Politics & World Affair

Membendung China ala Amerika

Written by Saomi Rizqiyanto

Senin 23 Mei 2022 menandai kembalinya kebijakan “pivot to asia” Amerika Serikat khususnya di bidang ekonomi. Indo Pacific Economic Framework for Prosperity atau IPEF diluncurkan Presiden Joseph R Biden di Jepang setelah sebelumnya serangkaian “pivot to asia” yang kali ini dibranding melalui “free and open indo pacific” menelurkan berbagai perjanjian multilateral lainnya seperti Quadrilateral Security Dialogue dan AUKUS. Apa maksud dan tujuan daripada perjanjian multilateral perdagangan kali ini? Bukankah Asia Pasifik sudah memiliki APEC dan TPP (CPTPP)

Pertanyaan-pertanyaan serupa juga muncul dalam benak penulis, apakah Asia Pasific genting memerlukan pakta pertahanan sehingga Amerika Serikat membentuk Pakta Pertahanan. Tidak main-main dua pakta pertahanan digagas AS sekaligus, satunya masih sebatas forum dialog (QUAD – beranggotakan Amerika Serikat, Australia, Jepang dan India) satunya lagi tidak kalah mentereng dengan NATO, AUKUS (beranggotakan Australia, Amerika Serikat dan Inggris). Ada apa dengan pergeseran penyebutan Asia Pasifik menjadi Indo Pasifik?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bisa dilihat dari apa yang sebenarnya tengah terjadi di Asia Pasifik. Mengutip John James Mearsheimer, professor ilmu politik di Universitas Chicago, ada rivalitas yang tak terelakkan antara Amerika Serikat dengan China, Inevitable Rivalry (Foreign Affairs 12/21). Dimulai dengan kebangkitan ekonomi China pada paruh kedua abad 21, dimana secara mengejutkan, GDP China berhasil menyalib ekonomi terbesar kedua di dunia, Jepang. Tentu ini membuat barat, khususnya Amerika Serikat terperangah, China yang dulu kumuh dan miskin kini berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia. (Data Bank Dunia)

Kebangkitan China dan Ancaman Hegemoni Amerika

Its only matter of time, kalau kemudian China bisa mengungguli kemampuan ekonomi Amerika, walaupun mungkin banyak yang ragu akan kualitas ekonomi china karena diukur dari sisi pendapatan perkapita warganya masih rendah, tapi dilihat dari struktur GDP dengan cadangan devisa pemegang dollar terbanyak kemudian memiliki surat utang negara Amerika paling banyak, bukan tidak mungkin China bisa mengungguli Amerika.

Mearsheimer bahkan lebih jauh memprediksi China akan mengembangkan hegemoni di Asia melalui kekuatan militer. Jumlah rakyat yang banyak ditambah dengan kemampuan ekonomi yang luar biasa, adalah building block yang sempurna untuk sebuah kekuatan militer. Data Global Fire Power memperlihatkan China memiliki anggaran terbesar kedua setelah Amerika Serikat, secara kekuatan militerpun, China menempati urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Rusia. (Global Fire Power)

Prediksi-prediksi ini mulai tampak nyata ketika China memperlihatkan dominasi bidang ekonomi dengan meluncurkan Belt and Road Initiative. Sebuah program bantuan ekonomi berupa bantuan pembangunan infrastruktur bagi negara-negara Asia, Afrika dan bahkan Pasifik. Program ini walaupun memiliki banyak syarat dan ketentuan, nyatanya banyak diminati oleh negara-negara berkembang karena selain murah, juga turut membantu perkembangan ekonomi negara terkait.

Dominasi bidang militer sudah mulai tampak dalam klaim-klaim China terhadap wilayah yang tadinya masih dalam negosiasi. China sudah mulai meregangkan otot terhadap kepulauan Senkaku/Diayuo yang disengketakan dengan Jepang, di Asia Tenggara, China juga sudah mengeluarkan jurus-jurus untuk mengamankan sembilan garis putus-putus atau Nine Dash Line yang bertabrakan dengan teritori Philipine dan Vietnam di kepulauan Paracel, Malaysia, Brunei di kepulauan Spratly dan Indonesia di kepulauan Natuna.

China yang komunis dengan latar belakangnya yang banyak melakukan pelanggaran HAM seperti penembakan Tiananmen, pemberangusan akitivis Tibet Dalai Lama, kemudian yang baru-baru ini seperti penangkapan aktifis demokrasi Hong Kong, dan kamp konsentrasi muslim Uyghiur, tentu adalah ancaman yang nyata bagi Amerika dan Sekutunya. Bagi Amerika, ini adalah waktunya melakukan pembendungan alias containment.

Doktrin Truman dari Marshall Plan hingga Pembebasan Papua

Paragraph ini cukup kiranya menjawab pertanyaan penulis di atas. Bahwasannya, baik Indo Pacific Economic Framework (IPEF), QUAD dan AUKUS adalah bentuk politik pembendungan Amerika dan Sekutunya di tengah kebangkitan China baik secara ekonomi dan militer yang mengancam pengaruh hegemoni Amerika di Asia Pasifik.

Politik pembendungan mulai dikenal kira-kira pada tahun 1947 ketika Presiden Harry S Truman berbicara di depan Kongres bahwa Amerika harus hadir di tengah negara-negara demokrasi di Eropa dengan memberikan bantuan ekonomi maupun militer agar negaranya tidak jatuh kepada pengaruh Uni Soviet yang komunis. Paket ekonomi bernama Marshall Plan yakni bantuan rekonstruksi diberikan kepada negara-negara yang hancur akibat perang dunia ke II, blok militer NATO juga dibentuk agar memberikan keamanan kepada anggota-anggotanya dari ancaman Uni Soviet.

Doktrin Truman ini juga dipakai Amerika dan Sekutunya di Asia pada tahun-tahun tersebut. Indonesia konon pernah dibantu Amerika dalam merebut tanah Papua dari Belanda, alasannya klasik, agar Indonesia tidak jatuh ke dalam pengaruh komunis.

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment