia maya. Beberapa keluarga sudah mengaminkan, video survey rumah sudah tersebar, bahkan dokumen-dokumen akad sudah difoto dan disebar di grup whatsapp keluarga. Tapi apalah daya, ikhtiarnya belum berhasil, proses pengajuan kreditnya sudah didahului orang. Mau ditaruh dimana muka sepupu penulis ketika rencana sudah diaminkan, proses survey sudah tersebar luas, malah gagal. Belajar dari situ, Saliem, sepupu penulis tidak mau lagi gembar gembor.

Lain cerita, dalam sebuah arisan keluarga besar, salah seorang anggota keluarga membeberkan rencana-rencana keluarga inti penulis kepada keluarga besar yang lain. Emak yang mendengar itu langsung berujar “wis aja ngomong-ngomong kuwe” yang lalu ditanggapi dengan omongan “gari diamini koh, didongakna wong akeh” kata salah seorang anggota keluarga waktu itu, penulis yang mendengar omongan itu cukup marah, bukan karena tidak mau di doakan, tapi kita tidak pernah tahu mana doa yang tulus ikhlas, mana doa palsu penuh iri dengki.

Lebih jauh lagi, penulis takut rencana itu kemudian gagal berantakan dan berubah menjadi rasa malu. Ada pengalaman yang kemudian menjadi bahan ibrah bagi penulis untuk merahasiakan rencana dari siapapun. Pamali kalau kemudian kita sudah sesumbar tapi kemudian gagal.

Waktu itu, penulis sedang membimbing mahasiswa ketika sebuah pesan teks masuk, melihat id pengirim VFS, salah satu pusat pengurusan VISA luar negeri di Indonesia, penulis langsung membuka pesan. Isinya memberi tahu jikalau passport penulis sudah bisa diambil. Setelah menyudahi bimbingan, penulis mengajak kolega lain yang juga mengurus visa untuk segera datang ke Kuningan City, tempat VFS berkantor.

Sesampai di VFS, penulis segera membuka amplop yang berisikan passport dan sepucuk surat seraya berharap pengajuan visa ke Jerman sudah tertempel. Alangkah mencelosnya hati ini ketika passport penulis masih bersih, halaman yang seharusnya tertempel visa Schengen, kosong melompong. Isi suratnya jauh membuat kami galau, tertulis alasan kami ke Jerman belum jelas, belum memiliki itinerary dan segudang alasan lain.

Kecewa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, kami melangkahkan kaki ke kafe terdekat. Sembari menyesap kopi, kegalauan kami bukannya hilang malah bertambah. Walaupun sudah dibilang, tidak apa-apa yang penting sudah berusaha, tapi tetap saja, rencana yang gagal itu pedih, penolakan itu menyakitkan. Tambah perih lagi memikirkan apa kata orang nanti. Rencana keberangkatan kami ke Jerman sudah disampaikan dalam sebuah rapat pimpinan. Akan ditaruh dimana muka kami ketika kami pulang dan lalu kabar beredar kalau kami tidak jadi berangkat ke Jerman.

Aih, sebenarnya penulis sempat kecewa ketika mengetahui bahwa pimpinan rombongan kami, memberi tahukan di dalam sebuah rapat, bahwa kami berempat akan ke Jerman, padahal itu masih sebatas rencana, visa juga belum ada di tangan. Pada waktu itu penulis takut sekali jikalau rencana ini tidak berhasil, karena keburu digembar-gemborkan oleh banyak pihak. Alhasil seperti dugaan penulis, keberangkatan ke Jerman pun dibatalkan. Dengan ditolaknya visa kami, ketakutan penulis menjadi kenyataan.

Berawal dari sanalah kemudian, penulis berjanji untuk menjaga serat kekancingan dalem, alias menjaga serapat mungkin rahasia-rahasia keluarga dan rencana-rencana pribadi kepada teman-teman maupun keluarga. Bukannya tidak mau berbagi, tapi lebih dari upaya untuk menjaga hati, baik diri sendiri maupun orang lain. Menjaga hati diri sendiri dari rasa kecewa dan malu, menjaga hati orang lain dari rasa hasad, iri dan dengki.

Rencana-rencana indahmu bisa jadi diaminkan oleh banyak orang, tapi siapa berani menjamin semuanya tulus ikhlas, bisa jadi malah mendoakan sebaliknya

Saomi Rizqiyanto

Penulis selalu mengatakan “things are easy, people are difficult” tidak ada hal yang lebih sulit daripada menerka hati manusia. Rencana-rencana indahmu bisa jadi diaminkan oleh banyak orang, tapi dari banyak orang itu, siapa yang berani menjamin semuanya tulus ikhlas, bisa jadi bibir mengamini, hati mendoakan sebaliknya. Kalau kata emak “badti dienjepi tok”.

]]>
https://saumiere.com/dont-tell-people-your-plans-show-them-your-result/feed/ 0
I Have Been Thinking “The Tale of a Debt” https://saumiere.com/i-have-been-thinking-the-tale-of-a-debt/ https://saumiere.com/i-have-been-thinking-the-tale-of-a-debt/#respond Fri, 28 Jan 2022 09:31:18 +0000 https://saumiere.com/?p=1978

Kapitalisme modern menghasilkan dua hal, kesejahteraan dan iri hati kata Morgan Housel. Bagi yang iri hati, akan bekerja keras agar mampu melampaui atau menyamai kekayaan, rekannya satu kandung.

Morgan Housel

Ada suatu kisah dan nasehat yang saya selalu dengar dan perhatikan dari emak, bahwa dulu bibi emak, Bibi Mahbubah adalah orang yang meninggal dengan mewariskan banyak hutang, akhirnya tetangga, kenalan maupun siapapun yang bibi hutangi, datang satu persatu ke rumah dan mengambil harta yang ada di rumah untuk menutupi hutang-hutangnya. Emak mengatakan ‘hartanya jadi rampasan’ karena banyak yang mengambil isi rumah. Kejadian itu dilihat langsung oleh mata kepala emak sendiri, hingga akhirnya Emak bertekad untuk tidak pernah berhutang dan mengajarkan anak dan adik-adiknya untuk tidak berhutang. 

]]>
https://saumiere.com/i-have-been-thinking-the-tale-of-a-debt/feed/ 0
When I Face Hard Choices https://saumiere.com/when-i-face-hard-choices/ https://saumiere.com/when-i-face-hard-choices/#respond Sun, 09 Jan 2022 13:41:03 +0000 https://saumiere.com/?p=1968 All of us face hard choices in our lives, Life is about making such choices. Our choices and how we handle them shape the people we become – Hillary Rodham Clinton

Saya dan keluarga sedang menikmati hidangan sushi pada minggu sore di tahun baru, 1 Januari 2022, ketika jari-jemari ini yang memang tidak sabar menunggu pengumuman hasil akhir seleksi CPNS di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mendadak berhenti pada pengumuman teranyar pada laman cpns kemdikbud. Hasil integrasi nilai SKD dan SKB pada laman tersebut menjelaskan bahwa saya dinyatakan lulus cpns tahun ini, pengumuman yang membuat hati ini berdetak kuat sekaligus meninggalkan lubang yang besar, menyisakan pilihan besar yang harus dipilih.

]]>
https://saumiere.com/when-i-face-hard-choices/feed/ 0
What should I do? Apa yang Harus Dilakukan Ketika Terkena Covid 19 https://saumiere.com/what-should-i-do-apa-yang-harus-dilakukan-ketika-terkena-covid-19/ https://saumiere.com/what-should-i-do-apa-yang-harus-dilakukan-ketika-terkena-covid-19/#respond Tue, 29 Jun 2021 07:19:18 +0000 https://saumiere.com/?p=1909 Jumat itu penulis sudah merasa tidak enak badan, lemas sekali, namun masih bisa mencium minyak telon anak, dan masih bisa merasakan makanan dengan lezat. Sabtu dan minggu saya istirahat di rumah, benar-benar tidak kemana-mana hanya mengantarkan si kecil ke klinik bidan karena jadwalnya imunisasi. Seninnya saya merasa kewalahan karena lemasnya belum juga hilang, tapi saya merasa aneh, saya tidak bisa mencium bau secangkir kopi. Untungnya di klinik kantor disediakan test antigen, saya langsung cek dan qadarullah, saya reaktif. Langsung tanpa diminta, saya tidak pulang ke rumah melainkan ke kamar apartemen, dan melakukan isolasi. Selasa, 8 Juni 2021 saya PCR dan dinyatakan positive Covid 19. What should I do?

]]>
https://saumiere.com/what-should-i-do-apa-yang-harus-dilakukan-ketika-terkena-covid-19/feed/ 0
Its Not How Good You Are, Its How Good You Want To Be https://saumiere.com/its-not-how-good-you-are-its-how-good-you-want-to-be/ https://saumiere.com/its-not-how-good-you-are-its-how-good-you-want-to-be/#respond Sat, 01 Aug 2020 07:05:10 +0000 https://saumiere.com/?p=1501 Guru saya, Ust Ruslan Fariadi, anggota majelis tarjih PWM Jogjakarta, pernah mengatakan hidup harus bisa membenturkan idealisme dengan realitas, pendeknya harus bisa berkompromi. Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa hasrat untuk bisa sempurna terkadang bisa menyakiti hati seseorang dan itu adalah penanda waktu untuk segera melakukan evaluasi.

Di jagat raya Amerika, tepatnya California, seorang produser, artis dan juga pembawa acara paling laris saat ini, Ellen DeGeneres sedang dirundung masalah. Beberapa staf nya melaporkan bahwa pertunjukan Ellen Show yang menampilkan “kebaikan dan kemurahan hati” adalah kepalsuan, Ellen dilaporkan bersikap culas dan beberapa eksekutif produsernya dikabarkan melakukan tindakan rasis dan sarkatis ke beberapa pegawai.

Setelah berminggu-minggu didera laporan yang merusak citra pertunjukan akhirnya Ellen membuat klarifikasi dan berjanji akan memperbaiki semua tindakan yang dilakukan oleh dirinya dan pegawai senior di kantornya. Walaupun banyak pegawai dan mayoritas pembaca berkomentar bahwa begitulah dunia kerja, apa yang Ellen kerjakan adalah upaya untuk membuat Ellen Show tetap berjalan.

Di negara yang sama namun beda kota, Sillicon Valley, pencipta teknologi paling andal se dunia, mendiang Steve Jobs beberapa kali bertengkar dengan petinggi Apple, bahkan pernah bersitegang dengan sesama pendiri Apple, Steve Wozniak. Steve Jobs berkali-kali mengatakan stafnya bodoh dan tidak mengerti apa yang dunia inginkan. Steve Jobs akhirnya dipecat oleh perusahaannya sendiri walaupun akhirnya kembali lagi dengan produk-produk Apple yang legendaris, iPod, iPhone dan iPad.

Apa yang bisa saya pelajari dari dua cerita di atas? Somehow, some people melakukan kompromi untuk bisa berjalan sesuai dengan nilai etika yang ada, sementara ada juga orang yang terus memperjuangkan ambisinya sekali lagi demi sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungannya. Ellen is not wrong dengan melakukan permintaan maaf dan akan melakukan serangkaian perbaikan karena nilai dan etika liberal Hollywood tidak menerima tindakan rasis dan toxic, sementara Steve Jobs juga benar karena dalam dunia teknologi, yang terbaik dan paling andal yang bisa bertahan seiring kompetisi teknologi yang super ketat.

Kenapa saya menulis ini? Beberapa hari yang lalu seorang teman memberi tahu bahwa beberapa kolega merasa tidak nyaman dengan gaya bicara saya saat menguji skripsi yang cenderung nge gas sehingga dipersepsikan merendahkan. Walaupun dalam benak saya, tidak ada niatan untuk merendahkan dan sejatinya apa yang saya lakukan murni untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mulai dari yang remeh sampai dengan yang fatal. Namun ternyata tindakan saya dipersepsikan negatif.

Saya hidup di tengah-tengah nilai di mana mediokritas atau nilai menengah harus dipertahankan, mengikuti peribahasa, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, saya secara pribadi menyesal dan akan mengikuti kebiasaan yang sudah berjalan.

Sebelum tidur, istri saya memberi tahu bahwa its not how good you are, its about how good you want to be. Bukan masalah hasrat dan keinginannya yang salah, tapi mungkin cara penyampaian nya yang cenderung kurang sopan apalagi di komunitas konservatif dan tertutup. Jadi better if I go low and let go the high bar standard. [] ]]> https://saumiere.com/its-not-how-good-you-are-its-how-good-you-want-to-be/feed/ 0