Politics & World Affair

There Will Be No Peace
in the Middle East

Written by Saomi Rizqiyanto

KAWASAN Timur Tengah dan Afrika Utara atau dalam terminologi saat ini dikenal dengan istilah MENA (Middle East and North Africa) adalah kawasan yang selalu panas dan berdarah. Sejak pertama kali manusia turun ke bumi hingga detik ini, kawasan di mana tiga agama besar diturunkan selalu penuh dengan konflik dan peperangan yang menyeret kekuatan-kekuatan dunia luar untuk terlibat didalamnya.

Baru baru ini Presiden Joe Biden, pemimpin dunia bebas dan negara adi kuasa merasa dipermalukan ketika misinya meminta Kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyaknya ditolak oleh penguasa de facto KSA Pangeran Mohammed Ben Salman. Peperangan antara US backed Ukraine dan Russia membuat harga komoditi terpenting dunia, minyak naik berlipat ganda, mengakibatkan inflasi tertinggi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Kondisi ini memaksa penguasa negara bebas yang pernah berjanji membuat Saudi Arabia sebagai negara terbuang dalam kampanye pilpres, menelan ludah sendiri. Sudah datang mengemis eh malah di slammed door oleh Ben Salman.

Akankah Ben Salman mendapatkan “hukuman setimpal” akibat perbuatannya. Will see. Padahal dunia sudah menyaksikan, penghinaan Arab Saudi kepada Amerika Serikat akan berbuntut pada pergantian rezim. Seperti pendahulu Ben Salman, Raja Faisal, buyut dari Ben Salman pernah menolak permintaan Henry Kissinger untuk membuka boikot minyak terhadap Amerika Serikat dan sekutu Israel dalam perang Arab Israel 1973.

Pada perang enam hari, sekutu Arab hampir saja memenangkan pertempuran melawan Israel ketika Amerika Serikat datang membantu Israel. Melihat standar ganda AS, Raja Faisal memboikot minyak yang membuat dunia kelimpungan. Walaupun kemudian perang berakhir damai dengan kembalinya Yerussalem ke pangkuan Yordania, nasib Raja Faisal yang pernah dijuluki The Man of The Year oleh TIME berakhir dibunuh oleh kerabat sendiri.

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment