[singlepic id=117 w=320 h=240 float=left]Saya masih berumur belasan tahun ketika diri ini menjadi naïf, asal sesumbar bahwa sesungguhnya saya sangat individualistic. Padahal sejatinya kelakar itu sungguhlah bodoh, kenapa? Karena sebenarnya menjalin pertemanan dengan seseorang itu sangat indah. Mengetahui ada orang-orang disekitar yang mau mendengarkan dan berada disisi kita adalah anugrah bahwa we are not alone. Begitupun dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang kita cintai. Kebanyakan kisah cinta yang saya baca, saya tonton itu terasa sangat indah, ada passion to create something unbelievable, and that is due to by love each other. Oleh karenanya saya juga sangat naïf ketika dengan lantang mengatakan saya memilih jalan hidup celibacy, bahwa saya tidak percaya pada institusi pernikahan.
Kenaifan saya itu sesungguhnya hanya disebabkan karena saya tidak bisa meraih keduanya. I’m crying all night to realize that I was so stupid. Saya tidak punya teman-teman yang tiap hari bisa jalan atau berbagi cerita. Saya tidak mempunyai seseorang, somebody to love yang bisa diajak cerita bersama, atau yang paling praktis, makan siang bareng. No one! Until I always answered to everybody who asking to me about love and friendship, then I said “ I don’t know”. Dalam hal ini, statement saya itu saya anggap sebagai kewajaran.

