Business & Economics

Patrick Schwarzeneger dan Pilihan Menjadi Enterpreneur

Written by Saomi Rizqiyanto

Di usianya yang baru 15 tahun, Patrick Schwarzeneger sudah mencuri banyak perhatian, bukan karena parasnya yang rupawan, bukan pula karena dia bersama dengan ayah dan ibunya, tapi karena dia membuka lapak di tengah pedestrian dan menjual kaus. Dia bersama dengan teman-temannya meluncurkan distro Project360 yang menjual berbagai macam pakaian dan aksesori yang sebagian dari hasil penjualannya disumbangkan untuk amal.

Banyak orang mengira, menjadi putra dari aktor terkenal sekaligus gubernur California, Arnold Scwarzeneger dan putra mahkota dari klan Kennedy memiliki banyak keistimewaan. Ia tinggal mengontak beberapa koneksi ayahnya atau koneksi keluarga besar Kennedy maka ia tinggal menjalani hidup yang enak. Tapi Patrick tidak memilih jalan itu, ia memilih jalan yang berbeda atau paling tidak emoh menggunakan koneksi atau priviledge yang dia miliki. Patrick lebih suka menjalani usaha sendiri, mengerjakan semua hal yang dia sukai tanpa bantuan dari kedua orang tuanya.

Hal itu terlihat sewaktu Patrick dan kawan-kawannya meluncurkan Project360, suatu bisnis di bidang fashion yang mendukung bisnis berkelanjutan. Dia membuat banyak t shirt, hoodie maupun aksesoris semisal bracelet dengan kata-kata motivasi yang menggugah banyak orang. Belum lagi hasil dari penjualannya ia donasikan untuk pendidikan maupun pengobatan kanker. Hal itu membuat Patrick menjadi seorang enterpreneur yang jauh dari kehidupan Arnold (aktor dan gubernur dan Maria (aktivis sosial). Walaupun bisa jadi publisitas dari kedatangan Arnold dan Maria dalam peluncuran Project360 mengundang Bloomingdale untuk menawarkan space bagi fashion line Patrick, tapi itu lain cerita.

Begitu juga dengan kontrak Patrick dengan Hudson Jeans yang menjadikan Patrick sebagai model untuk produk celana jeans, maupun Tom Ford yang menjadikan dia model untuk kacamata. Pun dengan kontrak-kontrak lain yang dimiliki Patrick seperti film Midnight Sun atau Daniel isnt Real, semuanya ia dapatkan dengan proses yang tidak mudah.

“orang-orang mengatakan bahwa kamu mendapatkan peran film karena ayah saya, atau kamu bisa berbisnis karena kamu datang dari keluarga kaya atau kamu selalu bangun pagi karena orang tua saya menyuruh saya, padahal saya mengerjakan semua itu sendiri dan saya akan mengerjakannya terus” tutur Patrick dalam wawancaranya di The Times UK.

Untuk membuktikan itu, Patrick bertutur bahwa dia pernah bekerja sebagai intern di supermarket The Groove dan sistem kerjanya rotasi, dimana bisa jadi dia ditempatkan di kasir bisa jadi di tempatkan di gudang, suatu waktu dia dirotasi di bagian security dan dia harus mengawal Paris Hilton, para wartawan sempat terheran heran kenapa dia bekerja sebagai security padahal sebagai anak gubernur dia sudah mendapatkan security. Bosnya sempat memarahi kalau sistem kerja di groove seperti ini, kalau tidak suka Patrick boleh keluar. Tapi Patrick tidak keluar dan mengerjakan tugasnya sebagai anak magang di The Groove dan mengatakan bahwa itu pekerjaan pertama dia yang memberikan banyak hal.

Patrcik sedang melayani pelanggan di Pizza Blaze, salah satu bisnis yang dijalankan oleh Patrick.

Pembuktian itu terus berlanjut hingga akhirnya dia mendefinisikan dirinya sebagai Enterpreneur, seseorang yang mampu mengidentifikasi dan menjalankan bisnis. Sebagai Model dan Aktor, Patrick masih terus menjalaninya namun dia lebih suka mengatakan bahwa dirinya adalah enterpreneur. Dia kuliah mengambil jurusan bisnis di USC dan meirintis banyak usaha. Selain Project360, Patrick juga memiliki Pizza Blade yang menjual Pizza dan kini memiliki 330 franchise di seluruh Amerika. Selain itu Patrick juga berinvestasi pada venture capital yang membesarkan salah satu minuman kopi yang kini sedang naik daun, Super Coffee.

Apa yang membuat Patrick tertarik dengan dunia bisnis, suatu waktu ayahnya memberi nasihat bahwa menjadi aktor terkadang memiliki banyak waktu luang yang terbuang, oleh karenanya Arnold juga berprofesi sebagai insinyur. Patrick menyadari bahwa dalam satu tahun dia bisa mendapatkan satu peran dan satu peran project film bisa menghabiskan 5-6 bulan untuk akting, sisanya dia menyadari harus memiliki banyak kegiatan dan dia mengalihkannya pada bisnis sehingga memiliki aktifitas.

Satu rahasia yang dia jelaskan mengapa bisnis nya meraih sukses, dia mengatakan dalam bisnis, ketika kita dibutuhkan untuk mengepel lantai atau menyajikan pizza, maka kerjakan saja. Kalau usahamu mau maju, kamu harus rela mengerjakan pekerjaan kotor karena disitulah letak bisnismu bekerja.

About the author

Saomi Rizqiyanto

Leave a Comment